banner 468x60

KULTUM TARAWIH HARI KE-5 Puasa sebagai Sarana Pembentukan Etos Kerja Islami Oleh: Eko Wiratno (Warga Muhammadiyah Tinggal di Klaten)

 Nasional
banner 468x60
KULTUM TARAWIH HARI KE-5 Puasa sebagai Sarana Pembentukan Etos Kerja Islami  Oleh: Eko Wiratno (Warga Muhammadiyah Tinggal di Klaten)

Bismillāhirraḥmānirraḥīm.

Alḥamdulillāhi rabbil ‘ālamīn. Naḥmaduhū wa nasta‘īnuhū wa nastaghfiruhū. Waṣ-ṣalātu was-salāmu ‘alā Rasūlillāh Muḥammad ṣallallāhu ‘alaihi wasallam, wa ‘alā ālihi wa aṣḥābihi ajma‘īn.

Jamaah tarawih yang dirahmati Allah SWT,

Alhamdulillah, malam ini kita telah memasuki hari ke-5 Ramadhan. Pada fase ini, Ramadhan seharusnya mulai menghadirkan perubahan nyata dalam cara kita berpikir, bersikap, dan bekerja. Jika pada hari-hari awal kita lebih fokus pada penyesuaian fisik, maka pada hari ke-5 ini Ramadhan mengajak kita untuk merenungkan bagaimana puasa membentuk etos kerja dan karakter kehidupan kita.

Dalam Islam—dan dalam manhaj Muhammadiyah—ibadah tidak pernah dilepaskan dari kerja nyata. Islam tidak mengajarkan kemalasan, tidak pula membenarkan sikap pasrah tanpa ikhtiar. Justru sebaliknya, Islam mendorong umatnya untuk menjadi pribadi yang produktif, disiplin, amanah, dan bertanggung jawab.

Allah SWT berfirman:

“Apabila telah ditunaikan shalat, maka bertebaranlah kamu di muka bumi dan carilah karunia Allah.”

(QS. Al-Jumu‘ah: 10)

Ayat ini menegaskan bahwa ibadah dan kerja adalah satu kesatuan. Shalat membangun spiritualitas, sementara kerja menjadi wujud pengabdian nyata kepada Allah SWT.

Jamaah yang dimuliakan Allah,

Puasa Ramadhan sejatinya adalah latihan kedisiplinan paling komprehensif. Kita dilatih bangun lebih awal untuk sahur, menahan diri sepanjang hari, dan mengatur waktu antara ibadah, pekerjaan, serta istirahat. Semua ini adalah fondasi penting bagi terbentuknya etos kerja Islami.

Puasa mengajarkan disiplin waktu, sesuatu yang sering menjadi kelemahan dalam kehidupan modern. Orang yang mampu menjaga waktu sahur dan berbuka dengan tertib, seharusnya juga mampu menjaga waktu kerja, waktu janji, dan waktu amanah.

Rasulullah SAW bersabda:

“Dua nikmat yang sering dilalaikan oleh banyak manusia: kesehatan dan waktu luang.”

(HR. Bukhari)

Puasa mengingatkan kita bahwa waktu adalah amanah. Menyia-nyiakan waktu berarti menyia-nyiakan kesempatan berbuat kebaikan dan kemajuan.

Jamaah tarawih yang berbahagia,

Selain disiplin, puasa juga membentuk kejujuran dan integritas dalam bekerja. Puasa adalah ibadah yang tidak diawasi manusia. Tidak ada yang tahu apakah kita benar-benar berpuasa kecuali Allah SWT. Kejujuran inilah yang menjadi inti dari etos kerja Islami.

Allah SWT berfirman:

“Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan jadilah bersama orang-orang yang jujur.”

(QS. At-Taubah: 119)

Kejujuran adalah modal utama dalam dunia kerja, ekonomi, dan kepemimpinan. Tanpa kejujuran, keahlian dan kecerdasan justru bisa menjadi alat kerusakan. Puasa mendidik kita untuk tetap jujur meskipun tidak ada pengawasan.

