banner 468x60

Tersentuh Hati di SD Negeri 2 Gunungsari: Mahasiswa KKN Universitas Boyolali Kelompok 18 Sosialisasikan Pencegahan Bullying, Korban Berani Bersuara

 Kampus
banner 468x60
Tersentuh Hati di SD Negeri 2 Gunungsari: Mahasiswa KKN Universitas Boyolali Kelompok 18 Sosialisasikan Pencegahan Bullying, Korban Berani Bersuara

 

 

Boyolali(JARINGAN ARWIRA MEDIA GROUP)– Selasa(12/08/2025) Pagi itu, udara di Desa Gunungsari, Kecamatan Wonosamudro, Kabupaten Boyolali, Jawa Tengah terasa segar. Di halaman SD Negeri 2 Gunungsari, deretan kursi plastik telah tertata rapi. Ratusan mata kecil yang penuh rasa ingin tahu menatap ke arah depan, tempat para mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Universitas Boyolali (UBY) kelompok 18 bersiap memulai kegiatan “Sosialisasi Pencegahan Tindakan Bullying”.

Kegiatan KKN yang berlangsung selama satu bulan, sejak 21 Juli hingga 21 Agustus 2025 ini, dilaksanakan oleh Kelompok 18 dengan bimbingan dua Dosen Pembimbing Lapangan (DPL), yaitu Ir. Sigit Muryanto, MP dan Hari Purwanto, SE, MM.

Sebanyak 15 mahasiswa dari berbagai program studi terjun langsung ke masyarakat untuk menjalankan program kerja. Komposisi mahasiswa ini terdiri dari 2 mahasiswa Peternakan, 1 dari Teknologi Informasi (TI), 2 dari Ilmu Komunikasi (Ilkom), 4 dari Manajemen, 2 dari Akuntansi, dan 4 dari Ilmu Hukum. Keberagaman latar belakang akademik ini menjadi kekuatan utama kelompok untuk menghadirkan inovasi dan kegiatan yang beragam, menyentuh berbagai aspek kehidupan masyarakat.

Kegiatan ini bukan sekadar penyuluhan biasa. Ada tujuan besar di baliknya: membangun kesadaran sejak dini bahwa bullying bukan “kenakalan anak-anak” yang bisa dianggap sepele, melainkan masalah serius yang dapat menghancurkan mental dan masa depan korban maupun pelaku.

Sosialisasi ini lahir dari kolaborasi Pemerintah Desa Gunungsari, pihak sekolah, dan mahasiswa KKN UBY. Targetnya adalah siswa kelas 4 hingga 6, kelompok usia yang mulai memahami interaksi sosial secara lebih kompleks, sekaligus rawan terlibat atau menjadi korban perundungan.

Sejak awal acara, suasana sudah hidup. Mahasiswa tidak hanya memberikan materi satu arah, tetapi juga melibatkan siswa dalam tanya jawab, permainan edukatif, dan diskusi kelompok. Materi yang disampaikan mencakup:

  • Pengertian bullying dan jenis-jenisnya (verbal, fisik, sosial, dan siber)

  • Dampak negatif terhadap korban dan pelaku

  • Langkah pencegahan di sekolah dan rumah

  • Cara penanganan ketika bullying terjadi

Metode unik yang digunakan adalah “peta luka”: siswa menuliskan dampak bullying di secarik kertas, lalu menempelkannya pada bagian tubuh boneka atau gambar manusia yang dianggap “terluka” akibat perundungan.

Di tengah sesi berbagi pengalaman, suasana mendadak hening. Seorang siswa perempuan maju ke depan kelas, memegang mikrofon dengan tangan yang sedikit bergetar. Dengan suara lirih, ia berkata:

“Aku korban bullying salah satu teman sendiri, kak. Rambutku pernah dijambak dan perutku ditendang. Setelah itu aku menangis sambil pulang jalan kaki sendiri. Aku tidak berani mengadukan perbuatan temanku kepada orang lain. Sampai sekarang aku masih takut.”

