banner 468x60

Materi Khutbah Idul Fithri 1441H, Tema : 5 Bekal Muslim untuk Menghadapi Krisis

 Nasional
banner 468x60
Materi Khutbah Idul Fithri 1441H, Tema : 5 Bekal Muslim untuk Menghadapi Krisis

 

 

 

 

 

السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ

اَللَّهُ اَكْبَرُ، اَللَّهُ اَكْبْرُ، اَللَّهُ اَكْبَرُ، لَا اِلَهَ اِلَّا اللَّهُ وَاللَّهُ اَكْبَرُ، اَللَّهُ اَكْبَرُ، وَلِلَّهِ الْحَمْدُ

الحَمْدُ للهِ الَّذِيْ بِنِعْمَتِهِ تَتِمُّ الصَّالِحَات، جَعَلَ الأَرْضَ قَرَارًا وَ أَحَاطَهَا بِسَبْعِ سَمَوات، جَعَلَ فِيْهَا أَنْهَارًا وَ فِجَاجًا وَ جِبَالًا رَاسِيَات، أَخْرَجَ مِنْهَا نَبَاتَ كُلِّ شَيْءٍ وَ قَدَّرَ فِيْهَا الْأَقْوَات، سَخَّرَ الشَّمْسَ وَ الْقَمَرَ دَائِبَيْنِ وَ النُّجُوْمَ بِالَّليْلِ بَازِغَات، خَلَقَ الْحَيَاةَ لِيَبْلُوَنَا وَ كَتَبَ عَلَيْنَا الْمَمَات، نَحْمَدُهُ تَبَارَكَ وَ تَعَالَى حَمْدًا يَلِيْقُ بِجَلَالِ الذَّات وَ كَمَالِ الصِّفَات، وَ نَعُوْذُ بِنُوْرِ وَجْهِهِ الْكَرِيْمِ مِنَ السَّيِّئَاتِ وَ الْهَفَوَات

أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ ذُوْ الْعَرْشِ رَفِيْعُ الدَّرَجَات، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الْمَعْصُوْمُ مِنْ كُلِّ الشَّهَوَات، اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى أَكْمَلِ الْمَخْلُوْقَات، عَدَدَ مَا فِيْ الْكَوْنِ مِنْ مَعْلُوْمَات، أَمَّا بَعْد

 

Jamaah Shalat Idul Fithri yang Dimuliakan Allah

Tidak ada satu kalimat pun yang paling pantas untuk kita ucapkan di pagi hari ini, melebihi kalimat syukur yang dipanjatkan kepada Allah subhanahu wata’ala. Dengan izin-Nya, kita mampu menyelesaikan salah satu rukun Islam, yaitu shiyam di bulan Ramadhan.

Maka, segala puja dan puji hanya untuk Dia, Rabb semesta alam, atas jutaan karunia yang kita sandang dari-Nya. Terutama, nikmat sehat yang merupakan Sayyidun na’imid dunya, nikmat dunia yang paling besar dan nikmat Islam yang merupakan Sayyidun naimil akhirah -nikmat yang paling besar untuk akhirat.

Shalawat beriring salam, mudah-mudahan senantiasa tercurahlimpahkan kepada jujungan kita, Nabi besar kita, Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam. Beserta para keluarganya, seluruh sahabatnya, tabi’in, tabi’ut tabi’in dan seluruh pengikutnya hingga hari kiamat kelak. Amiin yaa rabbal ‘aalamiin.

Allahu akbar, Allahu akbar, Allahu akbar

Laa ilaaha illallah huwallahu akbar

Allahu akbaar walillahil hamdu

Jamaah Shalat Idul Fithri yang Dimuliakan Allah

Suasana Idul Fithri kali ini, mungkin sedikit berbeda; tidak semeriah perayaan hari raya Idul Fithri di tahun-tahun sebelumnya. Selama kurang lebih empat bulan, penyebaran wabah Covid-19, telah menyita perhatian masyarakat global.

