banner 468x60

Eko Purbiyanto, S.Mn, M.M(Dosen Tinggal di Solo) : Pemberdayaan Ekonomi Berbasis Umat.

 Opini
banner 468x60
Eko Purbiyanto, S.Mn, M.M(Dosen Tinggal di Solo) : Pemberdayaan Ekonomi Berbasis Umat.

 

 

Apakah anda pernah mendengar nama-nama konglomerat berikut ini, tentu anda kagum dengan aset-aset milik konglomerat asal Indonesia tersebut? Berikut ini adalah nama-nama 5 (lima) besar konglomerat di Indonesia beserta usahanya:

 

(1) R. Budi & Michael Hartono (Rp 547,08 triliun) kekayaannya berasal dari investasi di Bank Central Asia (BCA),  sumber kekayaan Hartono bersaudara juga berasal dari bisnis rokok Djarum.

(2) Keluarga Widjaja (Rp 167.79 triliun) Saat ini keluarga Widjaja memiliki kekayaan atas Sinar Mas yang bergerak di bidang kertas, real estate, jasa keuangan, agribisnis dan telekomunikasi.

(3) Prajogo Pangestu (Rp 84,6 triliun) Ia memiliki perusahaan Barito Pacific Timber yang go public pada 1993, kemudian berganti nama menjadi Barito Pacific pada 2007 dan mengakuisisi 70 persen perusahaan petrokimia Chandra Asri. Pada 2011, Chandra Asri bergabung dengan Tri Polyta Indonesia dan menjadi produsen petrokimia terbesar di Indonesia.

(4) Anthoni Salim (Rp 83,19 triliun) memimpin Salim Group yang bergerak di perbankan, makanan, dan telekomunikasi. Salim Group memiliki PT Indomarco Prismatama (Indomaret Group) yang merupakan bisnis gerai waralaba terbesar di Indonesia yang diperkirakan tumbuh sampai 7 gerai per hari.  Anthoni Salim juga merupakan CEO Indofood. Mengutip Forbes, Salims memiliki saham di firma investasi First Pacific yang terdaftar di Hong Kong, yang memiliki aset 21,9 miliar dollar AS di enam negara.

(5) Sri Prakash Lohia (Rp 78,96 triliun) ia mendirikan pabrik benang Indorama Synthetics di Purwakarta. Pada 1992, ia melakukan diverifikasi, dengan merambah bisnis polyethyle yang merupakan bahan baku botol plastik seperti Coca-cola, Pepsi, dan Aqua. Prakash juga mendirikan Indorama Ventures. Saat ini, usahanya mencakup Indorama Shebin, Indorama IPLIK dan ISIN Lanka dengan produk memproduksi polyster, PETresin, polythyle, polypropylene hingga kain sarung tangan medis. Pada 1995, Indorama masuk ke bisnis real estate. Saat ini, bisnis Indorama sudah tersebar di 25 negara, termasuk di Asia Afrika dengan total karyawan mencapai 25 ribu orang. (www.kompas.com).

 

Apakah anda pernah membayangkan bahwa masjid sebagai pusat kegiatan umar islam menyimpan kekuatan ekonomi yang dasyat dan mampu mengalahkan para konglomerat tersebut diatas, mari kita jabarkan paparan berikut, yang lebih terfokus kedua ormas islam terbesar di indonesia yaitu NU dan Muhammadiyah.

 

Berawal dari masjid, selain sebagai tempat beribadah, masjid juga merupakan tempat strategis untuk pembangunan dan pemberdayaan umat. Salah satunya dalam sektor ekonomi. Potensi pemberdayaan ekonomi umat di masjid dimanfaatkan secara optimal. Untuk itu, diperlukan peningkatan fungsi masjid sebagai media pemberdayaan ekonomi umat.

