banner 468x60

PERPUSTAKAAN SEBAGAI SIMBOL PERADABAN BANGSA

 Opini
banner 468x60
PERPUSTAKAAN SEBAGAI SIMBOL PERADABAN BANGSA

I. NAPAK TILAS PERADABAN PERPUSTAKAAN

Karakter suatu bangsa timbul dari nlai luhur dalam bentuk sejarah yang multikultur. Sejarah ini dimulai pada peradaban islam terutama pada abad 8 – 10 Masehi (Saepuddin, 2016). Saat itu sekitar 3000 SM, bangsa Sumeria  telah merekap rekening, jadwal rencana aktivitas, dari tanah liat (clay tablets) dan gabungan kata berbentuk gambar (pictograph) menjadi tulisan paku (cunciform). Di Mesir, sekitar tahun 4000 SM dengan gaya tulisan yang disebut hieroglyph. Sekitar tahun 1200 SM ditemui sejenis tanaman yang dijemur kemudian dipakai untuk media menulis  disebut papyrus dari  kata  itulah istilah  paper, papiere, papiros, yang artinya kertas (Wedgwood, 1880).

Seorang ilmuwan  dari Yunani bernama Aristoteles  berusaha mengkoleksi, mencatat dan menjaga budaya masa lalu. Peradaban perpustakaan saat itu, diawali milik Peistratus (Athena/abad ke 6), Polyerratus (Samos/abad ke 7), dan Pericles, sekitar abad ke 5. Peradaban Yunani diketahui memiliki jenis tulisan yang dikenal disebut mycena (1500 SM) dan kemudian terganti oleh 22 huruf temuan orang Phoenicia (Sondranika, 2015), yang dalam berkembang berubah menjadi 26 huruf sampai  saat ini. Perpustakaan juga berkembang di negara maju seperti Amerika Serikat, Eropa dan lain – lain. Perubahan cepat terjadi sejak ditemukan mesin cetak pada abad pertengahan. Johannes Gutenberg dari Jerman, adalah orang yang menemukan cara penulisan dari tangan menjadi mesin cetak.  Seiring transformasi teknologi saat itu, produksi buku yang dihasilkan bentuknya masih sangat sederhana.

Saat ini, akhirnya perubahan sejarah itu berdifusi dari mulai pena yang digunakan sebagai alat tulis di kertas sebagai media pesan atau mencatat informasi, beralih ke mesin ketik manual sampai ke alat tulis elektronik. Eksistensi kebudayaan dalam bentuk tulisan, cetakan dan rekaman tersebut menjadi ekpresi individu untuk menjadi parameter kualitas intelektual literasi seseorang (Ismayani, 2017). Kemajemukan informasi dewasa ini, tidak bisa diingat oleh seseorang atau sekelompok orang, informasi berupa pengetahuan perlu diturunkan kepada generasi selanjutnya. Dari sejarah inilah eksistensi peradaban perpustakaan dimulai berubah sejalan dengan tantangan pluralisme informasi yang memiliki unsur budaya, agama, adat istiadat dan segala bentuk informasi yang terkandung di dalamnya. Perpustakaan adalah jantung dan sebagai cerminan suatu institusi pendidikan (Rosinar, 2011), sama halnya menurut (Sulistyo-Basuki, 2013) perpustakaan juga menginterpretasikan sebagai suatu kebutuhan interaksi sosial, ekonomi dan budaya.

 

II. DISEMINASI DAN TANTANGAN LITERASI DI ERA DISRUPSI

 

Diseminasi informasi di era teknologi sudah sangat pesat lewat hadirnya media e – commerce, semua sistem sudah terintegrasi dengan masuknya perangkat teknologi, secara tidak langsung merubah cara berpikir dan tatanan sosial di masyarakat. Hal ini juga akan berdampak kepada keadaan ekonomi si kaya dan si miskin, dimana informasi adalah sesuatu yang menjadi harga yang harus dibayar untuk dikonsumsi publik. Perpustakaan harus menjadi fungsi intermediasi terjadinya gap sosial ini, agar demokrasi diseminasi informasi bisa berfungsi. Fungsi ini harus mampu memberikan akses gratis melalui penggunaan internet atau sumber informasi lainnya dan merancang pelatihan gratis bekerjasama dengan institusi pendidikan dalam penyebaran keterampilan dalam bentuk pengabdian ke masyarakat. Berikut gambar perbandingan beberapa negara dalam literasi :

 

 

Gambar 1 : Indeks Minat Baca negara di dunia

Sumber : http: dx/doi.org/10.1787/888932506552

Catatan : Indonesia peringkat terbawah dari 17 negara yang nilainya dibawah rata – rata OECD

( tahun 2011)

 

Gambar 2 : Indeks Minat Baca masyarakat Indonesia

Sumber : https://nanangdjamaludin.wordpress.com/tag/perpustakaan-nasional/

 