Makhluk yang tak kasat mata itu membuat orang panik dan ketakutan. Berbagai aktivitas terhenti. Bahkan sampai saat ini, dunia belum bisa dinyatakan benar-benar pulih dan kembali normal seperti sedia kala.

Berdasarkan laporan dari berbagai sumber, Corona tercatat telah menyerang jutaan orang. Ribuan korban jiwa pun telah jatuh berguguran. Dan yang lebih mirisnya lagi, di negeri ini, hampir sebagian besar korbannya adalah para petugas medis. Mulai dari perawat hingga dokter.

Sungguh, mereka yang meninggal tersebab pandemi, adalah pahlawan sejati. Mudah-mudahan jerih payah mereka diterima di sisi Allah. Dicatat sebagai amal saleh. Ammiin yaa mujiibas sa’ilin.

Adapun materi khutbah Idul Fithri yang akan khatib sampaikan pada kesempatan kali ini, adalah “5 Bekal Muslim untuk Menghadapi Krisis.” Mengingat bahwa akhir-akhir ini, bukan hanya Corona yang kita hadapi.

Tapi ada berbagai persoalan hidup lainnya yang muncul sebagai dampak dari virus ini. Misal, dengan ditutupnya tempat-tempat perbelanjaan dan beberapa industri, ratusan ribu karyawan terkena imbasnya. Mereka di-PHK dan sekarang kesulitan mencari pemasukan bulanan.

5 Bekal Muslim untuk Menghadapi Krisis

Maka dari itu, pada hari raya Idul Fithri 1441 H, di tengah situasi yang genting ini, sangatlah penting kiranya bagi kita semua, mengulang kembali beberapa pelajaran berharga di dalam al-Quran dan Sunnah, yang insyaallah bisa kita jadikan bekal untuk menghadapi krisis.

Allahu akbar, Allahu akbar, Allahu akbar

Laa ilaaha illallah huwallahu akbar

Allahu akbaar walillahil hamdu

 Jamaah Shalat Idul Fithri yang Dimuliakan Allah

Pertama: Dahulukan Husnuzhan kepada Allah

Entah sampai kapan badai ini akan surut. Para ahli memang boleh memprediksi, tetapi kepastiannya, hanya Allah yang tahu. Betapapun sangat berat masa-masa sulit yang sekarang menimpa kita semua, bukanlah suatu alasan untuk berkeluh kesah apalagi sampai mengutuk takdir.

Di tengah krisis berkepanjangan ini, sikap seorang yang beriman kepada Allah dan beriman kepada qadha’ dan qadar-Nya, adalah bersabar. Dan ketahuilah bahwa sesungguhnya, kesabaran itu merupakan buah dari rasa husnuzhan billah, berbaik sangak kepada Allah.

Sebuah keyakinan sepenuh hati, bahwa semua urusan yang telah Allah tetapkan, pasti ada hikmahnya. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

عَجَبًا لأَمْرِ الْمُؤْمِنِ إِنَّ أَمْرَهُ كُلَّهُ خَيْرٌ وَلَيْسَ ذَاكَ لأَحَدٍ إِلاَّ لِلْمُؤْمِنِ إِنْ أَصَابَتْهُ سَرَّاءُ شَكَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ وَإِنْ أَصَابَتْهُ ضَرَّاءُ صَبَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ

Sungguh menakjubkan keadaan seorang mukmin. Seluruhnya urusannya itu baik. Ini tidaklah didapati kecuali pada seorang mukmin. Jika mendapatkan kesenangan, maka ia bersyukur. Itu baik baginya. Jika mendapatkan kesusahan, maka ia bersabar. Itu pun baik.” (HR. Muslim No. 2999)

Adapun di antara hikmah yang begitu terasa sejak munculnya Covid-19, adalah semakin tingginya syiar-syiar dan ajaran Islam sebagai agama yang bersih dan suci.

Virus ini juga menyingkap kesesuaian dan kesempurnaan Islam yang memberikan berbagai solusi ketika terjadi wabah. Orang-orang Barat yang sangat anti terhadap Islam, bahkan mengakui bahwa Nabi Muhammad adalah orang yang pertama kali mengajarkan Lockdown.

