
Bismillāhirraḥmānirraḥīm.
Alḥamdulillāhi rabbil ‘ālamīn, naḥmaduhū wa nasta‘īnuhū wa nastaghfiruhū. Waṣ-ṣalātu was-salāmu ‘alā Rasūlillāh Muḥammad ṣallallāhu ‘alaihi wasallam, wa ‘alā ālihi wa aṣḥābihi ajma‘īn.
Jamaah tarawih yang dirahmati Allah SWT,
Alhamdulillah, malam ini kita telah memasuki hari ke-7 Ramadhan. Artinya, Ramadhan telah berjalan lebih dari sepekan. Pada fase ini, sudah semestinya kita tidak lagi sekadar bertanya berapa hari kita berpuasa, tetapi mulai merenungkan apa perubahan yang telah terjadi pada diri kita. Apakah puasa kita hanya berdampak pada pola makan dan waktu tidur, ataukah telah menyentuh aspek yang lebih mendasar, yaitu akhlak dan perilaku sosial?
Allah SWT berfirman:
“Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.”
(QS. Al-Baqarah: 183)
Ayat ini menegaskan bahwa tujuan utama puasa adalah takwa. Dalam pandangan Islam yang mencerahkan—sebagaimana menjadi spirit Muhammadiyah—takwa tidak berhenti pada kesalehan individual, tetapi harus berbuah pada kesalehan sosial dan kemajuan peradaban.
Takwa bukan hanya rajin beribadah, tetapi juga jujur dalam bekerja, adil dalam memimpin, amanah dalam mengelola kepercayaan, serta peduli terhadap penderitaan sesama. Puasa yang benar adalah puasa yang mengubah karakter, bukan sekadar menggugurkan kewajiban ritual.
Jamaah yang dimuliakan Allah,
Rasulullah SAW memberikan peringatan yang sangat tegas terkait kualitas puasa. Beliau bersabda:
“Barang siapa tidak meninggalkan perkataan dusta dan perbuatan keji, maka Allah tidak membutuhkan ia meninggalkan makan dan minumnya.”
(HR. Bukhari)
Hadis ini menegaskan bahwa puasa tanpa akhlak adalah puasa yang kosong makna. Jika seseorang rajin berpuasa tetapi masih gemar berdusta, menipu, memfitnah, atau merugikan orang lain, maka puasa tersebut belum mencapai tujuan yang dikehendaki Allah SWT.
Dalam perspektif Muhammadiyah, ibadah tidak boleh berhenti pada simbol dan formalitas. Islam adalah agama amal nyata. Oleh karena itu, puasa harus berdampak langsung pada sikap hidup, cara berpikir, dan cara kita memperlakukan sesama manusia.
Jamaah tarawih yang berbahagia,
Puasa sesungguhnya adalah sekolah pembentukan akhlak sosial. Ketika kita menahan lapar dan dahaga, sejatinya kita sedang dilatih untuk mengendalikan hawa nafsu, ego, dan keserakahan. Dari sinilah seharusnya lahir kepekaan terhadap kondisi sosial di sekitar kita.
Puasa mengajarkan empati. Kita merasakan lapar agar kita memahami bagaimana rasanya hidup dalam kekurangan. Kita menahan diri agar kita tidak mudah menyakiti orang lain, baik dengan lisan maupun perbuatan. Kita melatih disiplin agar kita terbiasa hidup tertib, jujur, dan bertanggung jawab.
Allah SWT berfirman:
“Dan tolong-menolonglah kamu dalam kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam dosa dan permusuhan.”
(QS. Al-Mā’idah: 2)
Ayat ini menegaskan bahwa ibadah tidak boleh bersifat individualistis. Ibadah harus melahirkan kepedulian sosial dan kerja-kerja kebajikan yang nyata. Puasa seharusnya memperkuat semangat berbagi, menolong, dan meringankan beban sesama.
Jamaah yang dirahmati Allah,
Dalam konteks kehidupan berbangsa dan bermasyarakat, puasa juga memiliki dimensi pembentukan etos peradaban. Puasa melatih kejujuran. Tidak ada yang tahu apakah kita benar-benar berpuasa atau tidak, kecuali Allah SWT. Kejujuran inilah yang seharusnya terbawa dalam kehidupan sehari-hari, termasuk dalam bekerja, berusaha, dan mengelola amanah publik.
Puasa juga melatih kesabaran dan pengendalian diri. Di tengah situasi sosial yang penuh dengan ujaran kebencian, hoaks, dan polarisasi, puasa seharusnya membuat kita lebih bijak dalam berbicara dan bersikap. Orang yang berpuasa tidak mudah marah, tidak mudah menghakimi, dan tidak tergesa-gesa dalam mengambil keputusan.
Rasulullah SAW bersabda:
“Puasa itu adalah perisai. Maka apabila salah seorang di antara kalian berpuasa, janganlah berkata kotor dan jangan bertindak bodoh.”
(HR. Bukhari dan Muslim)
Hadis ini menegaskan bahwa puasa adalah perisai moral. Ia melindungi pelakunya dari perilaku destruktif yang merusak diri sendiri dan masyarakat.
Jamaah tarawih yang dimuliakan Allah,
Muhammadiyah sejak awal berdiri menempatkan Islam sebagai agama tajdid—agama pembaruan. Pembaruan itu dimulai dari pembaruan cara berpikir, pembaruan akhlak, dan pembaruan sistem sosial. Puasa Ramadhan adalah momentum strategis untuk melakukan tajdid tersebut.
Jika setelah berpuasa kita masih abai terhadap ketidakadilan, masih menutup mata terhadap kemiskinan, masih permisif terhadap korupsi, dan masih membiarkan kebodohan merajalela, maka puasa belum sepenuhnya kita maknai.
Puasa seharusnya mendorong kita untuk:
-
Lebih peduli terhadap fakir miskin dan kaum dhuafa
-
Lebih jujur dan profesional dalam bekerja
-
Lebih aktif dalam kegiatan sosial dan kemasyarakatan
-
Lebih berani menegakkan keadilan dan kebenaran
Inilah puasa yang mencerahkan, puasa yang membangun peradaban.
Allah SWT berfirman:
“Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum sebelum mereka mengubah keadaan diri mereka sendiri.”
(QS. Ar-Ra‘d: 11)
Ayat ini menegaskan bahwa perubahan sosial harus dimulai dari perubahan individu. Ramadhan adalah momentum terbaik untuk memulai perubahan tersebut.
Jamaah tarawih yang berbahagia,
Mari kita jadikan sisa Ramadhan ini sebagai ruang muhasabah dan perbaikan diri. Kita perbaiki kualitas ibadah kita, kita luruskan niat kita, dan kita tingkatkan kontribusi sosial kita. Puasa bukan hanya tentang menahan diri, tetapi tentang menebar manfaat.
Semoga dari Ramadhan ini lahir pribadi-pribadi Muslim yang bertakwa, berakhlak mulia, berilmu, dan berdaya guna bagi umat, bangsa, dan kemanusiaan.
Rabbana taqabbal minnā, innaka Antas-Samī‘ul ‘Alīm.
Rabbana hablana min ladunka raḥmah, innaka Antal-Wahhāb.
Wassalāmu‘alaikum warahmatullāhi wabarakātuh.






