banner 468x60

MENELUSURI SOSOK MISTERIUS SUNAN BAYAT[PANDANARAN] KLATEN.

 Regional
banner 468x60
MENELUSURI SOSOK MISTERIUS SUNAN BAYAT[PANDANARAN] KLATEN.

 

Klaten(arwiranews.com) Makam Sunan Tembayat atau Sunan Pandaran yang terletak di Desa Paseban Kecamatan Bayat Kabupaten Klaten Propinsi Jawa Tengah, merupakan tempat tujuan para peziarah terbesar di Kabapaten Klaten, hampir tiap harinya selalu banyak yang berziarah ke makam tersebut baik dari lokalan daerah Klaten maupun dari luar Kabupaten Klaten dari berbagai daerah penjuru wilayah Indonesia.Letak makam Sunan Bayat kurang lebih 12 km dari kota Klaten, makam tersebut berada di sebuah bukit kecil (anakan) di lereng Gunung Jabalkat sebelah timur yang dinamakan Bukit Cakra Kembang. Memasuki lokasi akan melewati sepasang gapura pertama yaitu Gapura Segara Muncar yang di buat dari batu alam, pada kaki gapura terdapat tukisan huruf jawa Murti Sarira Jleging Ratu yang berarti menandai berdirinya gapura tersebut pada tahun 1488 M.
 
 
Selanjutnya di belakangnya terdapat Gapura Dudha yang tidak bisa di lewati para peziarah oleh Dinas Purbakala di buatkan gapura pintu masuk kemudian para peziarah berjalan masuk melalui tangga undhakan berjumlah sekitar 250 undhakan. Sesampai di atas terdapat bangsa luar di peruntukkan bagi peziarah yang ingin istirahat,disebelah bangsal tersebut terdapat gapura namanya Gapura Pangrantunan yang dulu terdapat tempayan yang berisi air untuk mencuci tangan dan kaki sebelum masuk ke makam, tapi oleh Dinas purbakala gapura tersebut tidak di fungsikan lagi. Bagi para peziarah juga di sediakan Bangsal Dalam kalau ingin istirahat. Selanjutnya para peziarah akan melawati Gapura Panemut yang pada kaki gapura sebelah utara terdapat tulisan candra sengkala bertuliskan Wisasa Anata Wisiking Ratu yang artinya tahun 1555 saka atau 1533 M, di sebelah selatan terdapat tulisan tahun 1555.Para peziarah juga akan melewati Gapura Pangrantunan yang bertuliskan tanggal 1 sura tahun 1633 M selesai di bangun oleh Sultan Agung Mataram Hanyokrokusuma setelah menaiki tangga sampailah Regol Sinaga di situ terdapat Gentong Sinaga yang konon waktu itu Syekh Domba mendapatkan tugas dari Sunan Tembayat mengisinya untuk menyediakan untuk air wudhu Sunan Tembayat dan Sunan Kalijaga, kemudian sampai lah masuk bangunan makam utama yang disebut Gedhong Inten tempat di makamkan Sunan Bayat di sebelah timur lautnya ada makan kedua istrinya Nyai Ageng Kaliwungu dan Nyai Ageng Krakitan.
 
 
Adapun di sebelah tenggaranya adalah makam para sahabat yaitu Nyi Ageng Madalem, Pangeran Jiwo, Pangeran Winang, Kali Datuk, Kyai Sabuk Janur, Kyai Banyubiru, Kyai Malanggati, Kyai Penembahan Sumingit Wetan, Kyai Panembahan Masjid Wetan dan Penembahan Kabul.Sunan Tembayat Walisongo PenutupSunan Tembayat atau Sunan Pandanaran ini termasuk anggota Walisongo penutup, penunjukan Sunan Bayat menjadi anggota Walisongo dalam suatu sidang Dewan Walisongo di Masjid Agung Demak untuk menggantikan Syeikh Siti Jenar yang telah mendapat hukuman pati karena mengajar ajaran wahdatul wujud kepada khalayak umum. Usulan tersebut datang Sunan Kalijaga yang kemudian di setujui semua anggota Walisongo. Kebesaran dan keramat Sunan Tembayat tidak hanya di akui di kalangan masyarakat tapi juga oleh pemerintah dari daerah Kabupaten, Propinsi bahkan sampai pusat.
 
