banner 468x60

Satu Juz Menguatkan Hati, Satu Gram Menyelamatkan Masa Depan: Eko Wiratno, Pendiri EWRC Indonesia

 Ekonomi
banner 468x60
Satu Juz Menguatkan Hati, Satu Gram Menyelamatkan Masa Depan: Eko Wiratno, Pendiri EWRC Indonesia

Oleh: Eko Wiratno, Pendiri EWRC Indonesia

Di era ketika manusia berlomba mengejar healing, flexing, dan sensasi instan, satu hal justru makin langka: ketenangan hidup yang nyata. Ironisnya, semakin banyak orang berbicara tentang keseimbangan hidup, semakin sedikit yang benar-benar memilikinya. Jiwa rapuh, keuangan bocor, dan waktu habis tanpa makna.

Pendiri EWRC Indonesia, Eko Wiratno, menilai ada kesalahan mendasar dalam cara generasi modern memahami hidup seimbang. “Kita terlalu sibuk mencari metode rumit, padahal yang kita butuhkan justru disiplin sederhana,” ujarnya.

Dari kegelisahan itulah lahir satu gagasan yang terdengar biasa, tetapi sesungguhnya radikal:

“1 Day 1 Juz Idolaku, 1 Day 1 Gram Antam Hobiku.”

Ini bukan slogan religius kosong, bukan pula tips finansial ala motivator. Ini adalah tamparan sunyi bagi generasi yang kehilangan arah: disiplin spiritual dan finansial harus berjalan bersamaan, atau hidup akan pincang.

Spiritualitas yang Dikalahkan oleh Scroll

Mari jujur. Banyak orang mengaku sibuk, tetapi sibuk untuk hal yang tidak pernah membangun jiwa. Waktu 30–45 menit membaca Al-Qur’an terasa berat, tetapi dua jam tenggelam di media sosial terasa ringan.

“Kalau kita tidak punya waktu untuk Qur’an, sebenarnya bukan karena tidak punya waktu, tapi karena salah prioritas,” tegas Eko Wiratno.

Padahal Al-Qur’an dengan tegas menyebutkan fungsi utamanya:

“Wahai manusia, sungguh telah datang kepadamu pelajaran dari Tuhanmu, penyembuh bagi penyakit yang ada di dalam dada.”

(QS. Yunus: 57)

Ayat ini tidak metaforis. Ia literal. Banyak kegelisahan modern—cemas, iri, kosong—bukan disebabkan kekurangan hiburan, tetapi kekurangan makna.

Penelitian terbaru dalam Journal of Religion and Health (2024) menyimpulkan bahwa praktik membaca kitab suci secara rutin memiliki efek signifikan dalam menurunkan depresi ringan hingga sedang, bahkan lebih konsisten dibanding terapi motivasional jangka pendek.

Namun, problemnya bukan pada ilmu. Problemnya pada kemauan. Kita ingin hasil instan, sementara Al-Qur’an menuntut kesabaran dan konsistensi. Itulah sebabnya Eko Wiratno menyebut “1 Day 1 Juz” sebagai disiplin sunyi—tidak ramai, tidak viral, tetapi membentuk karakter.

Menunggu Ramadan: Kemalasan yang Dibungkus Tradisi

Eko Wiratno secara terang-terangan mengkritik budaya “khatam musiman”. “Kalau Qur’an hanya dibaca saat Ramadan, itu bukan cinta, itu rutinitas seremonial,” katanya.

Al-Qur’an sendiri mengingatkan:

“Dan Rasul berkata: Wahai Tuhanku, sesungguhnya kaumku menjadikan Al-Qur’an ini sesuatu yang ditinggalkan.”

(QS. Al-Furqan: 30)

Ayat ini sering dibaca, tetapi jarang direnungkan. Menurut Eko Wiratno, meninggalkan Al-Qur’an tidak selalu berarti tidak membacanya sama sekali, tetapi tidak menjadikannya bagian dari kehidupan harian.

Ilmu perilaku mendukung pandangan ini. Nature Human Behaviour (2023) menegaskan bahwa kebiasaan yang hanya dilakukan secara periodik tidak akan membentuk identitas. Yang membentuk identitas adalah pengulangan harian, sekecil apa pun.

