banner 468x60

Belajar dari Umar Bin Khattab dan Umar bin Abdul Aziz

 Opini
banner 468x60
Belajar dari Umar Bin Khattab dan Umar bin Abdul Aziz

Sangat disayangkan terjadinya kisah memilukan yang dialami seorang ibu berinisial NA (32) di Kota Bekasi. Ia kehilangan anaknya yang berusia 2 tahun untuk selamanya. Tragisnya, puteranya itu meninggal dunia dalam gendongannya. Peristiwa memilukan itu terjadi saat bocah itu dibawa ibunya untuk mengemis di Pasar Bantar Gebang, Kota Bekasi, pada Kamis (26/12) siang (detikNews.com). Kapolsek Bantargebang, Kompol Alam Nur, mengatakan, balita tersebut sudah sakit selama empat hari. Sang ibu, Nur Astuti Anjaya (32 tahun), disebut telah meminta bantuan kepada tetangga di sekitar kediamannya. Namun, karena lingkungan kediamannya yang berlatar belakang ekonomi sama, permintaan bantuan itu tak digubris (https://republika.co.id).

Kejadian seperti itu harusnya tidak terjadi di negara dengan peringkat 97 negara terkaya didunia yang dikutip dari global finance, sebaliknya data dari Badan statistik Nasional mencatat kenaikan jumlah penduduk miskin di Indonesia menjadi 26,42 juta jiwa penduduk miskin atau mengalami kenaikan sebesar 9,78persen ditahun 2020. Disatu sisi Indonesia memiliki kekayaan yang melimpah disatu sisi masih banyaknya masyarakat miskin yang tinggal di negeri tercinta ini

Bagaimanakah harusnya masyarakat miskin tersebut diperlakukan? Dalam Undang-undang Nomor 13 Tahun 2011 tentang Penanganan Fakir Miskin dijelaskan bahwa negara bertanggung jawab untuk memelihara fakir miskin guna memenuhi kebutuhan dasar yang layak bagi kemanusiaan. Dalam pasal 1 juga dijelaskan bahwa Penanganan fakir miskin adalah upaya yang terarah, terpadu, dan berkelanjutan yang dilakukan Pemerintah, pemerintah daerah, dan/atau masyarakat dalam bentuk kebijakan, program dan kegiatan pemberdayaan, pendampingan, serta fasilitasi untuk memenuhi kebutuhan dasar setiap warga negara.

Sedangkan dalam pasal 3 disebutkan hak fakir miskin diantaranya: Memperoleh kecukupan pangan, sandang, dan perumahan; pelayanan kesehatan; pendidikan yang dapat meningkatkan martabatnya; Mendapatkan perlindungan sosial dalam membangun, mengembangkan, dan memberdayakan diri dan keluarganya sesuai dengan karakter budayanya; Mendapatkan pelayanan sosial melalui jaminan sosial, pemberdayaan sosial, dan rehabilitasi sosial dalam membangun, mengembangkan, serta memberdayakan diri dan keluarganya; Memperoleh derajat kehidupan yang layak; Memperoleh lingkungan hidup yang sehat; dapat Meningkatkan kondisi kesejahteraan yang berkesinambungan; dan Memperoleh pekerjaan dan kesempatan berusaha.

Kalau sesuai aturan tersebut harusnya tidak akan ada masyarakat miskin di negeri tercinta ini dikarenakan ada jaminan hak – hak yang diatur dalam Undang – undang tersebut.

Pertanyaannya adalah kenapa kasus – kasus seperti ini masih terjadi?

