
KLATEN(Jaringan Arwira Media Group)- Harga emas batangan PT Aneka Tambang (Antam) kembali menguat. Mengutip situs resmi Logam Mulia, harga emas pecahan satu gram pada Sabtu (22/12/2025) berada di level Rp2.491.000 per gram, naik Rp8.000 dibandingkan harga pada Jumat (19/12/2025) yang tercatat Rp2.483.000 per gram.
Sejalan dengan itu, harga emas dunia juga bertahan di level tinggi. Berdasarkan data Trading Economics, harga emas global ditutup pada US$ 4.342 per troy ons, mencerminkan kuatnya minat investor terhadap aset lindung nilai di tengah ketidakpastian ekonomi dan geopolitik global.
Proyeksi Koreksi Harga Emas
Analis EWRC Indonesia, Eko Wiratno, menilai bahwa pergerakan harga emas saat ini berada dalam fase krusial. Menurutnya, meskipun tren jangka menengah masih cenderung menguat, peluang koreksi teknikal tetap terbuka.
“Apabila harga emas dunia terkoreksi di support pertama US$ 4.291 per troy ons, maka harga emas Antam diperkirakan bisa turun ke kisaran Rp2.475.000 per gram,” ujar Eko Wiratno, Senin pagi (22/12/2025).
Lebih lanjut, Eko menjelaskan bahwa jika tekanan jual berlanjut hingga menembus support berikutnya di US$ 4.256 per troy ons, maka harga logam mulia domestik berpotensi turun lebih dalam ke sekitar Rp2.400.000 per gram.
“Itu skenario koreksi, seandainya harga emas dunia mengalami penurunan,” kata Eko Wiratno.
Meski demikian, Eko Wiratno menegaskan bahwa peluang penguatan harga emas tetap dominan, terutama jika sentimen global kembali memihak aset safe haven. Dalam skenario bullish, ia memproyeksikan resistance pertama emas dunia berada di level US$ 4.378 per troy ons.
“Jika resistance itu ditembus, ada kemungkinan pada Senin ini harga emas Antam menyentuh Rp2.510.000 per gram,” ujarnya.
Bahkan dalam horizon waktu satu minggu, Eko Wiratno memperkirakan harga emas dunia berpotensi menembus US$ 4.415 per troy ons. Jika skenario tersebut terjadi, harga emas Antam berpeluang melonjak hingga Rp2.600.000 per gram.
“Dalam satu minggu, peluang emas menembus level tersebut cukup terbuka,” kata Eko Wiratno.
Faktor Global Penopang Harga Emas
Menurut Eko Wiratno, pergerakan harga emas dalam sepekan ke depan akan sangat dipengaruhi oleh kombinasi faktor moneter dan geopolitik global. Salah satu faktor utama adalah ekspektasi penurunan suku bunga The Federal Reserve (The Fed).
Sejumlah studi menunjukkan bahwa penurunan suku bunga cenderung meningkatkan daya tarik emas karena menurunkan opportunity cost memegang aset tanpa imbal hasil. Penelitian Baur dan McDermott (2010) dalam Review of Financial Studies menyebutkan bahwa emas berfungsi efektif sebagai lindung nilai dalam periode ketidakpastian kebijakan moneter.
Selain faktor suku bunga, ketegangan geopolitik juga menjadi pendorong utama harga emas. Konflik antara Amerika Serikat dan Venezuela, perang Rusia–Ukraina yang belum mereda, serta meningkatnya ketegangan di Timur Tengah menjadi perhatian pasar.
“Rencana Israel untuk menyerang Iran, yang diklaim tengah mengembangkan rudal balistik jarak menengah dan jarak jauh, berpotensi meningkatkan ketidakpastian global. Kondisi ini biasanya mendorong investor kembali ke emas,” jelas Eko.
Pandangan ini sejalan dengan laporan World Gold Council (2024) yang menyebutkan bahwa eskalasi geopolitik secara historis selalu diikuti peningkatan permintaan emas sebagai aset lindung nilai.
Secara global, emas sebagian besar diperdagangkan di pasar OTC London, pasar berjangka AS (COMEX), serta Shanghai Gold Exchange (SGE). Kontrak berjangka standar emas di COMEX adalah 100 troy ounce.
Dalam struktur konsumsi global, sekitar 50 persen emas digunakan untuk perhiasan, 40 persen untuk investasi, dan 10 persen untuk kebutuhan industri. Negara produsen emas terbesar dunia meliputi China, Australia, Amerika Serikat, Afrika Selatan, Rusia, Peru, dan Indonesia. Sementara itu, konsumen perhiasan emas terbesar adalah India, China, Amerika Serikat, Turki, Arab Saudi, Rusia, dan Uni Emirat Arab.
Harga emas yang ditampilkan oleh Trading Economics sendiri didasarkan pada instrumen keuangan over-the-counter (OTC) dan contract for difference (CFD). Harga tersebut digunakan sebagai referensi pasar dan bukan sebagai dasar tunggal pengambilan keputusan investasi.
Emas di Tengah Ketidakpastian
Sejumlah riset terbaru, termasuk studi dari IMF (2024) dan World Bank (2024), menegaskan bahwa emas tetap menjadi instrumen penting dalam portofolio investasi global, terutama di tengah meningkatnya risiko geopolitik, ketidakpastian kebijakan moneter, dan fluktuasi pasar keuangan.
“Selama ketidakpastian global masih tinggi, emas akan tetap menjadi aset yang dicari. Koreksi bisa terjadi, tetapi tren jangka menengahnya masih kuat,” tutup Eko Wiratno.
Referensi
-
World Gold Council. (2024). Gold Demand Trends.
-
Baur, D. G., & McDermott, T. K. (2010). Is gold a safe haven? Review of Financial Studies.
-
IMF. (2024). Global Financial Stability Report.
-
Trading Economics. (2025). Gold Price Data.