Dari data statistik di atas dapat ditarik kesimpulan kemampuan literasi msyarakat Indonesia terhadap informasi di perpustakaan masih perlu dirubah. Hal ini akan menjadai tantangan besar bagi pemerintah, pustakawan dan masyarakat itu sendiri sebagai pengguna informasi tersebut.  Informasi merupakan suatu kebutuhan dalam mengarsipkan data (Riasmiati, 2016) yang isinya adalah pertama kebutuhan informasi subyektif artinya informasi yang sesorang sadari sebagai prasyarat mencapai kesuksesan suatu tujuan, kedua kebutuhan infomasi obyektif yang isinya adalah kebutuhan yang harus ada apabila kesuksesan ingin diraih dan ketiga kebutuhan informasi yang tidak berhasl dipenuhi menyadari kebutuhan informasi tetapi tidak dapat memenuhinya.

Tantangan di era digital saat ini bagi literasi semakin kompleks , peradaban budaya sudah terjadi seiring kebutuhan keceatan informasi. Hal ini dapat diilustrasikan seperti gambar dibawah ini :

 

Gambar 3 : Pengaruh Literasi Digital

Sumber : https://ezwaysite.wordpress.com/2016/11/24/literasi-digital/

 

Di era disrupsi peran perpustakaan antara lain menjadi pemfilter ditengah fenomena disrupsi informasi  peradaban yang semakin majemuk dan kompleks (Floridi, 2002). Tuntutan di era globalisasi merubah transisi sumber daya terintegrasi kedalam suatu sistem teknologi informasi komputer. Pergeseran paradigma pelayanan masyarakat juga otomatis akan berpengaruh terhadap pelayanan  dari penulis , pustakawan kemudian ke pengguna. Transformasi ini harus disikapi dengan agresif karena di era ini, saatnya semua menjadi virtual, contohnya dengan adanya e-registrasi virtual, e-katalog, diseminasi blogging perpustakaan, jaringan sosial, tagging dan pod cast. Pemikiran kritis dan kreatif ini harus simultan bergerak dengan kemajuan jaman, regulasi dan administrasi harus fleksibel dalam menyikapi kebutuhan ini. Selain itu dengan teknologi keamanan informasi dan jumlah buku dapat mudah diidentifikasi untuk dilakukan pembaharuan.

 

III. KONSEP PERKEMBANGAN PERPUSTAKAAN

Dahulu kala perpustakaan hanya sebagai tempat rak buku yang berisi buku – buku dan saluran informasi yang diberikan hanya di internal institusi atau sekelompok tertentu. Semakin majunya teknologi peradaban dari konvensional atau tradisional menjadi digitalisasi. Hal ini penting untuk kebutuhan pelayanan  untuk masyarakat luas. Dalam memperkaya budaya literasi masyarakat maka dirancanglah perpustakaan elektronik, perpustakaan maya, perpustakaan digital dan perpustakaan hibrida yang cukup kental dengan mulai terlihat adanya banyak ‘sentuhan’ implementasi teknologi informasi dan komunikasi. Pemahaman defiisi ini harus disosialisasikan untuk memperoleh manfaat dan perbedaaan fungsi masing – masing atau tidak terlihat ‘tumpang-tindih’. Berikut konsep yang perlu ditawarkan untuk mengetahui fungsi dan peranan tugas masing – masing.

 

Gambar 4 : Konsep perkembangan fungsi perpustakaan

 

Konsep ini menjelaskan apa sesungguhnya batasan yang digunakan buat menumbuhkan konsep perubahan bibliotek. Terlihat garis diatas semakin ke kanan hingga bibliotek terus menjadi‘ maya’ sebaliknya ke kiri menjadi konservatif ataupun lebih menekankan pada tradisi kuno. Bagan di atas menjelaskan bagaimana pertumbuhan bibliotek‘ biasa’ serta bibliotek digital bagaikan suatu kontinum ( rangkaian berkepanjangan). Selain itu tidak berhenti disitu, hal ini menjelaskan ba gaimana teknologi komputer berfungsi dalam tiap pergantian ataupun pertumbuhan wujud bibliotek serta kegunaannya.

Apabila menelisik kecenderungan pertumbuhan dikala ini, hingga pertumbuhan bibliotek yang dicoba oleh lembaga internal pendidik ataupun bukan,  konsep ini menjadi seperti bibliotek hibrida. Sebab di dalam bibliotek inilah secara jelas gabungan fisik dan virtual jadi kesatuan yang ada di dalam perpustakaan. Perpustakaan hibrida ini pula sudah berjalan memposisikan digital teknologi informasi seperti bagian berarti dalam bibliotek tanpa‘ melenyapkan’ teknologi lama yang telah turun temurun jadi karakteristik khas di bibliotek, ialah koleksi katalog cetak.

