
Tidak ada revolusi dalam dunia akademik yang berlangsung senyap. Setiap perubahan besar selalu datang membawa kegaduhan, resistensi, dan euforia sekaligus. Hari ini, kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) berdiri di pusat pusaran itu. Ia dielu-elukan sebagai penolong dosen dan mahasiswa yang terhimpit beban tridarma, tetapi sekaligus dituduh sebagai biang kemerosotan etika akademik.
Di ruang dosen, AI dibicarakan dengan nada curiga. Di ruang mahasiswa, AI dipakai dengan antusias tanpa banyak tanya. Di antara keduanya, berdiri institusi pendidikan tinggi yang sering kali gagap: regulasi belum matang, literasi belum merata, tetapi praktik sudah terlanjur masif.
Kita harus jujur mengakui satu hal sejak awal:
AI telah mengubah cara ilmu pengetahuan dicari, dibaca, dan ditulis.
Pertanyaannya bukan lagi boleh atau tidak, melainkan siapa yang mengendalikan siapa.
DARI PERPUSTAKAAN KE PROMPT: PERGESERAN RADIKAL CARA BERPIKIR AKADEMIK
Satu generasi lalu, mahasiswa pascasarjana dibentuk melalui ritual intelektual yang panjang: membaca puluhan buku, mencatat manual, berdebat dengan dosen pembimbing, dan tersesat berkali-kali dalam labirin literatur. Proses itu melelahkan, tetapi membentuk daya tahan berpikir.
Hari ini, ritual itu dipangkas menjadi satu aktivitas utama: menulis prompt.
Cukup dengan kalimat:
“Berikan 20 jurnal Q1 tentang perubahan iklim lima tahun terakhir”
maka dalam hitungan detik, daftar referensi pun muncul. Cepat. Efisien. Mengagumkan. Tetapi sekaligus menimbulkan pertanyaan mendasar:
di mana proses berpikir itu terjadi?
AI menghapus rasa lelah, tetapi juga berpotensi menghapus kedalaman. Dan dalam dunia akademik, kedalaman adalah segalanya.
TEMUAN ILMIAH: AI SUDAH MENJADI AKTOR UTAMA DALAM PENELITIAN
Artikel ilmiah yang dipresentasikan dalam Prosiding Seminar Nasional Perpustakaan Institut Seni Indonesia (ISI) Surakarta berjudul “Eksplorasi Penggunaan Artificial Intelligence dalam Pencarian Referensi Karya Ilmiah” menegaskan bahwa AI telah menjadi alat dominan, khususnya di kalangan mahasiswa pascasarjana.
Penelitian tersebut menunjukkan bahwa mahasiswa menggunakan AI karena:
-
tekanan waktu,
-
tuntutan publikasi,
-
kompleksitas database ilmiah,
-
keterbatasan literasi pencarian manual.
Namun, penelitian itu juga memberi sinyal bahaya:
banyak mahasiswa menggunakan AI tanpa memahami batasannya.
AI diperlakukan bukan sebagai asisten, melainkan sebagai otoritas. Dan ketika otoritas berpindah dari manusia ke mesin, krisis epistemologis tak terelakkan.
AI DALAM AKADEMIK: ALAT ATAU OTORITAS BARU?
Masalah terbesar penggunaan AI dalam pencarian referensi ilmiah bukan pada teknologinya, melainkan pada cara pandang penggunanya.
AI tidak memiliki:
-
intuisi ilmiah,
-
kepekaan metodologis,
-
kesadaran etis.
AI hanya bekerja berdasarkan probabilitas, pola, dan data masa lalu. Maka ketika AI merekomendasikan jurnal, ia tidak tahu apakah metodologinya lemah, apakah sampelnya bias, atau apakah kesimpulannya sudah usang secara teoritik.
Jika dosen dan mahasiswa menerima hasil AI tanpa kritik, maka yang terjadi adalah delegasi nalar. Ini berbahaya, karena nalar adalah inti dari pendidikan tinggi.
ETIKA PENGGUNAAN AI: GARIS BATAS YANG SERING DILANGGAR
Banyak kampus berbicara tentang “etika AI”, tetapi sedikit yang benar-benar menerapkannya. Padahal, pelanggaran etika AI tidak selalu berupa plagiarisme terang-terangan. Justru yang paling berbahaya adalah pelanggaran halus, seperti:
-
mencantumkan referensi yang tidak pernah dibaca,
-
mengutip artikel hanya dari ringkasan AI,
-
menyusun tinjauan pustaka tanpa memahami posisi teori.
Ini melahirkan karya ilmiah yang tampak rapi secara administratif, tetapi rapuh secara intelektual.
ANALISIS KRITIS PLATFORM AI UNTUK PENCARIAN REFERENSI ILMIAH
Di bawah ini adalah pembahasan 13 platform AI, bukan sekadar deskriptif, tetapi kritik fungsional dan ideologis.