 
Terlebih bagi para pejabat Wali Kota/ Bupati Semang selalu mengadakan ziarah ke makam Sunan Bayat karena di anggap leluhurnya yang ikut mendirikan Kabupaten Semarang. Kalangan keraton mulai Pajang sampai Mataram sangat menghormati Makam Sunan Tembayat.Kebesaran Sunan Tembayat sebagai Waliyullah yang keramat dapat di temukan dalam buku Awal Kebangkitan Mataram, Dr.H.J.DE.Graaf yang mengisahkan Sultan Hadiwijaya Pajang yang sehabis kalah perang dengan pasukan Mataram di Prambanan kemudian Sultan Hadiwijaya beserta pasukan Pajang yang tersisa menarik mundur, melawati Bayat, Sultan Hadiwijaya berkeinginan berziarah ke Sunan Bayat tetapi ternyata pintu makam tidak bisa di buka oleh juru kunci makam, mengetahui hal ini Sultan Hadiwijaya mengetahui isyarat bahwa wahyu keraton sudah berpindah tidak ada lagi berpihak pada Sultan Hadiwijaya.Pujangga Besar Raden Ngabehi Ranggawarsito dalam Kitab Wirid Hidayat Djati juga menyebutkan Sunan Tembayat termasuk anggota delapan waliyullah yang di beri kewenangan mengajar wirid dan pelajaran ilmu kesempurnaan (tasawuf) untuk angkatan kedua dan ketiga pada era akhir kerajaan Demak sampai awal kerajaan Pajang. Pada angkatan kedua delapan waliyullah terdiri :
 
1.Sunan Giri Parapen
2.Sunan Derajat
3.Sunan Ngatasangin
4.Sunan Kalijaga
5.Sunan Tembayat
6.Sunan Kalinyamat
7.Sunan Gunung Jati
8.Sunan Kajenar
Kemudian pada angkatan ketiga delapan waliyullah adalah :
1.Sunan Parapen
2.Sunan Derajat
3.Sunan Ngatasangin
4.Sunan Kalijaga
5.Sunan Tembayat
6.Sunan Padusan
7.Sunan Kudus
8.Sunan Geseng
 
Sunan Tembayat pada angkatan kedua dan ketiga tersebut mendapat tugas dari gurunya Sunan Kalijaga memberikan wejangan terkait hal- hal mengenai susunan dalam singgasana Baitul Muharam.Kisah dan legenda Sunan Tembayat atau Sunan Pandanaran begitu kuat melekat di masyarakat Jawa Tengah,yaitu bermula Adipati Pandanaran II yang di wisuda menggantikan Sunan Pandanaran I (Maulana Ibnu Salam), Adipati Pandanaran II mempunyai kepandaian dan keuletan dalam menjalan roda pemerintahan serta mengurus perekonomian Kabupaten Semarang, Adipati tersebut juga memiliki kepandaian berdagang sehingga kemudian jadilah terkaya di Semarang, tapi kemudian muncul tabiat buruknya menjadi orang kikir dan sombong di karenakan kekayaan tersebut pada suat saat kemudian datanglah Sunan Kalijaga datang menemuinya dengan menyamar sebagai tukang rumput untuk menyadarkannya Adipati Pandanaran II yang lalai tersebut.Dalam kisah tersebut Adipati Pandanaran menyadari kesalahannya yang telah terperdaya oleh harta kekayaan sehingga menjadikan diirinya kikir, sombong dan melupakan Tuhannya.
 
 
Adipati Pandaran II ingin menebus kesalahan dengan tekad untuk meninggalkan jabatan Adipati selanjutnya ingin mengabdi menjadi murid Sunan Kalijaga. Sunan Kalijaga menerima permintaan Adipati Pandanaran tetapi dengan 4 syarat yang harus di penuhi yaitu :
1 Segera bertaubat dan meninggalkan keserakahan.
2.Mendirikan masjid yang selalu di iringi bedhuk setiap tiba waktu salat.
3.Membagikan harta kepada sesama umat lebih-lebih pada dhu’afa dan fakir miskin.
4.Menghidupkan lampu di rumah guru (di jabalkat).
 
