banner 468x60

Potret Kemiskinan dan Belenggu Hawa Nafsu

 Opini
banner 468x60
Potret Kemiskinan dan Belenggu Hawa Nafsu

 

 

Keberadaan karya sastra selalu dikaitkan dengan masyarakat. Seorang penulis biasanya mengangkat fenomena-fenomena kehidupan bermasyarakat dalam ceritanya. Sehingga bisa dikatakan pula bahwa sebuah karya sastra yang baik akan merepresentasikan keadaan maupun pola pikir masyarakat pada suatu peradaban yang digambarkan oleh para sastrawan melalui cerita Di sisi lain, karya sastra menjadi sebuah cerminan bagi seorang sastrawan setelah berinteraksi dengan lingkungannya.

Hubungan antara karya sastra dan masyarakat kemudian dibahas dalam lingkup kajian yang disebut sosiologi sastra. Kajian sosiologi sastra menitik beratkan pada struktur dan proses sosial yang tercermin dalam sebuah karya sastra. Sosiologi sastra dianggap dapat membantu memahami kehidupan manusia yang terbangun oleh serangkaian interaksi yang bersifat fisik, behavioristik, dan sistem penanda atau simbolik. Salah satu keadaan masyarakat yang dapat dilihat dengan kajian sosiologi sastra adalah potret kemiskinan. Kemiskinan tercermin dari kurangnya pendapatan seseorang dalam memenuhi kebutuhan hidup pokok. Disamping itu, kemiskinan terjadi karena interaksi dari berbagai aspek dalam kehidupan manusia, terutama aspek sosial dan ekonomi. Kedua aspek tersebut saling berhubungan dan menimbulkan penggolongan masyarakat makmur atau miskin.

Kemiskinan dapat didefinisikan sebagai  ketidakmampuan seseorang dalam memenuhi maupun meningkatkan kebutuhan konsumsi dasar hidupnya. Kebutuhan tersebut diukur khusus pada kebutuhan dasar, hal itu karena tingkat kebutuhan hidup seseorang biasanya berbeda-beda sehingga akan sulit mengukur seseorang dapat dikatakan miskin atau tidak jika memandang kebutuhan sebagai suatu yang umum dan subjektif.

Karya sastra yang menarik biasanya menyajikan konflik yang dapat menggugah pembaca sehingga potret kemiskinan kerap kali diangkat dalam sebuah cerita, baik menjadi tema maupun masalah pendukung cerita. Hal ini seperti yang ditulis oleh Olyrinson dalam judul cerpennya Malam Lebaran di Field, yang terbit pertama kali di Riau Pos, edisi Ahad, 5 Januari 2005. Fiel merupakan sebutan ladang minyak bagi penduduk di sekitar ladang minyak. Cerpen ini mengangkat cerita tentang seorang Wardi yang mencuri besi di ladang minyak di kampung tempat tinggalnya karena keadaan yang memaksa. Sebab tidak ada lagi yang mau dimakan esok hari. Sementara esok akan lebaran. Tak ada beras yang tersisa di rumah.

Olyrinson sebagai penulis cerpen ini berkisah tentang susahnya kehidupan Wardi, yang mewakili warga kampung lainnya, di provinsi yang kaya sumber daya alam. Setelah ladang minyak hadir di tengah-tengah kehidupan mereka, kehidupan justru bertambah buruk. Sungai yang tercemar, ikan-ikan mati dan tak ada penghasilan. Sementara beban hidup tidak bisa diajak kompromi. Anak yang merengek meminta kembang api di malam lebaran, isteri yang hamil dan belum makan, membuat Wardi mau tidak mau mencuri di malam lebaran. Dengan nekat Wardi mendatangi ladang minyak bersama anak lelakinya untuk memotong pipa minyak di dalam ladang. Namun tindakan itu justru menimbulkan petaka karena dari dalam pipa yang dipotong Wardi, memunculkan semburan gas yang mematikan. Cerpen ini telah dimuat 15 tahun lalu, namun masih relevan dibaca hari ini. Apalagi jika kita kaitkan dengan kondisi covid-19 hari ini, dimana di tengah pandemi ini banyaknya menimbulkan masyarakat miskin baru akibat sulitnya ekonomi. Kondisi demikian bukan tidak mungkin menyebabkan masyarakat akan melakukan tindakan nekat sebagaimana yang dilakukan Wardi.

Sehingga dapat dikatakan bahwa kemiskinan menjadi suatu hal yang tidak akan pernah bisa selesai dalam kehidupan di masyarakat sehingga banyak penulis mengangkat dan meramu tema sosial tersebut menjadi sebuah cerita yang menarik dan dapat dikenang untuk masa yang akan datang. Dengan kata lain, karya sastra akan menjadi saksi zaman yang menandakan perubahan pola sosial suatu masyarakat.

Lebaran Taufik Ikram Jamil

Masih bertema lebaran, pengarang Taufik Ikram Jamil menulis cerpen berjudul Lebaran yang termaktub dalam kumpulan cerpen Kompas “Kurma, Kumpulan Cerpen Puasa-Lebaran Kompas”. Cerpen ini bercerita tentang seorang isteri yang mengedepankan hawa nafsunya ketika memasuki bulan Ramadhan. Hal ini ia lakukan akibat dendam masa lalu. Dendam terhadap kehidupan ekonomi rumah tangga mereka yang sulit di awal pernikahan. Akibatnya, si tokoh yang diposisikan sebagai isteri melampiaskan semua hasratnya dengan membeli berbagai barang-barang baru untuk menyambut lebaran. Tindakan tersebut menyebabkan ia lupa terhadap hakikat bulan Ramadhan sebagai bulan barakah, bulan pengampunan, bulan kebaikan yang mencerminkan nilai khusus spiritual dari bulan suci itu.

Ia juga melupakan hakikat berpuasa bahwa menjadi sarana yang kuat untuk memerdekakan diri dari belenggu keinginan, hasrat, dan segala nafsu fisik yang negatif, dan membersihkan diri dari kekotoran dosa-dosa badani. Akibatnya karena terlalu mengikuti hawa nafsu, si isteri tidak menemukan hakikat berpuasa. Ia menjadi orang-orang yang kalah karena hawa nafsu yang terlalu ia perturutkan. Ia sanggup tidak berpuasa karena hal yang sifatnya duniawi seperti membuat kue untuk persiapan lebaran. Akibatnya tubuh yang terlalu dipaksakan membuat aneka kue lebaran menyebabkan ia jatuh sakit jelang hari kemenangan. Dengan demikian menunjukkan bahwa hawa nafsu yang tidak bisa dikendalikan justru mengantarkan seseorang jauh dari kemenangan melawan hawa nafsu di bulan Ramadhan.

 

*Desi Sommaliagustina adalah Dosen Prodi Ilmu Hukum, Fakultas Hukum, Universitas Muhammadiyah Riau. Saat ini sedang menempuh studi pada Program Doktor Ilmu Hukum Universitas Andalas.

banner 468x60

Author: 

Related Posts

Tinggalkan Balasan