banner 468x60

Tagihan Listrik Naik, Pelanggan PLN di Rembang Mengeluh.

 Regional
banner 468x60
Tagihan Listrik Naik, Pelanggan PLN di Rembang Mengeluh.

Rembang(arwiranews.com)  Sejumlah pelanggan listrik kategori 900V di Kabupaten Rembang menjerit. Mereka merasa kabur, lantaran tagihan listrik pada Mei ini melonjak tajam dibandingkan sebelumnya.

Padahal, fasilitas dan pola pemakaian yang mereka lakukan dianggap sama dengan sebelumnya. Paling-paling hanya ada peningkatan pemakaian pada malam hari seiring datangnya momen Ramadan.

Seorang pelanggan di Kecamatan Kota, Agus Wartanto menyebutkan, tagihan listrik miliknya pada Mei ini tertulis Rp 586.577. Sebelumnya, pada April lalu pensiunan ASN ini membayar tagihan sekira Rp 370 ribu.

Agus menganggap, tagihan yang keluar pada Mei ini agak kurang wajar. Pasalnya, ia merasa pola pemakaian listrik dibandingkan dengan sebelumnya tidak ada perubahan. Demikian pula, tidak ada penambahan penggunakan peralatan elektronik.

“Dulu rata-rata Rp 350 ribu, paling tinggi Rp 375 ribu. Alat elektronik, kulkas, TV, mesin cuci. Khusus mesin cuci dan setrika saya pakai sepekan sekali. Harapannya, ya disamakan dengan pengguna 900 V yang dapat subsidi di masa pandemi,” terang dia.

Menurut Agus, selain dirinya banyak pelanggan PLN lainnya yang juga mengeluh. Ia belum mencoba menanyakan kondisi tersebut kepada pihak PLN. Ia hanya pasrah dan akan tetap membayar tagihan tersebut.

Pelanggan lainnya, Ming-ming Lukiarti mengaku merasakan hal sama. Sebelumnya, ia masih numpang listrik dengan ibunya dengan tagihan rata-rata satu bulan Rp 150 ribu. Namun, saat ia memasang listrik sendiri dengan daya sama sebesar 900 V, rata-rata penggunaannya sekarang menjadi Rp 300 ribu.

Ming-ming sudah mencoba menanyakan hal itu kepada pihak PLN. Harapannya, ada mekanisme mendapatkan subdisi listrik sepanjang pandemi berlangsung. Namun usaha yang dilakukannya sampai sekarang tidak membuahkan hasil lantaran tidak mendapatkan layanan langsung dari PLN.

“Saya membuka web PLN, ada perintah mengisi formulir di kelurahan. Saya datang ke kelurahan, ternyata formulir itu tidak ada. Saya k PLN, disuruh kembali ke kelurahan. Kalau begini caranya, saya berniat melapor ke Ombbudsman,” ujarnya.

Sementara itu, Direktur PLN Rembang Arif Setyawan saat dikonfirmasi berkilah membengkaknya tagihan pelanggan pada Mei merupakan kesalahan PLN. Rizal mengaku sudah melihat histori pemakaian pelanggan.

Dari hal itu, ia menganalisa membengkaknya tagihan pelanggan lantaran adanya peningkatan pemakaian saat pemerintah menerapkan kebijakan social distanching dan Work from Home (WFH) serta Studi from Home (SFH).

“Tagihan pada April kami rata-ratakan dari pemakain Desember, Januari dan Februari. Ada kemungkinan, tagihan Mei membengkak lantaran adanya akumulasi dari sisa tagihan Maret saat dirata-rata,” tandasnya.

(Sumber: suaramerdeka.com)

banner 468x60

Author: 

Related Posts

Tinggalkan Balasan