
BOYOLALI (Jaringan Arwira Media Group) – Inovasi kecil bisa membawa dampak besar. Hal inilah yang dibuktikan oleh mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Universitas Boyolali (UBY) Kelompok 1 Tahun 2025 di Dusun Tegalsari, Desa Ngablak, Kecamatan Wonosamodro, Kabupaten Boyolali, Jawa Tengah. Lewat sentuhan branding dan pengemasan modern, tape singkong tradisional yang selama ini hanya beredar di lingkup lokal, kini bertransformasi menjadi produk dengan wajah baru: lebih higienis, lebih menarik, dan lebih siap bersaing di pasar modern.
Program KKN ini diikuti 16 mahasiswa lintas disiplin ilmu—mulai dari peternakan, teknik informatika, akuntansi, ilmu komunikasi, manajemen, hingga hukum. Mereka turun langsung ke masyarakat dengan bimbingan Dosen Pendamping Lapangan (DPL) Tegar Habriyana, S.H., M.H. dan Dhefi Intan Lukmana, S.Kom., M.Kom.
Fokus kegiatan diarahkan pada pengembangan produk unggulan desa, yakni tape singkong. Selama ini, tape Tegalsari dikenal punya cita rasa khas yang legit, lembut, dan manis alami. Namun, keterbatasan dalam pengemasan membuatnya kurang mampu menembus pasar yang lebih luas.
Mahasiswa kemudian memperkenalkan inovasi kemasan baru menggunakan wadah mika transparan yang higienis, disertai logo khusus bertuliskan “Tape Singa” (Tape Singkong Ngablak). Identitas ini diharapkan dapat menjadi pembeda sekaligus penguat citra produk ketika dipasarkan ke toko oleh-oleh, pasar daring, hingga pameran UMKM.
“Kami ingin tape ini punya daya tarik visual dan merek yang kuat. Dengan kemasan mika dan logo, produk ini bisa tampil lebih profesional dan siap masuk pasar modern,” ujar salah satu mahasiswa KKN dengan optimis.
Inovasi mahasiswa UBY ini tidak hanya berhenti pada ide. Warga setempat, terutama para pelaku UMKM, diajak terlibat aktif melalui pelatihan dan diskusi interaktif. Lebih dari 50 peserta hadir dalam kegiatan tersebut, mulai dari ibu-ibu pengusaha tape, pemuda desa, hingga perangkat desa.
“Kami sangat senang. Tape kami sekarang terlihat lebih menarik dan layak dijual di luar desa. Semoga bisa masuk toko oleh-oleh di kota bahkan bisa dijual secara online,” ungkap salah satu pelaku usaha tape di Dusun Tegalsari dengan mata berbinar.
Tak sedikit warga yang kemudian termotivasi untuk mengembangkan produknya. Beberapa bahkan sudah mulai memikirkan strategi pemasaran lewat media sosial dan marketplace.
Kegiatan ini sekaligus menjadi ruang belajar bagi mahasiswa. Mereka tidak hanya mengaplikasikan teori yang dipelajari di kampus, tetapi juga berhadapan langsung dengan realitas lapangan: bagaimana cara mendampingi UMKM, membangun branding, hingga mengemas produk agar sesuai standar pasar.
Dosen pendamping menegaskan, inilah esensi pengabdian masyarakat. “Mahasiswa perlu turun langsung untuk melihat masalah riil di desa. Dengan begitu, ilmu yang mereka pelajari benar-benar bisa membumi dan memberikan manfaat nyata,” ujar Tegar Habriyana, S.H., M.H.
Kordes KKN Desa Ngablak, Ardi Rizqi Kurniawan, menyambut baik keberhasilan program ini. Menurutnya, kehadiran mahasiswa membawa energi baru bagi warga, khususnya pelaku UMKM.
Hal serupa disampaikan panitia KKN lainnya, Rosita Rahmawati, yang mengaku bangga jika ibu-ibu di Ngablak bisa lebih percaya diri mengembangkan usaha setelah mendapatkan pelatihan. “Saya berharap kegiatan seperti ini bisa berlanjut, karena manfaatnya benar-benar terasa langsung,” ujarnya.
Transformasi tape singkong Tegalsari ini bukan sekadar soal kemasan baru, melainkan tentang bagaimana produk lokal bisa naik kelas dan bersaing dengan brand modern. Branding, packaging, hingga digital marketing kini menjadi kebutuhan mendesak bagi UMKM agar tidak tertinggal.
Dengan semangat “Dari Desa untuk Dunia”, mahasiswa UBY dan warga Desa Ngablak membuktikan bahwa produk lokal tidak kalah dengan produk industri besar. Inovasi sederhana seperti kemasan higienis dan logo kreatif dapat membuka jalan menuju pasar modern, bahkan membuka peluang ekspor.
Program KKN Universitas Boyolali di Dusun Tegalsari adalah contoh nyata bagaimana kolaborasi antara akademisi dan masyarakat mampu menciptakan dampak positif yang berkelanjutan.
Bagi mahasiswa, kegiatan ini menjadi pengalaman tak ternilai dalam mengaplikasikan ilmu di dunia nyata. Bagi warga, ini adalah suntikan semangat baru untuk membangkitkan potensi lokal.
Tape singkong Ngablak kini bukan lagi sekadar camilan tradisional. Ia telah menjelma menjadi simbol inovasi desa yang siap melangkah lebih jauh, membuktikan bahwa dari desa pun, sebuah produk bisa punya cita rasa global.(**)








