
Di Purworejo, sebuah kota kecil yang sering dianggap hanya persinggahan, lahirlah seorang lelaki yang kelak membuktikan bahwa hidup bukan soal tempat lahir, tetapi soal seberapa keras kamu mau berjuang. Anak itu bernama Kasdiman, anak ke-6 dalam keluarganya—posisi yang sering membuat seseorang tenggelam dalam hiruk pikuk saudara-saudara lain. Tapi tidak dengan dia. Ia justru tumbuh dengan mata yang tajam melihat hidup, telinga yang terbiasa dengan nasihat keras orang tua, dan hati yang ditempa kesederhanaan.
Dari kecil ia belajar satu hal: hidup tidak akan memberi apa-apa kalau kamu tidak merebutnya dengan kerja keras. Bukan mimpi yang membuatnya besar, tapi keringat.
Merantau: Pilihan yang Tidak Semua Orang Berani Ambil
Saat dewasa, Kasdiman melakukan hal yang banyak orang bicarakan tapi sedikit yang berani lakukan: merantau. Ia meninggalkan tanah kelahiran, pergi ke Boyolali—tempat yang asing, tanpa kepastian, tanpa jaminan. Tidak ada karpet merah menyambutnya, tetapi justru di tanah asing itulah nasibnya berubah.
Di Boyolali ia menemukan pekerjaan, tetapi yang lebih penting: ia menemukan pendamping hidup yang kelak berdiri di sampingnya dalam semua fase hidup—baik ketika ia masih “tidak punya apa-apa” maupun ketika ia mulai membangun usaha dengan keringat sendiri.
Mereka lalu menetap di Banyudono, sebuah wilayah yang bukan kota besar, bukan pusat ekonomi, tetapi justru di sanalah kehidupan membentuk dirinya menjadi sosok yang hari ini dihormati banyak orang.
Anak Tunggal yang Membuktikan Pengorbanan Tidak Sia-Sia
Dari pernikahan mereka lahirlah seorang anak tunggal. Satu. Tidak ada cadangan. Tidak ada pilihan lain selain memberikan yang terbaik pada satu-satunya harapan itu.
Anak itu tumbuh bukan dengan limpahan fasilitas, tetapi dengan limpahan doa. Ia melihat ayahnya keluar masuk rumah dalam keadaan lelah, kadang dengan baju bau kandang, kadang dengan mata memerah karena kurang tidur. Tapi justru dari sana ia belajar arti pengorbanan.
Dan hasilnya? Sang anak menjadi guru SMP Negeri, ASN, mengajar di Grobogan yang jaraknya sekitar 45 km dari Banyudono. Sebuah pencapaian yang tidak diraih oleh banyak anak dari keluarga sederhana.
Keberhasilan itu bukan sesuatu yang jatuh dari langit. Itu hasil dari darah, keringat, dan air mata orang tuanya—terutama ayahnya.
Dua Usaha, Satu Tubuh, Nol Keluhan
Haji Kasdiman bukan orang yang suka bicara besar. Ia tidak memposting motivasi di Facebook, tidak menulis quote di Instagram. Ia hanya punya dua hal: tangan yang bekerja dan hati yang bersyukur.
Ia menjalankan dua usaha berat:
-
Pemotongan ayam
-
Usaha koran
Dua pekerjaan yang bagi banyak orang mungkin terlalu melelahkan. Tapi ia menjalani semuanya bukan hanya demi uang, tetapi demi martabat: bahwa rezeki keluarganya harus datang dari usaha halal.
Rutinitas yang Bikin Orang Lain Menyerah di Hari Pertama
Mari bayangkan jadwal orang ini, bos. Siap-siap kaget.
15.00 – Wudhu, berangkat salat Ashar berjamaah.
15.30 – Ayam datang dari pengepul, ia langsung bekerja mengurus penerimaan.
18.00 – Salat Magrib. Lelah boleh, meninggalkan salat tidak boleh.
18.30–22.00 – Memproses ayam bersama dua stafnya.
23.30 – Berangkat ke Pasar Kartasura untuk menjual ayam.
00.00 – Mulai jualan. Pedagang lain sudah menunggu.
Sampai sini orang normal mungkin sudah tumbang. Tapi tidak dengan dia.
Setelah memastikan semuanya di pasar berjalan lancar:
03.30 – Pulang.
04.00 – Salat Subuh berjamaah. Bukan di rumah. Di masjid.
04.30 – Mulai mengantar koran ke rumah-rumah pelanggan.
05.30–10.30 – Menjaga lapak koran di Tulung, Klaten.
Kapan tidurnya?
Tunggu dulu.
11.00–12.00 – Istirahat 1 jam.
12.00–12.30 – Salat Dhuhur.
12.30–15.00 – Istirahat tahap kedua.
Lalu? Siklus dimulai lagi dari awal.
Setiap hari.
Tanpa jeda.
Tanpa libur.
Tanpa drama.
Bahkan ia masih rutin puasa Daud, salah satu ibadah paling berat yang tidak semua orang sanggup menjalankan.
Hidup yang Diam-Diam Menghajar Kita
Mungkin banyak orang suka mengeluh:
“Capek kerja 8 jam.”
“Lelah perjalanan 20 menit.”
“Gaji kurang.”
“Kerjaan ribet.”
Tapi kalau mereka melihat hidup Haji Kasdiman?
Bisa jadi mereka akan menutup mulut, lalu menunduk malu.
Ia tidak punya waktu untuk mengeluh. Mengeluh tidak akan menambah rezeki. Mengeluh tidak akan membuat anaknya berhasil. Mengeluh tidak akan menyelesaikan apa pun.
Dalam diamnya, ia sedang menghajar dunia:
bahwa tidak ada alasan untuk tidak berjuang.
Keteguhan yang Tidak Dibuat-Buat
Banyak orang menunjukkan kesalehan hanya ketika difoto. Banyak orang bekerja keras hanya ketika dilihat. Tetapi tidak dengan Haji Kasdiman. Ia tidak peduli apakah ada orang yang memuji atau tidak. Ia tidak butuh tepuk tangan. Ia hanya butuh hatinya tenang dan keluarganya cukup.
Ia salat bukan untuk dilihat,
ia bekerja bukan untuk dipuji,
ia istirahat bukan untuk bermalas-malasan,
dan ia hidup bukan untuk mengeluh.
Lelaki yang Membuktikan Bahwa Hidup Tidak Perlu Heboh Untuk Hebat
Kisah Haji Kasdiman adalah tamparan halus bagi kita semua: bahwa dunia ini masih punya orang-orang yang hidupnya keras tapi hatinya lembut. Orang-orang yang bekerja hampir 20 jam sehari, bukan untuk gaya-gayaan, bukan untuk memamerkan harta, tapi untuk memastikan keluarganya makan dari rezeki yang halal.
Ia adalah bukti bahwa:
Kesuksesan bukan soal kaya.
Kesuksesan adalah soal menjalani hidup dengan terhormat.