 

“Masjid juga sangat potensial menjadi basis pemberdayaan ekonomi umat. Potensi ini yang dalam waktu yang cukup lama belum termanfaatkan secara baik. Oleh karena itu, penting sekali untuk mengembalikan salah satu fungsi masjid sebagai media pemberdayaan ekonomi umat,” ujar Wapres KH. Maruf Amin saat membuka Webinar tentang masjid di Jakarta, Rabu 08 Juli 2020. Lebih lanjut Wapres menyampaikan, kondisi ini terjadi karena masih adanya pemahaman yang menilai masjid tidak tepat untuk dijadikan pusat aktifitas ekonomi. Untuk itu, diperlukan model bisnis yang mendorong jemaah untuk terlibat secara langsung di dalamnya.

 

“Di antara cara yang bisa dilakukan adalah dengan menjadikan para jemaah masjid sebagai mata rantai ekonomi yang terintegrasi sebagai konsumen, produsen dan pemilik dalam kegiatan ekonomi yang dibangun melalui masjid. Terutama dalam memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari,” papar Wapres. (nusadaily.com)

 

NU dan Muhammadiyah

NU dan Muhammadiyah yang berdiri sebelum Indonesia merdeka. Mereka mempunyai peran penting dalam membangun ekonomi bangsa. Ormas-ormas ini memiliki rumah sakit, universitas, pesantren, sekolah dan badan-badan usaha amal ekonomi yang ikut mensejahterakan rakyat.

 

Muhammadiyah

Muhammadiyah didirikan di Yogyakarta pada tanggal 18 November 1912, oleh KH.Ahmad Dahlan. Saat ini Muhammadiyah memiliki amal usaha yang tersebar di seluruh bahkan pelosok-pelosok wilayah Indonesia, di bidang pendidikan dasar dan menengah dijumpai 7.651 sekolah dan madrasah, di bidang pendidikan tinggi 174 universitas, sekolah tinggi, institut, dan akademi. Di bidang pelayanan kesehatan dan kesejahteraan masyarakat terdapat rumah sakit 457, panti asuhan 318 buah, panti jompo 54 buah, dan rehabilitasi cacat 82 buah. Untuk bidang sarana ibadah terdapat masjid dan musalla sebanyak 11.198. Di samping itu, sejumlah Baitut Tamwil Muhammadiyah (BTM), Koperasi Matahari, minimarket, semakin memperlihatkan geliatnya yang signifikan (Abbas, 2015)

Valuasi aset Muhammadiyah yang dikalkulasi mendekati angka Rp. 320 triliun, belum lagi dana likuid (jangka pendek) yang tersimpan pada rekening yang dimiliki Muhammadiyah dan AUM, diperkirakan Rp. 15.000.000.000.000. (lima belas triliun rupiah) (Sudibyo, 2014). Dari jumlah sebesar itu, yang baru dimanfaatkan Muhammadiyah diestimasikan Rp. 1.500.000.000.000,00 (satu triliun lima ratus miliar rupiah) atau hanya 10%. (pribuminews.co.id)

 

Nahdhatul Ulama (NU)

Nahdhatul Ulama didirikan di Surabaya pada tanggal 31 Januari 1926 oleh KH.Hasyim Asy’ari. NU sangat mengakar dan berbasis pada pesantren. Jangan tanya jumlah, karena yang pasti sudah tidak bisa dihitung lagi, meskipun data di Kemenag ada sekitar 27 ribu pesantren. Tapi, saya yakin jumlahnya lebih dari itu. Hampir semuanya tumbuh kembang dari wakaf-wakaf umat, mulai dari wakaf tanah 1 m, hingga ratusan hektar. NU pun sejak satu dasawarsa terakhir ini giat membangun sekolah-sekolah modern, rumah sakit dan perguruan tinggi. Saya yakin dalam 20 tahun mendatang akan tumbuh ratusan perguruan tinggi dan rumah sakit NU di tanah air. Belum lagi jika kita bicara masjid-masjid yang dikelola ormas Islam yang didirikan oleh Hadratus Syaikh KH. Hasyim Asyari ini, berapa nilai asetnya? Yang pasti akan fantastis. (faktabanten.co.id)

