
Cilacap(Jaringan Arwira Media Group)– Upaya menjadikan Desa Gentasari, Kecamatan Kroya, Kabupaten Cilacap, sebagai pusat wisata edukasi berbasis technopreneurship terus menunjukkan perkembangan positif. Pada Senin, 8 September 2025, puluhan warga yang tergabung dalam Tim Penggerak PKK Desa Gentasari mengikuti Pelatihan Pembuatan Kukis Temulawak yang digelar di Balai Desa Gentasari. Kegiatan ini menjadi salah satu langkah konkret untuk menghadirkan inovasi produk berbahan herbal sekaligus memperkuat identitas Desa Gentasari sebagai Desa Jamu.
Pelatihan tersebut diinisiasi oleh Lina Puspitasari, SST., MPH, dosen Program Studi Kebidanan, Fakultas Kesehatan Universitas Amikom Purwokerto. Melalui kegiatan ini, ia ingin mendorong pemberdayaan masyarakat, terutama ibu-ibu PKK, agar mampu mengolah tanaman herbal lokal menjadi produk pangan modern yang bernilai ekonomis.
Dalam sambutannya, Lina menjelaskan bahwa temulawak merupakan tanaman unggulan Desa Gentasari yang selama ini dikenal sebagai bahan ramuan tradisional. Namun, pemanfaatannya masih banyak terbatas pada jamu konsumsi. Menurutnya, temulawak memiliki potensi besar untuk dikembangkan menjadi berbagai jenis produk inovatif yang lebih menarik bagi pasar.
“Temulawak ini tidak hanya menyehatkan, tapi juga memiliki nilai ekonomi yang tinggi jika diolah dengan kreatif. Melalui pelatihan ini, peserta diajak memahami proses produksi kukis temulawak sekaligus mengenal cara melihat peluang usaha, teknik pemasaran, dan pentingnya inovasi di sektor herbal,” kata Lina.
Ia juga menyampaikan apresiasi kepada Universitas Amikom Purwokerto yang memberikan dukungan penuh dalam pelaksanaan kegiatan ini. “Kami berterima kasih kepada universitas yang sudah memfasilitasi. Harapannya, pelatihan ini tidak berhenti hanya pada pembuatan kukis, tetapi juga bisa berkembang menjadi usaha rumahan yang berdampak bagi peningkatan ekonomi keluarga,” ujarnya.
Peserta Antusias, Dari Belajar Mengolah Bahan Hingga Pengemasan
Antusiasme peserta terlihat sejak awal kegiatan. Mereka mengikuti setiap sesi dengan penuh perhatian, mulai dari pengenalan bahan, proses pencampuran adonan, teknik pengovenan, hingga pengemasan sederhana. Suasana ruang pelatihan tampak hangat, dengan diskusi spontan mengenai tekstur adonan, tingkat kematangan, hingga strategi agar kukis memiliki daya tarik visual yang lebih baik.
Salah satu peserta, Siti Aminah (43), mengaku baru pertama kali mengetahui bahwa temulawak bisa diolah menjadi kukis. Menurutnya, pelatihan ini membuka wawasan baru dan memberikan inspirasi untuk mencoba usaha kecil di rumah.
“Biasanya kami hanya bikin jamu. Ternyata temulawak bisa dibuat jadi kukis dan rasanya enak, tidak pahit seperti yang dibayangkan. Saya jadi tertarik untuk mencoba memproduksi sendiri di rumah dan menjualnya secara online,” ujarnya.
Peserta lainnya, Yuli Astuti (39), mengatakan bahwa dirinya tertarik mempelajari cara pengemasan. Ia menilai produk berbahan herbal memiliki pasar yang besar, terutama jika dikemas menarik dan dipromosikan melalui media sosial.
“Kalau kemasannya cantik, orang pasti lebih tertarik. Apalagi sekarang tren makanan sehat sedang naik. Saya rasa kukis temulawak bisa jadi peluang usaha baru bagi ibu-ibu di sini,” kata Yuli.
Hasil kukis produksi peserta memiliki aroma khas temulawak dengan tekstur renyah dan rasa unik, sehingga dianggap cocok dipasarkan sebagai oleh-oleh khas desa karena sudah dapat ijin PIRT dan BPOM untuk keamanan produknya.
Sejalan dengan Visi Desa Jamu
Kepala Desa Gentasari, yang ikut hadir dalam kegiatan tersebut, menyampaikan apresiasi setinggi-tingginya atas pelaksanaan pelatihan ini. Menurutnya, kegiatan tersebut relevan dengan visi besar desa dalam mengembangkan Desa Jamu berbasis kearifan lokal, inovasi, dan technopreneurship.
“Desa Gentasari sudah sejak lama dikenal sebagai desa penghasil tanaman herbal. Dengan adanya pelatihan seperti ini, kami berharap masyarakat tidak hanya melestarikan tanaman herbal, tapi juga mampu mengolahnya menjadi produk bernilai tambah yang bisa meningkatkan kesejahteraan,” ujar Kepala Desa.
Ia menambahkan bahwa pemerintah desa siap mendukung tindak lanjut pelatihan, termasuk pendampingan usaha rumahan dan pembentukan kelompok usaha bersama bila diperlukan.
Ada Rencana Pendampingan Lanjutan
Kegiatan ditutup dengan sesi foto bersama dan penyerahan hasil kukis buatan peserta. Tidak berhenti sampai di situ, tim Universitas Amikom Purwokerto juga menyiapkan rencana pendampingan lanjutan untuk memastikan bahwa keterampilan yang diperoleh ibu-ibu PKK dapat berkembang menjadi usaha yang berkelanjutan.
Pendampingan tersebut nantinya akan mencakup penguatan branding produk, pembuatan kemasan, manajemen keuangan sederhana, hingga strategi pemasaran digital. Melalui pendampingan yang berkelanjutan, diharapkan produk kukis temulawak dapat menjadi ikon kuliner khas Desa Gentasari sekaligus mendukung pengembangan desa sebagai destinasi wisata edukasi berbasis technopreneurship herbal.
Dengan dukungan berbagai pihak, Desa Gentasari kini semakin mantap menapaki jalan menuju desa mandiri berbasis herbal modern—menggabungkan tradisi, inovasi, dan potensi ekonomi masyarakat.(**)
Author: arwiranew
Related Posts

Ana Amiroh Resmi Sandang Gelar Doktor, Teliti Cara Semangka Tetap Produktif di Daerah Kering

(55) BUKU ANATOMI DAN FISIOLOGI TERNAK (Struktur dan Fungsi Tubuh Hewan Ternak untuk Produksi dan Kesehatan)

(61) Buku ANATOMI TUMBUHAN (Konsep, Struktur, dan Fungsi Organ Tumbuhan)

Judul Buku: ANTROPOLOGI HUKUM



