
Boyolali(JARINGAN ARWIRA MEDIA GROUP)- Balai Desa Bolo, Kecamatan Wonosegoro, Kabupaten Boyolali, Jawa Tengah pada hari Sabtu(02/08/2025) pagi itu terasa berbeda. Sejak matahari menanjak, puluhan warga berdatangan dengan penuh antusias. Ada bapak-bapak peternak mengenakan topi cap, ibu-ibu membawa buku catatan kecil, hingga pemuda desa yang bersemangat duduk di kursi bagian depan. Mereka hadir bukan sekadar mengikuti acara seremonial, tetapi untuk menyerap ilmu baru yang diyakini dapat meningkatkan kesejahteraan ternak, sekaligus kesejahteraan keluarga mereka.
Kegiatan ini merupakan bagian dari program Kuliah Kerja Nyata (KKN) Tim 02 mahasiswa dari Universitas Boyolali(UBY), yang mengusung tema “Aksi Nyata Mahasiswa untuk Kesejahteraan Peternak Lokal”. Fokus kegiatan meliputi manajemen pembibitan ternak, kesehatan hewan, serta penerapan teknologi pakan modern melalui silase dan fermentasi.
Sebanyak 16 mahasiswa dari berbagai program studi — mulai dari Peternakan, Teknik Informatika (TI), Ilmu Komunikasi, Manajemen, Akuntansi, hingga Ilmu Hukum — terlibat aktif dalam kegiatan ini. Mereka berkolaborasi sejak tahap persiapan, mulai dari penyusunan materi, pengaturan teknis acara, hingga membangun komunikasi dengan masyarakat desa.
“Kolaborasi lintas disiplin ini membuat kegiatan lebih matang. Mahasiswa peternakan memberi materi inti, sementara dari komunikasi dan manajemen membantu mengelola acara agar lebih interaktif. Begitu pula mahasiswa hukum dan akuntansi, yang ikut menjelaskan aspek regulasi dan pencatatan usaha sederhana bagi peternak,” ujar salah seorang anggota tim.
Dua Dosen Pembimbing Lapangan (DPL), yakni Sri Budi Raharjo, SH, MH dan Dra. Listyowati Puji Rahayu, MM, selalu memberi semangat. Kehadiran mereka menjadi energi tambahan bagi mahasiswa sekaligus penguat hubungan antara kampus dan masyarakat.
“Mahasiswa harus bisa membawa manfaat langsung, bukan hanya bagi dirinya, tetapi juga bagi warga. Inilah wujud nyata pengabdian kampus untuk masyarakat,” pesan Sri Budi Raharjo.
Yang membuat acara semakin menarik adalah keterlibatan generasi muda Desa Bolo. Para pemuda desa duduk di barisan depan, mendengarkan materi dengan penuh perhatian.
“Senang sekali bisa ikut belajar. Biasanya kami hanya tahu memberi makan sapi dengan rumput segar. Ternyata ada cara mengawetkan pakan supaya tidak cepat busuk,” ujar Sigit (22), salah satu pemuda yang semangat mengikuti praktik pembuatan silase.
Acara dibuka dengan pemaparan teori seputar manajemen pembibitan sapi: mulai dari pemilihan indukan, perawatan pedet (anak sapi), hingga pencegahan penyakit. Dilanjutkan dengan materi kesehatan ternak, peserta diajarkan mengenali tanda-tanda penyakit umum dan langkah penanganan dini.
Namun suasana semakin hidup ketika memasuki sesi praktik. Mahasiswa memandu warga membuat pakan silase dari batang jagung dan daun singkong. Ibu-ibu yang awalnya hanya menonton, mulai ikut memegang pisau pemotong. Anak-anak muda sibuk membantu proses pencampuran bahan dengan starter fermentasi, lalu mengemasnya ke dalam drum plastik.
“Kalau disimpan dengan cara ini, pakan bisa awet berbulan-bulan dan tetap bergizi,” jelas salah satu mahasiswa instruktur.
Kepala Desa Bolo dalam sambutannya mengapresiasi kehadiran mahasiswa.
“Kami bangga dan berterima kasih kepada mahasiswa yang mau turun langsung. Ini bukti bahwa ilmu dari kampus bisa benar-benar dirasakan masyarakat. Apalagi ditambah dengan pembagian obat, vitamin, dan mineral ternak. Semoga peternak kami semakin sejahtera,” ucapnya.
Selain pengetahuan baru, warga juga mendapatkan bantuan berupa obat-obatan, vitamin, dan mineral untuk ternak. Bantuan ini menjadi pelengkap dari ilmu yang diperoleh.
“Obat ini bisa langsung kami gunakan untuk sapi bunting. Sangat membantu,” tutur Ibu Sri, salah seorang peternak.
Kegiatan ditutup dengan suasana penuh tawa dan harapan. Para bapak membawa pulang paket bantuan, ibu-ibu menggenggam catatan berisi resep silase, sementara pemuda desa sudah berencana mencoba membuat pakan fermentasi di rumah.
Bagi mahasiswa, kegiatan ini adalah kesempatan untuk mempraktikkan ilmu sekaligus berbakti. Bagi warga, ini menjadi pintu masuk menuju pola peternakan yang lebih modern, sehat, dan berkelanjutan.
Kolaborasi antara kampus, pemerintah desa, dan masyarakat ini menjadi potret nyata bahwa ketika ilmu, semangat muda, dan pengalaman bertemu, maka jalan menuju kesejahteraan bersama akan terbuka lebar. Desa Bolo hari itu tidak hanya menjadi saksi pembelajaran, tetapi juga titik awal lahirnya optimisme baru dalam dunia peternakan lokal.(**)