 

 

IV. HARAPAN DAN MASA DEPAN PERPUSTAKAAN SEBAGAI SIMBOL PERADABAN BANGSA

 

Pustaka budaya bangsa ada dalam bibliotek yang di dalamnya berisi literasi serta nilai intelektualitas. Literasi manual telah bertransformasi, karena itu petugas pustakawan wajib mengikuti pealtihan untuk  pembelajaran aplikasi  kecerdasan buatan. Sebagian fitur PC yang sukses diaplikasikan semacam mesin pengindeks Intelligent Computer Asistance telah sanggup dioperasikan oleh US National Library of Medicine. Aplikasi lain yang digunakan untuk keperluan pengindeksan, ialah Machine Aided Indexing( MAI). Aplikasi ini terbuat oleh American Petroleum Institute. Salah satu contoh sistem ahli buat katalogisasi merupakan Online Catalogue Library of Congress( OCLC) Automated Title Page Project. Sistem ini dibesarkan buat menciptakan deskripsi bibliografi cocok dengan standar Anglo American Catalogue Rules( AACR2). Keakuratan sistem aplikasi ini mampu mendekati 85% persen.

Perpustakaan inovatif untuk masa depan harus sudah direalisasikan dan semua konten di dalamnya disajikan dengan sistem menarik secara virtual yang cerdas. Virtual tidak hanya memberikan fasilitas tetapi mampu memberikan  daya tarik pemustaka untuk kembali lagi untuk membaca dan nyaman untuk mengakses informasi. Mari kita sebagai pewaris dokumenter bangsa bersinergi dengan beradaptasi terhadap perubahan dan jadikan literasi menjadi pintu budaya di tengah peradaban bangsa. Pesan kami sebagai penerus bangsa, “ kuasailah dunia dengan ilmu literasi tulislah karyamu di atas tinta putih, agar sejarah dapat memaknai dan menjawab artinya”

 

 

DAFTAR PUSTAKA

Floridi, L. (2002). On defining library and information science as applied philosophy of information. Social Epistemology. https://doi.org/10.1080/02691720210132789

Ismayani, R. (2017). Kreativitas Dalam Pembelajaran Literasi Teks Sastra. Jurnal Ilmiah Program Studi Pendidikan Bahasa Dan Sastra Indonesia. https://doi.org/10.22460/semantik.2.2.67-86

Riasmiati, A. (2016). Manajemen Kearsipan. Khazanah: Jurnal Pengembangan Kearsipan. https://doi.org/10.22146/khazanah.22880

Rosinar, E. (2011). PUSTAKAWAN, TUNJUKKAN GREGETMU! Edulib. https://doi.org/10.17509/edulib.v1i1.1146

Saepuddin, D. (2016). Perpustakaan Dalam Sejarah Islam: Riwayat Tradisi Pemeliharaan Khazanah Intelektual Islam. Buletin Al-Turas. https://doi.org/10.15408/bat.v22i1.2927

Sondranika, W. n. (2015). Peradaban Yunani Kuno. In Jurnal Artefak.

Sulistyo-Basuki. (2013). Keilmuan Bidang Informasi dan Perpustakaan. In Sulistyo-Basuki’s Blog: Library and Information Science.

Wedgwood, H. (1880). “Papyrus.” In Notes and Queries. https://doi.org/10.1093/nq/s6-II.28.24-a

 

Internet :

http://eddysoeparno.com/

https://nanangdjamaludin.wordpress.com/tag/perpustakaan-nasional/

https://ezwaysite.wordpress.com/2016/11/24/literasi-digital/

 

RIWAYAT PENULIS

Roymon Panjaitan, SE, Ak, MM lahir di Jakarta, 15-10-1981, putera dari ( Alm ) M. Abidan Panjaitan, SH dan Ibunda Nurhaida Sirait. Menyelesaikan pendidkan S1 dari Universitas Tarumanagara program studi Akuntansi, dilanjutkan Program Pascasarjana Universitas Jayabaya jurusan Managemen, konsentrasi manajemen keuangan, dan Program Pendidikan Profesi Akuntansi dan menjadi anggota profesi Ikatan Akuntan Indonesia( IAI ). Saat ini masih aktif menjadi dosen tetap di UNISTEKOM Semarang program studi Komputer Akuntansi.

Sebelum menjadi dosen, hampir 10 tahun bekerja di Perusahaan Bank BTPN, Tbk dan menjadi tenaga akuntan pada Kantor Akuntan Publik di Jakarta. Beberapa karya  buku ajar yang sudah ditulis antara lain buku Manajemen Pemasaran, Analisa Kredit Pensiun dan beberapa buku chapter yang sudah diterbitkan.. Bidang keilmuan yang menjadi minat utamanya adalah Manajemen dan Akuntansi. Karya ilmiah yang sudah dimuat antara lain di Jurnal Konsep Bisnis dan Manajemen, Jurnal Asset, Jurna Pengabdian Masyrakat dan beberapa jurnal Akuntansi. Saat ini masih aktif dalam penulisan jurnal nasional dan konferensi di bidang manajemen, ekonomi dan keuangan.

 

banner 468x60

Author: 

Related Posts

Tinggalkan Balasan