Setelah bermusyawarah Adipati Pandanaran II dengan keluarga, sang Adipati mengutarakan niatnya yang ingin meletakkan jabatan Adipati kemudian akan berguru pada Sunan Kalijaga di jabalkat maka setelah mendapatkan persetujuan dari keluarga dan sesepuh kadipaten Adipati Pandanaran membagikan harta kekayaannya pada anggota keluarganya dan pada dhu’afa fakir miskin kemudian sambil di ikuti istinya Nyai Ageng Kaliwungu dan anak laki lakinya untuk melakukan perjalanan menujut Jabalkat Bayat Klaten.Selama perjalanan menuju Jabalkat banyak peristiwa penting sehingga Sang Adipati turut memberikan nama nama daerah seperti Salatiga, Boyolali, Jiwo, Wedi dan mendapatkan murid- murud yang setia diantaranya Syekh Domba, Syekh Kewel, Nyai Tasik.Di Bayat Klaten di samping makam Sunan Bayat yang menjadi daya tarik para peziarah juga terdapat makam- makam para murid- murid Sunan Bayat seperti Syeikh Domba, Syeikh Kewel juga makam anak, cucu Sunan Bayat seperti Pangeran Jiwo,Ki Ageng Giring Pangeran Rama dan Pangeran Kajoran. Ada lagi Masjid Golo dan Situs Jabalkat yang dulu tempat Sunan Kalijaga memberikan wejangan-wejangan kepada Sunan Bayat selalu muridnya.
 
Sosok Mesterius Sebenarnya Sunan Tembayat
 
 
Terkait dengan siapa sebenarnya dan asal silsilah tentang Sunan Bayat ternyata terdapat beberapa versi. Versi pertama Sunan Bayat ini adalah Prabu Brawijaya V ini bersumber dari Buku Babad tanah jawa, Versi kedua Sunan Bayat ini adalah Pangeran Joko Supena putra Prabu Brawijaya V ini berdasarkan buku Asal Silahipun Para Nata karya G.R.Ay Bratadingrat, Versi ketiga Sunan Bayat adalah Sayid Khamzah bin Sunan Ampel ini menurut Kitab Suluk Walisana,versi keempat Sunan Bayat ada Sayid Abdul Qodir bin Maulana Ishaq.

BENARKAH SUNAN TEMBAYAT ITU PRABU BHRAWIJAYA V RAJA MAJAPAHIT PAMUNGKAS ATAU BHRE KERTABUMI SEPERTI YANG DI TULIS VERSI BUKU BABAD TANAH JAWA ATAU KAH SEBENARNYA ADA SOSOK LAIN.

Sampai saat ini yang di yakini pihak Pengelola Makam Sunan Tembayat Klaten adalah meyakini bahwa Sunan Tembayat adalah Prabu Brawijaya V Raja Majapahit pamungkas hal ini mendasarkan pada keterangan Buku Babad Tanah jawa, diantaranya bisa di temukan buku Babab Sunan Pandanaran (Sunan Bayat) Susuhunan ing Tembayat,penyusun MSH.Sudarminto, A.Md dkk, penerbit Cempaka Mandiri Offset Semarang, tahun 2016 yang sengaja di sedikan oleh pihak Pengelola makam dijelaskan bahwa Susuhunan Tembayat) ternyata Prabu Bhrawijaya V Raja Majapahit pungkasan.Di kisahkan pada tahun 1478 M Prabu Brawijaya V Raja Majapahit yang waktu pusat Pemerintahannya di Trowulan Mojokerto telah turun tahta karena di serang oleh Girinda wardana yang kemudian tahta Kerajaan di pindahkan ke Kediri bergelarlah Prabu Brawijaya VI yang memerintah tahun 1478-1498 M, kemudian di gantikan Patih Udara yang berkuasa tahun 1498-1518 M.Prabu Brawijaya berhasil meloloskan diri melalui pintu gerbang rahasia hingga menuju puncak Gunung Lawu di ikuti dua permaisuri serta penasehat keraton Sabda Palon dan Noyo Genggong. Prabu Brawijaya V memanggil penjaga Gunung Lawu untuk menyaksikan bahwa beliau telah melepas tahta mahkota dan kebesarannya kemudian berpesan untuk mengatakan bahwa diri telah moksa kalau ada orang bertanya tentang dirinya.Dipuncak Gunung Lawu tersebut terjadi pertemuan antara Sunan Kalijaga dengan Prabu Brawijaya V sebagaimana di lukiskan dalam tembang sinom pada Babat Tanah Jawa. Sunan Kalijaga menasehat Prabu Brawijaya V untuk bersedia memeluk agama Islam, jika Prabu Brawijaya V bersedia memeluk agama Islam maka akan banyak orang jawa yang masuk Islam. Prabu Brawijaya V setelah merenungkan ucapan Sunan Kalijaga kemudian bersedia mengucapkan kalimat syahadat.
 
