banner 468x60

ISEI, MES, dan ICMI Solo Satukan Pandangan soal Tantangan Ekonomi 2026

 Nasional
banner 468x60
ISEI, MES, dan ICMI Solo Satukan Pandangan soal Tantangan Ekonomi 2026

Solo(Jaringan Arwira Media Group)- Ikatan Sarjana Ekonomi Indonesia (ISEI) Solo bersama Masyarakat Ekonomi Syariah (MES) dan Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia (ICMI) Solo menggelar Seminar Akhir Tahun bertajuk “Masa Depan Purbayanomics: Outlook Ekonomi 2026”, Jumat (19/12/2025), di Adhiwangsa Hotel, Solo.

Seminar ini menjadi forum strategis untuk membedah arah perekonomian nasional dan regional menjelang 2026, khususnya dalam konteks kawasan Solo Raya yang memiliki karakter ekonomi unik berbasis jasa, UMKM, perdagangan, pendidikan, serta ekonomi kreatif.

Ketua ISEI Solo, Lukman Hakim, Ph.D, menegaskan bahwa seminar akhir tahun ini bukan sekadar agenda rutin organisasi, melainkan ruang penting untuk melakukan refleksi dan proyeksi ekonomi daerah secara lebih mendalam dan berbasis analisis ilmiah.

“Forum ini sangat penting karena kita sedang berada pada fase transisi ekonomi. Tahun 2026 akan menjadi periode krusial, di mana daerah tidak bisa lagi hanya mengandalkan pola pertumbuhan lama. Kita harus membaca ulang arah ekonomi Solo Raya secara lebih tajam,” ujar Lukman Hakim kepada Jaringan Arwira Media Group.

Lukman Hakim menjelaskan bahwa tantangan ekonomi 2026 tidak bisa dilepaskan dari kondisi global yang masih bergejolak, mulai dari ketidakpastian geopolitik, fluktuasi harga komoditas, hingga perubahan arah kebijakan moneter internasional.

Dalam situasi tersebut, daerah harus memiliki ketahanan ekonomi internal yang kuat, termasuk daya beli masyarakat, ketahanan UMKM, serta kualitas sumber daya manusia.

“Ekonomi daerah harus berdiri di atas fondasi yang kokoh. Ketika tekanan global datang, daerah yang siap secara struktur ekonomi akan lebih tahan dibanding yang hanya bergantung pada satu sektor,” ujar Lukman.

Peran Strategis Forum Ilmiah

Lukman Hakim menekankan bahwa seminar ini dirancang sebagai forum ilmiah dan kebijakan, bukan sekadar diskusi normatif. Karena itu, pembicara yang dihadirkan berasal dari unsur kebijakan moneter, akademisi, serta pemerintah pusat.

Seminar ini menghadirkan Dwiyanto Cahyo Sumirat, SE, MIDEC selaku Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia Solo, Prof. Bhimo Rizky Samudro, Ph.D selaku Dekan Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Sebelas Maret (FEB UNS), serta Dwidadi Sugito, S.Ak, M.M, Staf Khusus Kementerian Perumahan dan Kawasan Permukiman. Diskusi dipandu oleh Budi Wahyono, Ph.D, Sekretaris MES.

Meski demikian, Lukman menegaskan bahwa tujuan utama forum ini adalah menghasilkan pemahaman kolektif dan rekomendasi strategis bagi pembangunan ekonomi daerah.

“ISEI ingin memastikan bahwa diskursus ekonomi tidak berhenti di ruang akademik. Hasil pemikiran dari forum seperti ini harus bisa diterjemahkan menjadi referensi kebijakan yang konkret,” katanya.

Lebih lanjut, Lukman Hakim menyampaikan bahwa tantangan ekonomi ke depan tidak bisa dihadapi oleh satu aktor saja. Diperlukan kolaborasi yang erat antara akademisi, regulator, pelaku usaha, dan masyarakat.

ISEI Solo, menurutnya, berkomitmen untuk terus memainkan peran sebagai jembatan pemikiran antara dunia akademik dan pengambil kebijakan.

“ISEI berada di posisi strategis untuk menghubungkan riset, data, dan kebijakan. Tanpa kolaborasi, kita akan menghadapi risiko kebijakan yang tidak tepat sasaran,” ujarnya.

Ia juga menyoroti pentingnya menjadikan data dan riset sebagai dasar utama dalam perumusan kebijakan ekonomi daerah, terutama di tengah keterbatasan fiskal dan meningkatnya kebutuhan masyarakat.

“Era kebijakan berbasis asumsi sudah lewat. Ke depan, semua harus berbasis data dan analisis. Itulah yang ingin kami dorong melalui seminar ini,” kata Lukman.

Lukman Hakim menilai bahwa optimisme terhadap masa depan ekonomi tetap perlu dijaga, namun harus disertai sikap realistis dan kesiapan menghadapi risiko.

“Optimisme tanpa perhitungan adalah ilusi. Tapi pesimisme juga tidak membawa solusi. Yang kita butuhkan adalah optimisme yang kritis dan berbasis analisis,” ujarnya.

Ia berharap seminar akhir tahun ini dapat menjadi pijakan awal bagi penyusunan agenda ekonomi daerah yang lebih terarah menjelang 2026.

“Purbayanomics harus menjadi kerangka berpikir yang adaptif, inklusif, dan berkelanjutan. Jika itu bisa kita bangun bersama, maka Solo Raya memiliki peluang besar untuk tumbuh lebih kuat dan berkeadilan,” pungkas Lukman Hakim.(**)

banner 468x60

Author: 

Related Posts

Tinggalkan Balasan