Pramugari-pramugari pesawat yang biasanya menggunakan pakaian terbuka, mempertontonkan aurat, kini, sejak musim Corona, mereka semua menggunakan pakaian tertutup dari ujung kepala sampai ujung kaki.

Pada akhirnya, semua akan tunduk kepada syariat yang Allah buat. Hanya saja, ada yang tunduk dengan suka rela, dan ada yang tunduk dengan berat hati dan terpaksa. Thau’an an karhan.

Selain itu, di bulan Ramadhan yang sudah berlalu, dengan adanya wabah Corona, aktivitas bukber yang terkadang kurang berfaidah juga berkurang. Budaya konsumtif juga menurun. Kini, masyarakat secara umum, hanya benar-benar membeli apa-apa yang menjadi kebutuhan primer mereka.

Untuk itu, al-Quran mengajarkan kita agar dalam menyikapi hal-hal yang tidak disukai oleh hati, hendaknya kita mendahulukan positive thingking. Bahwa tidak semua yang kita sangka buruk itu hakikatnya benar-benar buruk. Boleh jadi, ada banyak kebaikan dari ketetapan yang kita benci.

وَعَسَىٰ أَنْ تَكْرَهُوا شَيْئًا وَهُوَ خَيْرٌ لَكُمْ وَعَسَىٰ أَنْ تُحِبُّوا شَيْئًا وَهُوَ شَرٌّ لَكُمْ

Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu.” (QS. Al-Baqarah: 216)

لَا تَحْسَبُوهُ شَرًّا لَكُمْ بَلْ هُوَ خَيْرٌ لَكُمْ

Janganlah kamu kira bahwa hal itu buruk bagi kamu bahkan ia adalah baik bagi kamu.” (QS. An-Nur: 11)

Allahu akbar, Allahu akbar, Allahu akbar

Laa ilaaha illallah huwallahu akbar

Allahu akbaar walillahil hamdu

 Jamaah Shalat Idul Fithri yang Dimuliakan Allah

Kedua: Membangun Ketahanan Pangan

Sebuah negara bisa hancur apabila tidak memiliki ketahanan pangan. Sebab, langkanya ketersediaan pangan, dapat menyebabkan munculnya bencana kelaparan yang meluas dan berkepanjangan. Negara itu bisa ditinggalkan penduduknya yang pergi untuk mengungsi.

Kematian massal juga sangat mungkin akan terjadi. Atau, negara itu, akhirnya mengemis bantuan kepada negara lain dengan berbagai konsekuensi yang sangat memberatkan.

Maka dari itu, sebagai bentuk ikhtiyar, agar semua hal buruk ini tidak terjadi, harus ada usaha preventif yang kita lakukan.

Di antara usaha yang paling konkret adalah membangun ketahanan pangan dengan bercocok tanam. Al-Quran menyebutkan usaha ini termasuk salah satu dari sekian pekerjaan halal yang amat diutamakan.

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

وَجَعَلْنَا فِيهَا جَنَّاتٍ مِنْ نَخِيلٍ وَأَعْنَابٍ وَفَجَّرْنَا فِيهَا مِنَ الْعُيُونِ* لِيَأْكُلُوا مِنْ ثَمَرِهِ وَمَا عَمِلَتْهُ أَيْدِيهِمْ أَفَلَا يَشْكُرُونَ

Kami menjadikan (di atas muka bumi ini tempat yang sesuai untuk dibuatladang-ladang kurma dan anggur. Kami pancarkan banyak mata air (di situ). Tujuannya supaya mereka boleh mendapat rezeki daripada hasil tanaman tersebut dan tanam-tanaman lain yang mereka usahakan. Adakah mereka berasa tidak perlu bersyukur?” (QS. Yasin: 34-35)

Bidang pertanian, sama pentingnya dengan bidang perdagangan yang sangat dipuji dalam Islam. Bahkan, ada pepatah Arab yang mengatakan, “Alfallaahu sayyidul bilaadi wa maalikuhu al-haqiiqi,” seorang petani adalah tuan dari sebuah negara dan pemilik wilayah yang sesungguhnya.