Dalam konteks Muhammadiyah, kejujuran adalah ruh dari amal usaha. Sekolah, rumah sakit, perguruan tinggi, dan lembaga sosial Muhammadiyah hanya bisa bertahan dan berkembang karena ditopang oleh kejujuran dan amanah para pengelolanya.

Jamaah yang dirahmati Allah,

Puasa juga membentuk ketahanan mental dan kesabaran. Orang yang berpuasa belajar menghadapi lapar, haus, dan lelah tanpa mengeluh. Ini adalah latihan mental yang sangat penting dalam dunia kerja dan kehidupan sosial.

Allah SWT berfirman:

“Sesungguhnya Allah bersama orang-orang yang sabar.”

(QS. Al-Baqarah: 153)

Dalam bekerja, kita sering menghadapi tekanan, kegagalan, dan tantangan. Puasa mengajarkan bahwa kesuksesan tidak diraih dengan tergesa-gesa, tetapi melalui kesabaran, konsistensi, dan kerja keras.

Rasulullah SAW sendiri adalah teladan etos kerja terbaik. Beliau adalah seorang nabi, tetapi juga pedagang yang jujur, pemimpin yang amanah, dan pekerja yang sungguh-sungguh. Tidak ada pertentangan antara kesalehan dan produktivitas.

Jamaah tarawih yang dimuliakan Allah,

Etos kerja Islami yang dibentuk oleh puasa juga mencakup tanggung jawab sosial. Islam tidak mengenal kerja yang hanya menguntungkan diri sendiri tetapi merugikan orang lain. Kerja dalam Islam harus membawa kemaslahatan.

Allah SWT berfirman:

“Dan janganlah kamu merugikan manusia terhadap hak-haknya.”

(QS. Asy-Syu‘ara: 183)

Puasa seharusnya mencegah kita dari segala bentuk kecurangan: korupsi, manipulasi, mark-up, dan penyalahgunaan wewenang. Puasa yang benar akan melahirkan pekerja yang adil, profesional, dan berorientasi pada kebermanfaatan.

Muhammadiyah memandang bahwa kemajuan umat tidak bisa dilepaskan dari etos kerja berkemajuan. Umat yang rajin beribadah tetapi malas bekerja akan tertinggal. Sebaliknya, kerja keras tanpa nilai spiritual akan kehilangan arah moral.

Jamaah tarawih yang berbahagia,

Oleh karena itu, Ramadhan harus kita jadikan momentum tajdid etos kerja. Kita perbarui niat kita dalam bekerja: bekerja bukan hanya untuk mencari nafkah, tetapi sebagai ibadah dan kontribusi bagi kemajuan umat dan bangsa.

Mari kita bertanya pada diri sendiri:

  • Apakah puasa membuat kita lebih disiplin?

  • Apakah puasa membuat kita lebih jujur dalam bekerja?

  • Apakah puasa membuat kita lebih bertanggung jawab terhadap amanah?

Jika jawabannya belum, maka masih ada waktu untuk memperbaiki diri di sisa Ramadhan ini.

Allah SWT berfirman:

“Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang apabila bekerja, mereka bekerja dengan sungguh-sungguh.”

(Hadis hasan maknanya)

Puasa hari ke-5 ini hendaknya menjadi pengingat bahwa Islam adalah agama kerja, ilmu, dan amal nyata. Iman harus tampak dalam produktivitas, akhlak, dan kontribusi sosial.

Semoga puasa Ramadhan ini membentuk pribadi-pribadi Muslim yang jujur, disiplin, sabar, profesional, dan berkemajuan, sehingga mampu menjadi pelaku perubahan dan pembangun peradaban yang diridhai Allah SWT.

Rabbana taqabbal minnā, innaka Antas-Samī‘ul ‘Alīm.

Rabbana zidnā ‘ilmā wa ‘amalan ṣāliḥā.

Wassalāmu‘alaikum warahmatullāhi wabarakātuh.

banner 468x60

Author: 

Related Posts

Tinggalkan Balasan