Kamis, 03 Desember 2020

banner 468x60

Babak Baru Masyarakat Jawa Menuju New Normal

 Kampus
banner 468x60
Babak Baru Masyarakat Jawa Menuju New Normal

Surakarta(arwiranews.com)  Webinar Internasional Pagebluk dan Keseimbangan Alam: Babak Baru Masyarakat Jawa Menuju New Normal digelar oleh Pusat Unggulan IPTEK (PUI) Javanologi Universitas Sebelas Maret. Agenda yang diprakarsai Wakil Rektor Bidang Perencanaan dan Kerjasama UNS, Prof. Sajidan ini digelar, Sabtu (4/7/2020). Tercatat 925 pendaftar dari berbagai negara bergabung melalui Zoom Meeting dan kanal Youtube Universitas Sebelas Maret.

Kegiatan diawali dengan Opening Remarks oleh Rektor UNS, Prof. Jamal Wiwoho. Pada kesempatan tersebut Prof. Jamal menyampaikan dukungan dan mengapresiasi kegiatan yang dilakukan oleh PUI Javanologi dibawah kepemimpinan Prof. Sahid teguh Widodo.

“Selamat untuk melakukan diskusi sehingga menghasilkan rekomendasi-rekomendasi yang cerdas dalam menghadapi pagebluk yang disebabkan oleh Covid-19,” tutur Prof. Jamal.

Hadir sebagai moderator, Sekretaris PUI Javanologi, Prof. Diah Kristina yang memimpin jalannya diskusi. Selain itu terdapat lima pembicara bergabung dalam diskusi yaitu Sri Hartini, M.A, selaku Sekretaris Dirjen Kebudayaan, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan RI mewakili Dr. Hilmar Farid, Dirjen Kebudayaan, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan RI. Kemudian Prof. Datuk Dr. Sukiman bin Sarmani, Diaspora Jawa di Malaysia. Pembicara ketiga Hywel Coleman, dari University of Leeds, United Kingdom. Keempat, Ganjar Pranowo, S.H., M.I.P., Gubernur Jawa Tengah, serta terakhir Johan Raksowidjojo, Nederlands Javanese Diaspora.

Sesi pertama disampaikan oleh Sri Hartini terkait dengan “Seni, Pagebluk dan Tradisi”. Pagebluk identik dengan tanda alam yang biasa diartikan oleh orang zaman dahulu sebagai kondisi yang kurang baik. Menghadapi kondisi tersebut masyarakat biasa melakukan solusi tradisional untuk menghadapinya seperti melakukan aksi tolak bala, membuat pamunah atau penawar serta melakukan pangruwat. Dimasa kini fase-fase tersebut mampu memberikan makna bagi masyarakat. Seperti pada bidang ekonomi misalnya rempah-rempah menjadi trend yang bisa dikembangkan menjadi komoditas baru. Serta dalam penyelenggaraan kesenian, seniman tanah air semakin kreatif menyelenggarakan acara.

Kemudian dari Diaspora Jawa di Malaysia, Prof. Datuk Dr. Sukiman bin Sarman menyampaikan bagaimana kondisi keturunan Jawa yang bertahan hidup di Malaysia selama masa pandemi. Prof. Datuk Dr. Sukiman bin Sarman menceritakan jika keturunan Jawa di Malaysia masih memegang teguh budaya leluhur dalam menghadapi situasi ini. Seperti menggunakan tiga falsafah yaitu manut dan patuh, guyub serta kerjasama gotong royong.

Pada pembicara ketiga Hywel Coleman, dari University of Leeds, United Kingdom disampaikan tentang cara penyampaian pesan secara efektif kepada masyarakat pada masa kini. Masing-masing memiliki bentuk tersendiri supaya bisa diterima dengan masyarakat. Menurut survei sederhana yang dilakukan Hywel Coleman dilingkungan sekitar tempat tinggalnya, masih ditemukan masyarakat yang belum memahami istilah-istilah yang muncul di masa pandemi ini. Tentu hal tersebut menjadi perhatian karena belum semua informasi tersampaikan dengan baik kepada masyarakat.

Ganjar Pranowo, Gubernur Jawa Tengah bergabung memberikan informasi lain dari dalam negeri khususnya wilayah Jawa Tengah. Jogo Tonggo menjadi satu program unggulan sebagai solusi menghadapi kondisi saat ini khususnya pada hubungan bermasyarakat. Telah diterapkan selama beberapa bulan, kegiatan Jogo Tonggo dilaksanakan dengan pendekatan yang komunikatif melalui tokoh masyarakat yang dipercaya. Selain itu data yang diolah secara ilmiah juga menjadi poin dalam penerapan program tersebut supaya tepat sasaran.

Sebagai penutup sesi penyampaian materi oleh narasumber, Johan Raksowidjojo menyampaikan pembukaan menggunakan Bahasa Jawa. Lahir di Suriname dan telah lama hidup di Belanda membuat keturunan Jawa ini terbiasa dengan berbagai bahasa diantaranya, bahasa Jawa, Indonesia, Inggris dan Belanda. Nilai-nilai luhur dari budaya Jawa masih lekat dalam kehidupan sehari-hari yang dilakukannya. Johan Raksowidjojo juga menjelaskan beberapa peraturan yang berlaku di negara kincir angin pada masa pandemi ini.

_“Saiki wong Jowo saka Suriname ing Welandi kabeh sedih, kabeh sepi, nyekrukuk koyo pithik dikurung, ngenteni srengenge lan akhire Corona Covid-19, matur nuwun,”_ tutup Johan Raksowidjojo menggunakan bahasa Jawa.

Diakhir webinar ketua PUI Javanologi UNS, Prof. Sahid teguh Widodo menyampaikan kesimpulan hasil diskusi dari agenda tersebut. Disampaikan pula bahwa nilai-nilai kultural memiliki manfaat bagi situasi saat ini. Direkomendasikan untuk tetap menggali nilai-nilai kultural sebagai nilai dasar yang dapat bermanfaat sebagai bahan penyusunan kebijakan pemerintah di dalam mengatasi dampak pandemi Covid-19. Humas UNS

banner 468x60

Author: 

Related Posts

Tinggalkan Balasan