Kemudian, surat Al-An’am ayat 141, Allah menjelaskan manfaat buah-buahan yang kaya akan nutrisi.

وَهُوَ الَّذِي أَنْشَأَ جَنَّاتٍ مَعْرُوشَاتٍ وَغَيْرَ مَعْرُوشَاتٍ وَالنَّخْلَ وَالزَّرْعَ مُخْتَلِفًا أُكُلُهُ وَالزَّيْتُونَ وَالرُّمَّانَ مُتَشَابِهًا وَغَيْرَ مُتَشَابِهٍ كُلُوا مِنْ ثَمَرِهِ إِذَا أَثْمَرَ وَآتُوا حَقَّهُ يَوْمَ حَصَادِهِ وَلَا تُسْرِفُوا إِنَّهُ لَا يُحِبُّ الْمُسْرِفِينَ

Dan Dialah yang menjadikan kebun-kebun yang berjunjung dan yang tidak berjunjung, pohon korma, tanam-tanaman yang bermacam-macam buahnya, zaitun dan delima yang serupa (bentuk dan warnanya) dan tidak sama (rasanya). Makanlah dari buahnya (yang bermacam-macam itu) bila dia berbuah, dan tunaikanlah haknya di hari memetik hasilnya (dengan disedekahkan kepada fakir miskin); dan janganlah kamu berlebih-lebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang yang berlebih-lebihan.”

Masih ada banyak ayat di dalam al-Quran yang merespon masalah ketahanan pangan. Di antaranya yang paling penting adalah surat Yusuf ayat 47.

قَالَ تَزْرَعُونَ سَبْعَ سِنِينَ دَأَبًا فَمَا حَصَدْتُمْ فَذَرُوهُ فِي سُنْبُلِهِ إِلَّا قَلِيلًا مِمَّا تَأْكُلُونَ

Supaya kamu bertanam tujuh tahun (lamanya) sebagaimana biasa; maka apa yang kamu tuai hendaklah kamu biarkan dibulirnya kecuali sedikit untuk kamu makan.”

Ayat ini menerangkan bahwa pertanian dan pencadangan makanan adalah aktivitas yang dapat menunjang sumber pangan nabati sehingga ketersediaan pangan terpenuhi.

Selain bercocok tanam, jenis ikhtiyar lainnya yang diajarkan al-Quran dalam hal ketahanan pangan adalah berternak. QS An-Nahl: 5.

Allah subhanahu wata’ala berfirman,

وَالْأَنْعَامَ خَلَقَهَا لَكُمْ فِيهَا دِفْءٌ وَمَنَافِعُ وَمِنْهَا تَأْكُلُونَ

Dan Dia telah menciptakan binatang ternak untuk kamu; padanya ada (buluyang menghangatkan dan berbagai-bagai manfaat, dan sebahagiannya kamu makan.” (QS. An-Nahl: 5)

Secara eksplisit, ayat ini menyebutkan beberapa manfaat dari peternakan. Yaitu, di dalam binatang ternak, terdapat berbagai gizi dan vitamin yang sangat berguna bagi kesetahan tubuh manusia. Di ayat yang lain al-Quran berbicara tentang manfaat binatang ternak sebagai sumber protein.

وَمِنَ الْأَنْعَامِ حَمُولَةً وَفَرْشًا كُلُوا مِمَّا رَزَقَكُمُ اللَّهُ وَلَا تَتَّبِعُوا خُطُوَاتِ الشَّيْطَانِ إِنَّهُ لَكُمْ عَدُوٌّ مُبِينٌ

Dan di antara hewan ternak itu ada yang dijadikan untuk pengangkutan dan ada yang untuk disembelih. Makanlah dari rezeki yang telah diberikan Allah kepadamu, dan janganlah kamu mengikuti langkah-langkah syaitan. Sesungguhnya syaitan itu musuh yang nyata bagimu.” (QS. Al-An’am: 142)

Kemudian, ada tiga hal yang membedakan antara kosep ketahanan pangan dalam Islam dan konsep ketahanan pangan secara umum.

