
Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.
الحمد لله ربِّ العالمين، نحمده ونستعينه ونستغفره، ونعوذ بالله من شرور أنفسنا ومن سيئات أعمالنا.
وأشهد أن لا إله إلا الله وحده لا شريك له، وأشهد أن محمداً عبده ورسوله.
اللهم صلِّ وسلم على سيدنا محمد، وعلى آله وصحبه أجمعين.
Al-ḥamdu lillāhi rabbil ‘ālamīn, naḥmaduhū wa nasta‘īnuhū wa nastaghfiruhū,
wa na‘ūdzu billāhi min syurūri anfusinā wa min sayyi’āti a‘mālinā.
Wa asyhadu allā ilāha illallāhu waḥdahū lā syarīka lah,
wa asyhadu anna Muḥammadan ‘abduhū wa rasūluh.
Allāhumma ṣalli wa sallim ‘alā sayyidinā Muḥammad,
wa ‘alā ālihi wa ṣaḥbihī ajma‘īn.
Jamaah shalat tarawih rahimakumullah,
Segala puji hanya milik Allah SWT yang telah menganugerahkan kepada kita nikmat iman, nikmat Islam, dan nikmat kesempatan sehingga pada malam hari ini kita dapat melaksanakan shalat tarawih dan ibadah Ramadhan dengan penuh ketenangan. Shalawat dan salam semoga senantiasa tercurah kepada Nabi Muhammad SAW, teladan utama dalam keikhlasan, ketulusan niat, dan kesempurnaan ibadah.
Jamaah yang dimuliakan Allah,
Dalam Islam, niat menempati posisi yang sangat fundamental. Niat bukan sekadar formalitas, bukan sekadar ucapan di lisan, tetapi merupakan arah batin yang menentukan nilai dan kualitas sebuah ibadah. Karena itu, para ulama menyatakan bahwa amal perbuatan seorang hamba sangat bergantung pada niat yang melatarbelakanginya.
Rasulullah SAW bersabda dalam hadis yang sangat masyhur:
“Sesungguhnya setiap amal perbuatan itu tergantung pada niatnya, dan setiap orang akan mendapatkan sesuai dengan apa yang ia niatkan.”
(HR. Bukhari dan Muslim)
Hadis ini menjadi kaidah besar dalam ajaran Islam. Bahkan para ulama menyebutnya sebagai salah satu hadis yang mencakup seluruh ajaran agama.
Jamaah tarawih rahimakumullah,
Niat dalam Islam bukan sekadar pembeda antara ibadah dan kebiasaan, tetapi juga pembeda antara ibadah yang bernilai di sisi Allah dan ibadah yang hanya bernilai secara lahiriah. Dua orang dapat melakukan ibadah yang sama, pada waktu yang sama, dengan cara yang sama, tetapi nilai di sisi Allah bisa sangat berbeda, tergantung pada niatnya.
Puasa Ramadhan, misalnya. Secara lahiriah, semua orang yang berpuasa tampak sama: tidak makan dan minum dari terbit fajar hingga terbenam matahari. Namun secara batiniah, nilainya sangat bergantung pada niat. Ada yang berpuasa karena ketaatan kepada Allah, ada yang berpuasa karena tradisi, ada pula yang berpuasa karena faktor lingkungan.
Dalam perspektif Islam berkemajuan, ibadah harus dilakukan dengan kesadaran penuh, bukan sekadar ikut arus atau rutinitas tanpa makna.
Jamaah yang dimuliakan Allah,
Ramadhan adalah bulan ibadah. Di dalamnya terdapat puasa, shalat tarawih, tilawah Al-Qur’an, sedekah, zakat, dan berbagai amal kebaikan lainnya. Namun semua ibadah tersebut akan kehilangan ruhnya jika tidak dilandasi dengan niat yang benar.
Niat yang benar dalam ibadah Ramadhan adalah niat untuk mencari ridha Allah SWT, bukan mencari pujian manusia, bukan mencari pengakuan sosial, dan bukan sekadar mengejar penilaian lahiriah. Ibadah yang dilakukan karena Allah akan tetap bernilai meskipun tidak diketahui oleh siapa pun.
Karena itu, Ramadhan menjadi momentum penting untuk meluruskan niat, memperbaiki orientasi ibadah, dan membersihkan motivasi batin kita.
Jamaah tarawih rahimakumullah,
Ibadah tanpa niat yang lurus berpotensi melahirkan beberapa penyakit hati. Di antaranya adalah riya’, yaitu beribadah karena ingin dilihat dan dipuji oleh orang lain. Riya’ adalah penyakit yang sangat halus dan sering tidak disadari.
Seseorang bisa rajin shalat, rajin puasa, rajin sedekah, tetapi jika niatnya bukan karena Allah, maka amal tersebut tidak bernilai ibadah. Bahkan bisa berubah menjadi dosa jika disertai dengan kesombongan dan merasa lebih baik dari orang lain.
Karena itu, Rasulullah SAW sangat menekankan pentingnya menjaga niat, terutama dalam ibadah-ibadah yang tampak oleh manusia.
Jamaah yang dirahmati Allah,
Dalam islam, ibadah tidak hanya dipahami sebagai hubungan vertikal dengan Allah, tetapi juga harus berdampak pada kehidupan sosial. Niat yang benar akan melahirkan amal yang benar dan bermanfaat bagi masyarakat.
Jika seseorang berpuasa dengan niat yang benar, maka puasanya akan mendorongnya untuk bersikap jujur, sabar, disiplin, dan peduli terhadap sesama. Sebaliknya, jika niatnya keliru, maka ibadah akan berhenti pada aspek ritual tanpa membawa perubahan sosial.
Dengan niat yang lurus, ibadah Ramadhan akan melahirkan pribadi muslim yang berakhlak mulia, bertanggung jawab, dan berkontribusi positif bagi lingkungan sekitarnya.
Jamaah tarawih rahimakumullah,
Ramadhan adalah waktu terbaik untuk melakukan muhasabah niat. Setiap ibadah yang kita lakukan, mari kita tanyakan pada diri sendiri: untuk siapa ibadah ini kita lakukan? Jika jawabannya adalah Allah SWT, maka kita berada di jalan yang benar.
Meluruskan niat bukan pekerjaan sekali jadi, tetapi proses yang harus dilakukan terus-menerus. Bahkan para sahabat dan ulama terdahulu sangat berhati-hati dalam menjaga niat mereka, karena mereka menyadari betapa pentingnya niat dalam menentukan nilai amal.
Jamaah shalat tarawih rahimakumullah,
Marilah kita jadikan Ramadhan ini sebagai momentum untuk meluruskan niat, memperbaiki orientasi ibadah, dan meningkatkan kualitas penghambaan kita kepada Allah SWT. Ibadah yang sedikit tetapi dilakukan dengan niat yang ikhlas lebih bernilai daripada ibadah yang banyak tetapi kehilangan keikhlasan.
Semoga Allah SWT menerima seluruh amal ibadah kita, meluruskan niat-niat kita, dan menjadikan kita hamba-hamba-Nya yang bertakwa.
Rabbana taqabbal minna, innaka Antas Sami‘ul ‘Alim.
Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.