 

Karena peran yang sangat besar itu, pemerintah menggandeng Nahdhatul Ulama (NU) dalam penyaluran kredit Rp100 triliun. “Kami ingin tandatangani nota kesepahaman antara tiga institusi ini dengan NU, terutama soal pemberdayaan ekonomi. Dalam rangka kami jalankan program untuk perkuat kegiatan ekonomi di tingkat masyarakat, terutama yg selama ini program KUR yg capai 100 T,” ujar Menteri Keuangan Sri Mulyani, di Kantor PBNU, Jakarta, Kamis (23 Februari 2018). (merdeka.com)

 

Jumlah Warga NU dan Muhammadiyah

Sebenarnya berapa jumlah Nahdliyin, sebutan untuk warga NU, di Indonesia. Cukup beragam jawabannya. Mengacu data Sensus Penduduk 2010 yang dikeluarkan Badan Pusat Statistik (BPS) jumlah penduduk Indonesia yang beragama Islam sebesar 87,18%. Menggunakan data ini maka tahun 2016 penduduk Indonesia yang beragama Islam berjumlah 223,18 juta Jiwa.

 

Angka yang beredar di media menyebutkan bahwa warga Nahdliyin berkisar diangka 60 juta sampai 120 juta jiwa. Didalam buku “NU dan ke-Indonesiaan” karya Mohammad Sobary (hal. 107, 2010) menyebutkan bahwa KH. Hasyim Muzadi pernah menyatakan jumlah warga NU sekitar 60 juta. Akan tetapi, Gus Dur menaksir lebih banyak; lebih dari 50 persen orang Indonesia adalah warga NU. Jadi sekitar 120 juta. Survey IndoBarometer menyebutkan sekitar 75 persen mengaku warga nahdliyin. Artinya jumlah warga NU sekitar 143 juta tahun 2000  Survei yang dilakuka oleh LSI menunjukkan warga yang teridentifikasi Nahdhatul Ulama (NU) 36,5%, sedangkan Muhammadiyah hanya 5,4% (hasanuddinali.com)

 

Dari paparan diatas bisa ditarik kesimpulan bahwa, umat islam di indonesia yang mayoritas yang berjumlah sekitar 87,18% dari total jumlah penduduk di Indonesia yang beragama Islam  menyimpan potensi ekonomi yang luar biasa. Amal usaha Muhammadiyah yang tersebar di seluruh bahkan pelosok-pelosok wilayah Indonesia, ditambah pondok pesantren NU jumlah sekitar 27 ribu pesantren (menurut data di Kemenag) adalah aset bangsa  yang besar.

 

“Organisasi Islam di Indonesia seperti Nahdlatul Ulama (NU) dan Muhammadiyah merupakan aset berharga yang telah banyak berkontribusi dalam mengembangkan pemahaman dan gerakan Islam yang damai dan manfaat,” kata Raja Abdullah II dari Yordania dalam keterangan tertulis yang dilansir oleh Kementerian Luar Negeri. Hal itu dikatakan Raja Yordania tersebut pada utusan khusus Presiden RI, Alwi Shihab, di Istana Hussainiya, Amman, Yordania. (Rabu, 18 maret 2015). (republika.co.id).

 

Kalau begitu, berarti umat Islam di Indonesia ini adalah umat yang besar dan kaya dong? Betul sekali! Yang luar biasa dengan aset yang fantastis itu, Kiai pendiri, pengasuh dan keluarganya tidak memiliki satu sen pun, karena telah diwakafkan. Ada garis tegas pemisahan harta pribadi dengan harta pondok. Aset yang jumlahnya fantastis, luar biasa besar itu semuanya dikembalikan dan dimanfaatkan untuk kesejahteraan serta kemakmuran umat.

 

Penulis adalah Dosen di AMIK Harapan Bangsa Surakarta.

banner 468x60

Author: 

Related Posts

Tinggalkan Balasan