Pertama, dalam Islam, kualitas pangan yang didistribusikan sangat diperhatikan. Allah subhanahu wata’ala berfirman,

يَا أَيُّهَا النَّاسُ كُلُوا مِمَّا فِي الْأَرْضِ حَلَالًا طَيِّبًا وَلَا تَتَّبِعُوا خُطُوَاتِ الشَّيْطَانِ إِنَّهُ لَكُمْ عَدُوٌّ مُبِينٌ

Hai sekalian manusia, makanlah yang halal lagi baik dari apa yang terdapat di bumi, dan janganlah kamu mengikuti langkah-langkah syaitan; karena sesungguhnya syaitan itu adalah musuh yang nyata bagimu.” (QS. Al-Baqarah: 168)

Selanjutnya, pada ayat 267, Allah berfirman tentang jaminan mutu dan kelayakan pangan. Bahwa pangan yang dikonsumsi adalah yang baik, aman, bergizi, sehingga dapat menunjang energi yang dibutuhkan oleh tubuh.

Allah subhanahu wata’ala berfirman,

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا أَنْفِقُوا مِنْ طَيِّبَاتِ مَا كَسَبْتُمْ وَمِمَّا أَخْرَجْنَا لَكُمْ مِنَ الْأَرْضِ وَلَا تَيَمَّمُوا الْخَبِيثَ مِنْهُ تُنْفِقُونَ وَلَسْتُمْ بِآخِذِيهِ إِلَّا أَنْ تُغْمِضُوا فِيهِ وَاعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ غَنِيٌّ حَمِيدٌ

Hai orang-orang yang beriman, nafkahkanlah (di jalan allah) sebagian dari hasil usahamu yang baik-baik dan sebagian dari apa yang Kami keluarkan dari bumi untuk kamu. Dan janganlah kamu memilih yang buruk-buruk lalu kamu menafkahkan daripadanya, padahal kamu sendiri tidak mau mengambilnya melainkan dengan memicingkan mata terhadapnya. Dan ketahuilah, bahwa Allah Maha Kaya lagi Maha Terpuji.” (QS. Al-Baqarah: 267)

Kedua, distribusi pangan yang merata sampai menyentuh lapisan masyarakat paling bawah, delapan golongan yang berhak menerima zakat, adalah prioritas utama, sebagaimana termaktub dalam surat At-Taubah ayat 60.

إِنَّمَا الصَّدَقَاتُ لِلْفُقَرَاءِ وَالْمَسَاكِينِ وَالْعَامِلِينَ عَلَيْهَا وَالْمُؤَلَّفَةِ قُلُوبُهُمْ وَفِي الرِّقَابِ وَالْغَارِمِينَ وَفِي سَبِيلِ اللَّهِ وَابْنِ السَّبِيلِ فَرِيضَةً مِنَ اللَّهِ وَاللَّهُ عَلِيمٌ حَكِيمٌ

Sesungguhnya zakat-zakat itu, hanyalah untuk orang-orang fakir, orang-orang miskin, pengurus-pengurus zakat, para mu’allaf yang dibujuk hatinya, untuk (memerdekakan) budak, orang-orang yang berhutang, untuk jalan Allah dan untuk mereka yuang sedang dalam perjalanan, sebagai suatu ketetapan yang diwajibkan Allah, dan Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.” (QS. At-Taubah: 60)

Ketiga, etika yang mesti dijaga dalam pemanfaatan pangan adalah hendaknya proporsional dan tidak berlebih-lebihan. Hal ini tercantum dalam surat Al-Araf ayat 31.