Ada beberapa faktor yang menyebabkan hal tersebut, diantaranya adalah kurangnya peran pemerintah dan masyarakat sekitar. Hal tersebut terlihat dari kelalaian pemerintah dalam mendata dan membantu warganya. Selain itu juga Ibu tersebut juga sebelumnya pernah meminta bantuan ke masyarakat sekitar tetapi karena kondisi masyarakat disekitarnya juga kurang mampu sehingga tidak mendapatkan bantuan. Peran pemerintah dalam mengentaskan kemiskinan harusnya lebih diprioritaskan sehingga hal – hal seperti ini tidak akan terjadi lagi. Karena pada dasarnya semua hal akan dimintai pertanggungjawabannya. Rasulullah saw. bersabda, “Seorang imam adalah pemelihara dan pengatur urusan rakyat, dan ia akan diminta pertanggungjawaban terhadap rakyatnya.” (HR Bukhari-Muslim)

Kembali dengan kasus diatas, harusnya ini menjadi PR besar bagi pemerintah untuk mengentaskan kemiskinan supaya kesejahteraan masyarakat terwujud.

Adakah masa dimana tidak ada warga yang miskin?

Saya ingat cerita tentang masa kepimimpinan Umar Bin Khattab, dimana beliau setiap malam berkeliling untuk memastikan tidak ada warganya yang kekurangan, suatu malam beliau mengajak asistennya Aslam untuk berkeliling untuk memastikan tidak ada warganya yang kekurangan, Umar melihat pondok yang masih menyala dan mendengar suara tangisan anak – anak. Kemudia beliau datang ke rumah tersebut dan melihat Ibu tersebut sedang memasak sesuatu yang dikelilingin anak – anaknya yang sedang menangis. Kemudian beliau bertanya apa yang menjadi penyebab anak anak tersebut menangis? Ibu tersebut menjawab anak – anaknya kelaparan. Ibu itu berharap anak – anaknya Lelah menunggunya masak hingga akhirnya tertidur. Semua bahan makanan sudah tidak ada. Sehingga Ibu tersebut memasak batu. Umar bin Khattab tersentak mendegar jawaban Ibu tersebut, lalu beliau mengambil bahan – bahan makanan untuk diserahkan ke Ibu tersebut. Beliau juga memasak makanan untuk Ibu dan anak – anak tersebut. Beliau sangat takut Ketika dimintai pertanggungjawabannya nanti diakhirat, sehingga beliau selalu ingin memastikan bahwa tidak ada masyarakat yang kekurangan selama masa kepemimpinan beliau.

Ada juga cerita masa kepemimpinan Amirul Mukminin Umar bin Abdul Aziz, Khalifah dari Dinasti Umayyah. Pada masa kepemimpinan beliau sangat sulit mencari orang miskin. Petugas pemungut zakat Yahya bin Said pada masa kepimimpinan beliau mengatakan bahwa Setelah memungut zakat bermaksud memberikannya kepada orang-orang miskin Namun, yahya tidak menjumpai seorang pun. Dikisahkan oleh Abu Ubaid Khalifah Umar bin Abdul Aziz berkirim surat kepada Hamid bin Abdurrahman, Gubernur Irak, agar membayar semua gaji dan hak rutin di provinsi itu, tetapi jawaban surat tersebut adalah bahwa Gubernur tersebut sudah membayarkan gaji dan hak mereka tetapi di Baitul Mal masih banyak uang. Selain itu Umar bin Abdul Aziz juga menyuruh membayarkan hutang bagi yang gak mampu, membiayai pernikahan warganya yang belum menikah, memberikan modal kepada masyarakatnya, dan lain sebagainya dan walaupun semua hal tersebut sudah dilakukan saldo uang di Baitul Mal masih banyak.

PR kita sebagai penerus bangsa masih lah banyak. Belum lagi baru baru ini Transparency International merilis laporan bertajuk Global Corruption Barometer-Asia, mendudukkan Indonesia sebagai negara nomor tiga paling korup di Asia. Data ini bukanlah berupa data yang harus kita banggakan. Malah harus direnungkan, banyaknya PR yang harus dibenahi.

Lisa Kustina

Dosen Universitas Pelita Bangsa

Mahasiswi Doctoral Ilmu Manajemen Universitas Padjadjaran

banner 468x60

Author: 

Related Posts

Tinggalkan Balasan