banner 468x60

Yuan Badrianto, Dosen Universitas Pelita Bangsa : SEMANGAT JUANG 45 TEMPOE DOELOE DAN ZAMAN NOW

 Opini
banner 468x60
Yuan Badrianto, Dosen Universitas Pelita Bangsa : SEMANGAT JUANG 45 TEMPOE DOELOE DAN ZAMAN NOW

 

Survive! Adalah salah satu tujuan dari setiap perjuangan yang dimiliki manusia, bahkan survive dapat jadi tujuan utama dari setiap perjuangan baik organisasi maupun personal, strategi dari perjuangan ini tidak lain adalah upaya kita untuk beradaptasi dilingkungan baru atau adaptasi. Hal menantang dari suatu adaptasi adalah kita belum mengetahui karakter bawaan lingkungan tersebut baik cross culture dan heritage culture, sehingga ada suatu keterbatasaan dan waktu relatif dalam penyesuaian, bahkan ada pula yang tidak memiliki persiapan untuk melakukan perubahan dalam proses adaptasi tersebut, sehingga pada akhirnya, kita hanya melakukan trial and error sampai kita bisa blended dengan karakter yang dibawa oleh lingkungan baru tersebut.

 

Bicara dengan perjuangan dalama rangka survive di era dulu, lingkungan yang dibawa adalah lingkungan penjajahan, semangat juangnya lebih berfokus kepada semangat untuk berperang secara fisik. Pendahulu kita secara umum mengalami hambatan dalam komunikasi (bahasa), persenjataan yang dimiliki untuk melawan pun kalah canggih dan secara alat juang fisik tidak siap untuk berperang dikala itu, maka wajar kiranya jika dulu para buyut dan nenek moyang kita mempelajari ilmu bela diri, kekebalan peluru, memindahkan unsur alam sampai dengan menghilangkan diri/unvisible,  namun berbeda dengan semangat juang saat ini,  lingkungan yang dibawa adalah lingkungan dinamis dan eksponensial, perubahan terus menerus terjadi secara dramatis, kita dipaksa untuk terus beradaptasi atau kita tergerus oleh tsunami perubahan. Lalu mari kita kerucutkan pada semangat juang/survive  and grow up pada organisasi dan kompetensi personal, realitanya selalu ada lapangan kerja dan peluang kerja namun belum match antara lapangan kerja ada dengan yang pernah dipelajari di bangku kuliah maupun sekolah, banyak generasi yang masih terkekang dengan skill pekerjaan repetitip yang pastinya akan hilang digantikan mesin dan Artificial Intelegent, untuk itu semangat juang  saat ini adalah dorongan kuat untuk terjun dalam menguasai future skill.

 

Dorongan ini medan perang baru era kontemporer: perang kompetensil, baik dari perspektif perusahaan maupun perspektif pelamar kerja. Dimana dalam perspektif perusahaan kita menyebut perang ini  adalah perang kompetensi antara talent diperusahaannya dengan talent perusahaan lain. Sedangkan dalam perspektif pelamar kerja, ini adalah perang kompetensi untuk beradaptasi dan mendapatkan keterampilan baru, sehingga secara personal dia bisa menjadi unggul/kompeten dan terpilih berkompetisi sebagai employee atau ketika menjadi start up.

 

Selain hal tersebut, saat  ini proses bisnis kini bergeser ke digitasi, talent yang direkrut merupakan generasi milenial dengan karakter yang tech savvy, dan peperangannya adalah bagaimana tiap perusahaan berebut talent tersebut. Perebutan ini terjadi didasari dua hal, pertama, yang direkrut memiliki pilihan untuk melamar kerja ataukah membuat start up dari adaptasi mereka terhadap teknologi, kedua, dengan tech savvy mereka, mereka lebih mengenal dan mudah membandingkan profil perusahaan yang mereka minati, sehingga mereka bisa melamar keperusaahaan manapun yang mereka inginkan. Sehingga perusahaan pun berkompetisi untuk membranding diri mereka dan menciptakan lingkungan yang sesuai dengan gelombang generasi ini, termasuk dengan fasilitas yang dibutuhkan mereka.

 

Ketika tidak ada resources yang datang keperusahaan, tantangan yang dialami perusahaan untuk tetap maju adalah, bagaimana bagian learning center mendorong orang-orang yang kurang familiar dengan perkembangan teknologi dan sosial media sekarang, sehingga SDM perusahaan mereka masih tetap memiliki kompetensi untuk bisa bersaing dengan kompetitor. Bagaimanapun, adaptasi harus dilakukan karena seiring dengan perkembangan teknologi, akan selalu terjadi perubahan perilaku market. Adanya internet, online store, dan sosial media kini telah mengumpulkan market besar disatu flatform yang bisa diakses dengan cost yang sangat minim, ditambah dengan adanya kecerdasan buatan yang bisa meramu big data dengan cepat untuk membuat keputusan yang gesit dan akurat, membuat adaptasi ini menjadi keharusan atau bisnis perusahaan akan terlindas dan gulung tikar.

 

Dari perspektif pelamar kerja, perang kompetensi terjadi dalam adaptasi mereka terhadap teknologi dan perkembangan sosial media yang terus diperbaharui. Secara pembelajaran dikelas mereka belajar hal yang lain yang kini tidak banyak dibutuhkan ditempat kerja, pekerjaan repetitif yang biasanya mudah dilamar kini hilang digantikan dengan pekerjaan baru yang tidak mereka ketahui, dan dengan adanya internet yang membuat orang bisa belajar dimanapun, kapanpun, dan dalam hal apa pun, pesaing bisa muncul ditempat yang tidak dikira-kira. Jurusan kuliah tidak mutlak lagi menentukan kemana akan bekerja, yang menentukan adalah adaptasi mereka terhadap skill-skill baru yang mereka pelajari. Usia tidak menentukan lagi bargaining benefit dari pengalaman kerja, yang menentukan adalah hal apa yang bisa diberikan mereka terhadap perusahaan yang ada dalam kompetisi yang sangat dinamis.

 

Charles Darwin dengan Quotes yang sering kita dengar menyebutkan bahwa, yang bertahan hidup bukanlah yang terkuat atau terpintar tapi yang adaptif. Disini saya membalikan kalimat ini dengan logika yang setara dengan kalimat: Dalam bertahan hidup, orang yang terus menyesuaikan dirilah, yang pada akhirnya akan menjadi yang terkuat dan tercerdas!. Konteks perjuangan dulu dan sekarang sudah berbeda, dulu berjuang lebih menitik beratkan pada fisik, namun saat ini perjuangan menitik beratkan pada KOMPETENSI. kendati tujuan dari setiap perjuangan adalah sama, yaitu SURVIVE!

 

Yuan Badrianto

Dosen Universitas Pelita Bangsa

HR Practioner

banner 468x60

Author: 

Related Posts

Tinggalkan Balasan