وَكُلُوا وَاشْرَبُوا وَلَا تُسْرِفُوا إِنَّهُ لَا يُحِبُّ الْمُسْرِفِينَ

Makan dan minumlah, dan janganlah berlebih-lebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebih-lebihan.” (QS. Al-A’raf: 31)

Allahu akbar, Allahu akbar, Allahu akbar

Laa ilaaha illallah huwallahu akbar

Allahu akbaar walillahil hamdu

 Jamaah Shalat Idul Fithri yang Dimuliakan Allah

Ketiga: Meningkatkan Kembali Budaya Ta’awun

Islam mengajarkan pola interaksi yang mengedepankan nilai-nilai luhur. Tujuan utamanya adalah agar terjalinnya hubungan yang harmonis. Ada banyak sekali dalil-dalil baik dalam al-Quran atau Sunnah yang berisi perintah dan himbauan untuk saling tolong-menolong, sebagai bentuk kepedulian terhadap sesama.

Allah subhanahu wata’ala berfirman,

وَتَعَاوَنُوْا عَلَى الْبِرِّ وَالتَّقْوٰى وَلَا تَعَاوَنُوْا عَلَى الْاِثْمِ وَالْعُدْوَانِ وَاتَّقُوا اللّٰهَ اِنَّ اللّٰهَ شَدِيْدُ الْعِقَابِ

Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran. Dan bertakwalah kamu kepada Allah, sesungguhnya Allah amat berat siksa-Nya.” (QS. Al-Maidah: 2)

Ayat ini sangat masyhur dan famliar di tengah-tengah kita. Bahwa ta’awun alal birri wat taqwa, tolong-menolong dalam kebajikan dan ketakwaan, adalah konsep hidup gotong royong yang sangat terpuji dalam Islam. Di ayat yang lainnya, Allah menunjukkan contoh ideal impelementasi sifat saling peduli antara sahabat Muhajirin dan Anshar.

وَالَّذِينَ تَبَوَّءُوا الدَّارَ وَالْإِيمَانَ مِنْ قَبْلِهِمْ يُحِبُّونَ مَنْ هَاجَرَ إِلَيْهِمْ وَلَا يَجِدُونَ فِي صُدُورِهِمْ حَاجَةً مِمَّا أُوتُوا وَيُؤْثِرُونَ عَلَىٰ أَنْفُسِهِمْ وَلَوْ كَانَ بِهِمْ خَصَاصَةٌ وَمَنْ يُوقَ شُحَّ نَفْسِهِ فَأُولَٰئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ

Dan orang-orang yang telah menempati kota Madinah dan telah beriman, yakni kaum Anshar, sebelum kedatangan kaum Muhajirin, mereka, orang-orang Anshar, mencintai orang yang berhijrah kepada mereka. Dan mereka tiada menaruh keinginan dalam hati mereka terhadap apa-apa yang diberikan kepada orang-orang Muhajirin; mereka mengutamakan orang-orang Muhajirin atas diri mereka sendiri, sekalipun mereka dalam kesusahan. Dan siapa yang dipelihara dari kekikiran dirinya, mereka itulah orang orang yang beruntung.” (QS. Al-Hasyr: 9)

Itsar, mengutamakan orang lain yang membutuhkan, adalah pelajaran berharga yang terkandung dalam ayat ini. Persatuan dan persaudaraan para Muhajirin dan Anshar, diabadikan al-Quran sebagai inspirasi bagi umat Islam dalam mewujudkan masyarakat yang hidup rukun berdampingan dan saling bantu-membantu dalam ketaaatan.

Selain itu, di dalam hadit-hadits Nabi, ajaran Islam melatih para pemeluknya untuk senantiasa mengasah kepekaan sosial.

عَنْ أَبِيْ حَمْزَةَ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ خَادِمِ رَسُوْل الله عَنْ النَّبِي قَالَ: لاَ يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتَّى يُحِبَّ لأَخِيْهِ مَا يُحِبُّ لِنَفْسِهِ

Dari Abu Hamzah Anas bin Malik, khadim (pembantu) Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam, dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam, Beliau bersabda, “Tidaklah seseorang dari kalian sempurna imannya, sampai ia mencintai saudaranya sebagaimana ia mencinta dirinya sendiri.” (Muttafaqun ‘Alaihi)

Dalam hadits yang lain, Nabi mengecam keras orang yang tidak peduli dan tidak memerhatikan sesamanya.

