
Klaten(Jaringan Arwira Media Group)-n Pendiri EWRC Indonesia, Eko Wiratno, menegaskan komitmennya dalam dunia literasi dengan target ambisius menyelesaikan 1.200 judul buku per tahun. Target ini sejalan dengan visinya menjadikan literasi sebagai fondasi kemajuan bangsa.
Menurut Eko Wiratno, percepatan produksi buku bukan sekadar soal angka, melainkan strategi mencetak lebih banyak penulis baru dan memperluas akses masyarakat terhadap bacaan berkualitas. “Kalau setiap orang membaca dan menulis, bangsa ini akan lebih cepat maju. Literasi itu modal besar untuk menghadapi tantangan zaman,” ujarnya saat ditemui di Klaten.
Eko Wiratno menilai, Indonesia masih menghadapi tantangan serius dalam hal minat baca dan menulis. Berdasarkan laporan UNESCO, indeks literasi masyarakat Indonesia masih tergolong rendah. Banyak generasi muda yang lebih akrab dengan gawai dan media sosial dibandingkan dengan buku. Padahal, buku adalah sumber pengetahuan yang teruji dan mampu memberikan kedalaman berpikir.
Target 1.200 buku per tahun, menurutnya, bukan sekadar capaian kuantitatif. Ia memandangnya sebagai “gerakan moral” untuk menegakkan budaya menulis di kalangan akademisi, praktisi, maupun masyarakat umum. Melalui karya tulis, setiap orang dapat mewariskan gagasan, pengalaman, dan ilmu pengetahuan untuk generasi mendatang.
Mencetak Ribuan Penulis Baru
EWRC Indonesia berencana menjadikan target tersebut sebagai pintu masuk bagi munculnya ribuan penulis baru. Tidak hanya dosen atau peneliti, tetapi juga guru, mahasiswa, pengusaha, hingga masyarakat umum yang memiliki pengalaman hidup berharga untuk dibagikan.
“Semua orang bisa menulis. Tantangannya hanya ada pada keberanian untuk memulai dan konsistensi menyelesaikan naskah. Di sinilah peran kami, mendampingi penulis dari ide sampai buku terbit,” jelas Bos EWRC Indonesia.
Dengan model kolaborasi, satu buku bisa ditulis oleh beberapa penulis sekaligus. Strategi ini bukan hanya mempercepat proses produksi, tetapi juga menjadi ajang pertukaran ide. Dari target 1.200 judul buku, Eko Wiratno optimistis akan lahir lebih dari 9.000 penulis aktif yang siap memperkaya khazanah literasi Indonesia.
Selain melahirkan penulis baru, Eko Wiratno juga menekankan pentingnya membangun ekosistem penerbitan yang inklusif. Ia melihat masih banyak karya bagus yang tidak pernah sampai ke pembaca karena terhambat biaya penerbitan, akses distribusi, maupun keterbatasan promosi.
Melalui EWRC Indonesia, ia menggagas sistem penerbitan yang lebih terbuka, transparan, dan terjangkau. Penulis diberikan kesempatan untuk menerbitkan karya tanpa harus terbebani biaya besar. “Kami ingin menghapus stigma bahwa menulis buku itu mahal dan hanya untuk kalangan tertentu,” ujarnya.
Tantangan Kualitas
Meski target kuantitatif terdengar ambisius, Eko tidak menutup mata terhadap persoalan kualitas. Ia menegaskan bahwa setiap buku harus tetap melalui proses penyuntingan, perbaikan, dan uji kelayakan. “Kami tidak ingin hanya mencetak buku asal jadi. Kualitas tetap nomor satu, karena pembaca membutuhkan karya yang bermutu,” katanya.
Untuk menjaga kualitas, EWRC Indonesia menggandeng editor profesional, akademisi, dan praktisi di berbagai bidang. Dengan demikian, buku yang dihasilkan tidak hanya layak terbit, tetapi juga bermanfaat bagi dunia pendidikan, penelitian, dan masyarakat luas.
Program percepatan penerbitan buku juga sejalan dengan kebutuhan dosen di perguruan tinggi. Sesuai regulasi, dosen dituntut menghasilkan karya ilmiah, baik dalam bentuk jurnal maupun buku, sebagai bagian dari Beban Kinerja Dosen (BKD) dan kenaikan jabatan akademik.
Buku yang diterbitkan bisa berupa monograf, buku ajar, buku teks, maupun referensi. Dengan adanya fasilitasi dari EWRC Indonesia, dosen memiliki wadah untuk menyalurkan karya tulisnya, sekaligus memperluas akses mahasiswa terhadap bahan bacaan terbaru. “Kami ingin buku-buku dosen tidak hanya berhenti di rak kampus, tetapi juga bisa dinikmati masyarakat luas,” kata Eko Wiratno.
Harapan Jangka Panjang
Lebih jauh, Eko berharap gerakan ini mampu menumbuhkan budaya literasi yang berkelanjutan. Ia mengibaratkan buku sebagai investasi jangka panjang yang nilainya terus berkembang. “Kalau emas nilainya naik seiring waktu, maka buku nilainya jauh lebih besar. Ia mengubah cara pandang, menggerakkan pikiran, dan melahirkan perubahan sosial,” ujarnya.
Dengan ekosistem literasi yang kuat, ia optimistis Indonesia dapat sejajar dengan negara-negara maju dalam bidang pendidikan dan pengetahuan. Target 1.200 judul buku per tahun hanyalah langkah awal menuju cita-cita besar menjadikan Indonesia sebagai bangsa literat.
“Literasi adalah jalan menuju kemandirian bangsa. Kalau kita ingin Indonesia emas 2045, maka budaya menulis dan membaca harus kita mulai sekarang,” pungkasnya.(**)