1. Chat PDF
Chat PDF menawarkan kemudahan luar biasa. Dengan fitur AI Scholar, ia menyederhanakan pencarian referensi menjadi aktivitas instan. Namun, kemudahan ini sering menipu.
Ringkasan AI membuat banyak mahasiswa tidak lagi membaca artikel penuh. Padahal, inti penelitian sering tersembunyi di metodologi dan diskusi, bukan di abstrak.
Chat PDF berbahaya jika dipakai sebagai pengganti membaca, tetapi sangat bermanfaat jika dipakai sebagai peta awal eksplorasi.
2. Scite AI
Scite AI adalah salah satu platform paling “jujur secara epistemik”. Ia menunjukkan bagaimana sebuah artikel digunakan: mendukung, menolak, atau sekadar menyebut.
Ini mengajarkan satu hal penting:
sitasi bukan sekadar angka, tetapi posisi argumentatif.
Sayangnya, sifat berbayarnya menciptakan ketimpangan akses. Ilmu kembali menjadi hak istimewa mereka yang mampu membayar.
3. Humata AI
Humata AI kuat dalam interaksi berbasis dokumen, tetapi lemah dalam sitasi formal. Ketiadaan DOI membuatnya berbahaya jika digunakan untuk tahap akhir penelitian.
Humata seharusnya ditempatkan sebagai alat diskusi intelektual, bukan sumber referensi final.
4. Gemini
Gemini mencerminkan ambisi Google menguasai ekosistem pengetahuan. Kecepatannya mengesankan, tetapi akurasinya harus selalu dicurigai.
Gemini sering mencampur jurnal dengan sumber populer. Jika pengguna tidak kritis, batas antara sains dan opini bisa kabur.
5. Connected Paper
Connected Paper adalah contoh bagaimana AI bisa memperkuat berpikir ilmiah. Visualisasi hubungan antar penelitian memaksa pengguna melihat konteks, bukan sekadar daftar.
Platform ini seharusnya wajib dikenalkan dalam mata kuliah metodologi penelitian.
6. SciSpace
SciSpace adalah pedang bermata dua. Ia memudahkan literature review, tetapi juga memanjakan kemalasan.
Tanpa pendampingan dosen, SciSpace berpotensi melahirkan generasi peneliti yang mahir mengklik, tetapi gagap berdialog dengan teori.
7. Open Alex
Open Alex menunjukkan bahwa keterbukaan data masih mungkin di era AI. Ia tidak terlalu “pintar”, tetapi akurat dan transparan.
Open Alex cocok bagi peneliti yang ingin mengendalikan proses berpikirnya sendiri.
8. Semantic Scholar
Semantic Scholar relatif stabil dan kredibel. Namun, ia tetap mesin. Tanpa literasi membaca, kualitas tetap tidak terjamin.
9. Research Rabbit
Research Rabbit menciptakan kenyamanan berbahaya: rekomendasi tanpa henti. Ini berpotensi menciptakan filter bubble akademik.
Peneliti bisa terjebak dalam topik yang itu-itu saja, tanpa terpapar kritik radikal.
10. Perplexity
Perplexity cepat dan ringkas. Cocok untuk eksplorasi awal, tetapi tidak cukup kuat untuk riset mendalam.
11. Elicit
Elicit adalah contoh AI yang dirancang untuk peneliti serius. Namun, kembali lagi, akses terbaiknya berbayar.
12. Consensus
Consensus berbahaya jika disalahpahami. Ilmu tidak selalu bergerak melalui konsensus. Banyak kemajuan lahir dari perlawanan terhadap arus utama.
13. ChatGPT
ChatGPT adalah simbol era ini. Fleksibel, populer, dan sering disalahgunakan. Dalam konteks referensi ilmiah, ChatGPT hanya boleh dipakai sebagai alat eksplorasi ide, bukan sumber data.
TANTANGAN BAGI DOSEN: KOREKSI DI ERA AI
Dosen hari ini menghadapi tantangan berat. Tugas mahasiswa tampak rapi, referensi panjang, bahasa akademik mengkilap—tetapi sering kosong makna.
Maka evaluasi tidak bisa lagi hanya berbasis:
-
format,
-
jumlah sitasi,
-
kelengkapan daftar pustaka.
Dosen harus kembali bertanya:
apakah mahasiswa memahami apa yang ia tulis?
JANGAN SERAHKAN MASA DEPAN ILMU PENGETAHUAN PADA ALGORITMA
AI akan terus berkembang. Platform akan semakin canggih. Tetapi satu hal tidak boleh berubah:
kedaulatan berpikir manusia.
Jika AI menggantikan membaca, maka universitas kehilangan ruhnya. Jika AI menggantikan berpikir, maka gelar akademik kehilangan maknanya.
Gunakan AI, tetapi jangan tunduk padanya.
Manfaatkan AI, tetapi jangan menyerahkan nalar kepadanya.
Karena ketika manusia berhenti berpikir,
AI tidak akan menggantikannya—
AI hanya akan mengulang masa lalu dengan lebih cepat.