لَيْسَ الْمُؤْمِنُ الَّذِيْ يَشْبَعُ وَجَارُهُ جَائْعٌ إِلٰى جَنْبِهِ

“Tidaklah mukmin orang yang kenyang sementara tetangganya lapar sampai ke lambungnya.”

(Hadits ini diriwayatkan oleh Imam al-Bukhari dalam Al-Adab Al-Mufrad (112), Ath-Thabrani dalam Al-Kabir (3/175/1), dan para perawi hadtis lainnya seperti Al-Hakim dan Ibnu Abi Syaibah)

Demikianlah. Hadits ini menceminkan keagungan ajaran Islam yang sangat menekankan masalah kepedulian. Hadits ini menerangkan bahwa seseroang tidak boleh membiarkan tetangganya tersiksa karena kelaparan. Ia harus turut membantu mengatasi masalah itu.

Di samping turut membantu dalam memenuhi kebutuhan pokok lainnya, demikian pula hal kebutuhan sekunder seperti pakaian. Sangat dianjurkan membelikan baju bagus untuk menyenangkan hati orang yang kurang mampu.

Hadits ini juga mengisyaratkan bahwa selain kewajiban berzakat, di dalam harta kita juga terdapat hak orang lain yang harus ditunaikan dengan berinfak. Mengabaikan hak mereka yang membutuhkan uluran tangan kita, artinya berani menanggung risiko yang sangat pedih di akhirat kelak.

Allah Ta’ala berfirman,

وَالَّذِينَ يَكْنِزُونَ الذَّهَبَ وَالْفِضَّةَ وَلا يُنْفِقُونَهَا فِي سَبِيلِ اللَّهِ فَبَشِّرْهُمْ بِعَذَابٍ أَلِيمٍ. يَوْمَ يُحْمَى عَلَيْهَا فِي نَارِ جَهَنَّمَ فَتُكْوَى بِهَا جِبَاهُهُمْ وَجُنُوبُهُمْ وَظُهُورُهُمْ هَذَا مَا كَنَزْتُمْ لأنْفُسِكُمْ فَذُوقُوا مَا كُنْتُمْ تَكْنِزُونَ

Dan orang-orang yang menyimpan emas dan perak dan tidak menafkahkannya pada jalan Allah, maka beritahukanlah kepada mereka, (bahwa mereka akan mendapat) siksa yang pedih, pada hari dipanaskan emas perak itu dalam neraka Jahanam, lalu dibakar dengannya dahi mereka, lambung dan punggung mereka (lalu dikatakankepada mereka: Inilah harta bendamu yang kamu simpan untuk dirimu sendiri, maka rasakanlah sekarang (akibat dari) apa yang kamu simpan itu.’” (QS At-Taubah: 34-35)

 

Budaya ta’awun, selain dapat menghilangkan benih-benih pertikaian dan menguatkan tali persaudaraan, juga sangat efektif untuk membantu terciptanya kesejahteraan yang sangat kita cita-citakan.

Allah sangat mencintai orang-orang yang punya sifat peduli. Ganjaran yang sanga besar, Allah sediakan bagi mereka, sebagaimana tercantum dalam sebuah hadits yang berbunyi…

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِي اللهُ عَنْهُ، عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: مَنْ نَفَّسَ عَنْ مُؤْمِنٍ كُرْبَةً مِنْ كُرَبِ الدُّنْيَا نَفَّسَ اللهُ عَنْهُ كُرْبَةً مِنْ كُرَبِ يَوْمِ الْقِيَامَةِ، وَمَنْ يَسَّرَ عَلَى مُعْسِرٍ يَسَّرَ اللهُ عَلَيْهِ فِي الدُّنْيَا وَالآخِرَةِ، وَمَنْ سَتَرَ مُسْلِماً سَتَرَهُ اللهُ فِي الدُّنْيَا وَالآخِرَةِ وَاللهُ فِي عَوْنِ الْعَبْدِ مَا كاَنَ الْعَبْدُ فِي عَوْنِ أَخِيْهِ… [متفق عليه]