“Identitas tidak lahir dari niat besar, tapi dari kebiasaan kecil yang diulang,” ujar Eko Wiratno.

Finansial Rapuh: Akar Kecemasan yang Disangkal

Namun spiritualitas saja tidak cukup. Banyak orang rajin ibadah, tetapi hidupnya penuh kecemasan karena keuangan yang berantakan. Di sinilah Eko Wiratno melontarkan kritik paling sensitif: kemiskinan perencanaan sering dibungkus dengan dalih tawakal.

“Tawakal tanpa ikhtiar itu bukan iman, itu pembenaran kemalasan,” tegas Eko Wiratno.

Ia mengajak masyarakat menabung emas Antam satu gram per hari. Bukan karena ingin cepat kaya, tetapi karena ingin mendisiplinkan masa depan.

Emas, dalam literatur ekonomi, adalah safe haven asset. Journal of Financial Economics (2024) menegaskan bahwa emas tetap menjadi pelindung nilai paling stabil saat inflasi tinggi, konflik geopolitik, dan ketidakpastian moneter.

Lebih jauh, World Gold Council Report 2024 mencatat bahwa emas ritel menjadi pilihan utama kelas menengah global sebagai instrumen proteksi jangka panjang—bukan spekulasi.

Compound Effect: Lawan dari Mental Instan

Gagasan “1 Day 1 Gram” bertabrakan langsung dengan mental instan yang merajalela. Kita ingin kaya cepat, untung besar, hasil kilat. Akibatnya, banyak yang terjebak investasi bodong, skema cepat kaya, atau konsumsi semu.

Padahal ilmu ekonomi perilaku sudah lama memperingatkan. Behavioural Finance Review (2023) menunjukkan bahwa strategi akumulasi kecil dan konsisten secara statistik menghasilkan ketahanan finansial lebih kuat dibanding strategi agresif berisiko tinggi.

Satu gram per hari memang tidak sensasional. Tapi dalam setahun, 365 gram adalah aset nyata, bukan janji.

“Inilah compound effect. Diam-diam, pelan-pelan, tapi menghancurkan kemiskinan struktural,” ujar Eko Wiratno

Dua Sayap Kehidupan yang Tidak Boleh Patah

Al-Qur’an sejak awal tidak pernah mengajarkan dikotomi dunia–akhirat. Allah SWT berfirman:

“Carilah kebahagiaan akhirat, dan jangan lupakan bagianmu di dunia.”

(QS. Al-Qashash: 77)

Ayat ini sering dikutip, tetapi jarang diamalkan secara seimbang. Kita cenderung condong ke salah satu ekstrem: materialisme kosong atau spiritualisme rapuh.

Penelitian lintas disiplin dalam Journal of Positive Psychology (2024) menunjukkan bahwa individu dengan keseimbangan spiritual dan finansial memiliki tingkat kepuasan hidup, stabilitas emosi, dan resiliensi krisis paling tinggi.

“Membaca Qur’an melatih hati untuk tenang. Menabung emas melatih pikiran untuk sabar. Dua-duanya membentuk manusia utuh,” kata Eko.

Jalan Sunyi yang Tidak Populer

Eko Wiratno sadar, gagasan ini tidak populer. Tidak viral. Tidak menjanjikan kaya cepat atau hijrah instan. Tetapi justru di situlah nilainya.

“Perubahan besar tidak lahir dari keramaian, tapi dari konsistensi,” tegasnya.

Allah SWT menegaskan hukum perubahan itu dengan jelas:

“Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum hingga mereka mengubah keadaan diri mereka sendiri.”

(QS. Ar-Ra’d: 11)

Perubahan diri tidak dimulai dari seminar mahal, tetapi dari disiplin harian yang sering diremehkan. Satu juz. Satu gram. Setiap hari.

Di tengah dunia yang gaduh, mungkin kita tidak butuh motivasi baru. Kita hanya butuh keberanian untuk konsisten.

Dan barangkali, hidup yang lebih tenang tidak terletak pada hal besar yang belum kita capai, tetapi pada kebiasaan kecil yang selama ini kita abaikan.

banner 468x60

Author: 

Related Posts

Tinggalkan Balasan