Kisah tersebut membuat ruangan sunyi seketika. Para guru dan mahasiswa KKN segera memberikan dukungan moral, menenangkan sang anak, dan memastikan ia mendapatkan pendampingan. Momen itu menjadi pengingat bahwa bullying benar-benar nyata dan meninggalkan luka yang dalam, bahkan di lingkungan sekolah dasar yang terlihat damai.

Para mahasiswa menjelaskan bahwa bullying dapat menghancurkan rasa percaya diri, memicu stres, depresi, dan trauma berkepanjangan. Dalam kasus ekstrem, korban bisa memiliki keinginan untuk menyakiti diri sendiri atau bahkan bunuh diri.

Pelaku bullying pun tidak lepas dari dampak buruk. Mereka berisiko tumbuh dengan perilaku agresif, kesulitan membangun empati, dan bahkan berhadapan dengan masalah hukum di masa depan.

“Bullying bukan hanya masalah korban, tapi masalah seluruh ekosistem sekolah. Semua pihak harus terlibat dalam pencegahannya,” tegas salah satu anggota KKN.

Kepala SD Negeri 2 Gunungsari menyampaikan apresiasi atas kegiatan ini. Menurutnya, sosialisasi seperti ini perlu diadakan secara berkala agar siswa, guru, dan orang tua lebih peka terhadap tanda-tanda perundungan.

Mahasiswa KKN berharap, kegiatan ini dapat membangun kesadaran kolektif. Guru diharapkan lebih cepat merespons perubahan perilaku siswa, orang tua mau mendengar keluh kesah anak, dan siswa berani melaporkan kejadian bullying tanpa takut.

“Kami ingin anak-anak tahu bahwa mereka tidak sendirian. Ada guru, orang tua, dan teman yang siap membantu. Pencegahan bullying adalah tanggung jawab bersama,” ujar salah satu anggota KKN.

Keberhasilan kegiatan ini tidak lepas dari kerja sama solid anggota tim:

  • Ahmad Kurniawan – Koordinator Desa (Kordes), mengatur jalannya program dan memastikan setiap kegiatan berjalan sesuai rencana. Ahmad mengaku senang karena program ini mendapat respon positif dari siswa dan guru.

  • Wahyu Cahyaningsih – Sekretaris, bertugas merancang materi sosialisasi, mendokumentasikan kegiatan, dan mengatur administrasi. Ia merasa puas dan gembira karena semua persiapan terbayar dengan antusiasme siswa.

  • Rika Widyastuti – Bendahara, mengelola anggaran kegiatan dengan teliti. Ia merasa lega karena kegiatan berjalan lancar tanpa hambatan berarti, baik dari sisi dana maupun pelaksanaan. Dan tentu semua anggota yang bersinergi dengan baik, saling melengkapi.

Salah satu anggota Kelompok 18 KKN UBY, Oktavia Riky Ramadhan, mengungkapkan rasa bahagianya selama menjalani kegiatan di desa ini.

“Saya sangat senang melaksanakan KKN di Desa Gunungsari. Warganya ramah, lingkungannya asri, dan setiap program yang kami jalankan mendapat dukungan penuh. Ini pengalaman yang sangat berharga,” ujarnya.

Menurut Oktavia, interaksi langsung dengan masyarakat memberikan pelajaran berharga yang tak didapatkan di bangku kuliah. Mulai dari belajar memahami kebutuhan warga, bekerja sama dalam tim lintas disiplin, hingga terlibat langsung dalam kegiatan sosial.

Kerja sama yang baik antara kordes, sekretaris, dan bendahara membuat kegiatan ini tidak hanya sukses secara teknis, tetapi juga meninggalkan kesan mendalam bagi semua yang terlibat.

Bagi mahasiswa KKN UBY kelompok 18, kegiatan ini adalah bukti bahwa perubahan besar bisa dimulai dari langkah kecil. Mendengarkan cerita siswa, memberikan edukasi, dan menciptakan ruang aman untuk berbagi adalah pondasi penting dalam membangun lingkungan belajar yang sehat.

Sosialisasi ini mungkin hanya berlangsung beberapa jam, tetapi pesan yang dibawanya diharapkan tertanam kuat di benak para siswa: bullying bukan hal biasa, dan setiap orang punya peran untuk menghentikannya.(**)

banner 468x60

Author: 

Related Posts

Tinggalkan Balasan