 
Kemudian di kisahkan Prabu Brawijaya V memberitahukan pada pengikut setia Sabdo Palon dan Noyogenggong bahwa dirinya telah meninggalkan agama budha dan telah memeluk agama Islam, bahwa Prabu Brawijaya V juga sempat membujuk supaya pengikut nya tersebut juga mau memeluk agama Islam, tetapi ternyata Sabdo Palon dan Noyogenggong menolaknya.Prabu Brawijaya V bersama kedua istrinya pergi ke arah barat daya daerah gunung kidul yaitu daerah gunung bu temantenan disana Prabu Brawijaya V bertapa di bawah pohon yang berjumlah empat seperti tiang rumah. Pada saat Prabu Brawijaya V sedang bertapa, Sunan Kalijaga datang dengan melemparkan sebuah gentong kecil diatas bukit ke tempat pertapaan tersebut, Prabu Brawijaya V merasakan adanya sinar yang jatuh di atas bukit yang ternyata sebuah gentong (padasan) tempat air untuk bersuci, Prabu Brawijaya menyelesaikan tapanya (njugarake) tempat pertapaan tersebut daerah tersebut di beri nama gunung Gentong. kemudian melanjutkan perjalanannya menuju ke arah selatan, beliau ingin menemui Ratu Laut Selatan,tetapi kemudian ragu, sampailah di tempat Ngobaran di sinilah Prabu Brawijaya V melakukan ritual bakar diri dengan membuat prapen (tempat pembakaran yang di buat dari tumpukan kayu) bersama kedua istrinya yaitu Dewi Lowati dan Dewi Bondan Surati. Prabu Brawijaya V dan kedua istrinya menceburkan diri dalam kobaran api, setelah api padam kedua istrinya mati menjadi abu, sementara Prabu Brawijaya masih hidup dan segar bugar.Pada kisah dalam babad tersebut Prabu Brawijaya V setelah ritual bakar diri ternyata tidak mempan tetap selamat kemudian oleh Sunan Kalijaga di berikan nama dengan Ki Jamus dan mendapat tugas untuk menjadi Bupati Semarang dengan jalan mengikuti sayembara untuk menyembuhkan anak putri Bupati Pandanaran Semarang, di sinilah Ki Jamus yang sebenarnya Prabu Brawijaya V kemudian di tunjuk menjadi Adipati Pandanaran II menggantikan Adipati Pandanaran I.
 
 
Penulis kurang sependapat yang menyatakan bahwa sosok Sunan Tembayat ini adalah Prabu Brawijaya V yang mendasarkan pada kisah Babat tanah jawa termasuk babat Tembayat, lebih tepatnya yang lebih logis mendekat nalar sejarah adalah bahwa Sunan Tembayat ini adalah Raden Joko Supena putranya Prabu Brawijaya V hal ini mendasarkan pada buku Asalsilahipun Para Nata karya G.R Ay.Bratadiningrat di sebutkan Prabu Brawijaya V, Prabu Kerta Bumi mempunyai 2 istri prameswari, yang no.1 Ratu Handarawati dari nagari Campa dan yang no.2 putri dari Bagelan. Adapun putra putrinya berjumlah 91 di sini putra yang no.77 adalag Raden Joko Supena alias Ki Ageng Tembayat. Juga di perkuat buku Babad Kasultanan Demak Bintoro Pajang dan Mataram karya Suparman Al Fakir yang menjelaskan Prabu Brawijaya V mempunyai anak berjumlah 100,disebutkan anak no.94 adalah Raden Joko Supena alias Raden Tembayat.Kisah Sunan Tembayat atau Sunan Pandanaran II dalam cerita babad memang terasa mengasikkan ketika di baca, tetapi kalau Sunan Tembayat ini di nyatakan Prabu Brawijaya V ini terasa ganjil bagaimana lazim Prabu Brawijaya V yang telah pernah menjadi raja besar di Majapahit tahun 1468 -1478 M terpaksa turun tahta karena di serang Prabu Giri Wandhana (keturunan Jayakatang) dari Keling pada saat kemudian masih mau menerima jabatan Adipati Semarang yang ke 2 yang Adipati tersebut di menjadi bawahannya Sultan Fatah Demak yang merupakan putranya sendiri.Sunan Tembayat di nyatakan wafat pada hari jum’at kliwon 27 ruwah tahun saka 1469 H/ tahun 1547 kalau ternyata Sunan Tembayat itu Prabu Brawijaya V atau Prabu Bre Kertabumi di perkirakan lahir 1413 M ini mendasarkan dari lahir nya Raden Patah 1455 M berdasarkan catatan kronik china berarti sampat wafat sunan Tembayat berusia 134 tahun hal ini jelas terasa janggal ada orang bisa berusia sampai segitu.Terdapat juga penjelasan dari buku Babad Demak Dalam Tafsir Sosial Politik Keislaman dan Kebangsaan karya R.Atmodarminto bahwa ketika Prabu Brawijaya V Prabu Kerta Bumi mendapat serangan dari Prabu Giri Wandhana dari keling Kediri tahun 1478 M Prabu Brawijaya V wafat dalam pertempuran di makamkan di Makam panjang Trowulan.
 
 
 
Penulis lebih sepakat dan lebih logis kalau Sunan Tembayat itu adalah Raden Joko Supena putra Prabu Brawijaya V hal ini mendasarkan pada kronologis historis bahwa Sunan Tembayat itu masa hidup para era akhir Kasultanan Demak masa raja Sultan Trenggono sampai awal Kasultanan Pajang (1521-1548) termasuk anggota walisongo angkatan ke V untuk menggantikan posisi Syeikh Siti Jenar yang wafat dieksekusi mati ini mendasarkan pada buku Kisah Perjalanan Syeikh Subakir karya H.Syamsul Hadi juga di perkuat pernyataan Ngadija dalam buku Panembahan Senopati Mataran yang menyatakan bahwa ketika Majapahit runtuh tahun 1478 dan terjadi perseteruan keluarga Majapahit maka banyak para Pangeran Majapahit kemudian mesanggrah / berpindah ke darah sekitar Jawa tengah dari 100 putra putri Prabu Brawajiaya V diantaranya mesanggrah/ berpindah ke daerah Jawa Tengah wilayah selatab : Raden Bondan di Purwodadi,Raden Ayu Retno Pembayun di pengging, Raden Ayu Kedaton di Pengging, Raden Gugur Sunan Lawu, Raden Joko Dolog Kyai Ageng Grubig Jatinom, Raden Jaka Bodho Kyai Ageng Majasta, Raden Jaka Dalun Gagak Pranolo Laweyan, Raden Guntur, Raden Sawunggaling, Raden Malang Sumirang, Raden Jaka Lengin Jejeran, Raden Jaka Dhandhun Syekh Bela Belu, Raden Ayu Manik, Raden Ayu Kasmoyo,Raden Haryo Suweng,Raden Bondan Surati.Kenapa sosok Sunan Tembayat ini lebih logis kalah Raden Joko Supena putra Prabu Brawijaya V Prabu Bre Kerta Bumi juga melihat bentuk bangunan makam dan gapura menunjukkan khas bangunan Majapahit.wallahu a’lam. (Sumber : peduliklaten.id). 
 
Penulis: Agus Tiyanto / Ki Muhammad Suryonegoro
(Pengasuh Pondok Kader Bangsa Al Hikam Klaten)
banner 468x60

Author: 

Related Posts

Tinggalkan Balasan