Dari Abu Hurairah radhiallahuanhu, dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: Siapa yang menyelesaikan kesulitan seorang mukmin dari berbagai kesulitan-kesulitan dunia, niscaya Allah akan memudahkan kesulitan-kesulitannya di Hari kiamat. Dan siapa yang memudahkan orang yang sedang kesulitan niscaya akan Allah mudahkan baginya di dunia dan akhirat dan siapa yang menutupi (aibseorang muslim Allah akan tutupi aibnya di dunia dan akhirat. Allah selalu menolong hamba-Nya selama hamba-Nya menolong saudaranya…” (Muttafaqun ‘alaihi)

Jamaah Shalat Idul Fithri yang Dimuliakan Allah

Keempat: Mewaspadai Maraknya Tindak Kriminal di Masa Krisis

Di tengah krisis ekonomi, ketika orang-orang kesulitan mendapatkan mata pencaharian, dan kesenjangan sosial menyebabkan ketimpangan; yang kaya semakin kaya, yang miskin semakin miskin.

Sementara itu, para pejabat pemerintahan sibuk memperkaya diri dengan korupsi, seperti yang terjadi sekarang, maka kondisi yang sangat buruk ini, membuat sebagian orang nekat melakukan aksi kriminal, demi menyambung hidup.

Tidak jarang, para pencuri, perampok dan pembegal, bukan hanya merampas harta orang lain, tapi juga menghabisi nyawa korbannya.

Situasi darurat yang mengancam keamanan masyarakat ini meningatkan kita pada sebuah hadits tentang tanda-tanda akhir zaman.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

Kiamat tidak akan terjadi sehingga banyak harj.”

Para sahabat bertanya: “Apakah harj itu, wahai Rasulullah?”

Beliau bersabda: “Pembunuhan, pembunuhan.” (HR. Muslim)

 

Nubuwah itu benar-benar terjadi. Berita yang ditanyangkan oleh berbagai media terkait maraknya aksi pembegalan, membuat bulu kuduk kita merinding ngeri.

Barangkali yang paling mengerikan adalah ketika ibu-ibu yang sedang hamil dibegal sampai meninggal bersama janinnya. Ini hanya satu contoh kasus. Masih banyak lagi berita lainnya yang tidak kalah mengerikan.

Oleh karena itu, kewaspadaan individu atau pencegahan tindak kriminal bersama warga lainnya, harus ditingkatkan.

Membaca zikir pagi dan sore, di saat-saat seperti menjadi sebuah keharusan jika kita ingin mendapat perlindungan dari Allah Yang Maha Kuasa.

Ayat kursi, tiga surat terakhir; Al-Ikhlas, Al-Falaq, dan An-Naas, sebanyak tiga kali, dan wirid lainnya, adalah benteng terkuat yang akan menjaga seorang muslim dari berbagai bahaya.

Jamaah Shalat Idul Fithri yang Dimuliakan Allah

Kelima: Memperbanyak Zikir dan Doa

Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu berkata,

مَا كُرِبَ نَبِيٌّ مِنَ الْأَنْبِيَاءِ إِلَّا اسْتَغَاثَ بِالتَّسْبِيْحِ

Tidak ada satu nabi pun yang diuji mendapat kesulitan hidup, kecuali memohon pertolongan kepada Allah dengan bertasbih.

Atsar dari sahabat mulia ini menginformasikan kepada kita semua bahwa dalam situasi krisisi, amalan yang sangat dianjurkan adalah memperbanyak tasbih.

Salah satu contoh tasbih dalam al-Quran yang ketika dibaca memberikan dampak yang luar biasa dahsyat adalah tasbih yang diulang-ulang oleh Nabi Yunus ketika ia terjebak di dalam perut ikan Paus yang menelannya.

لَا إِلَٰهَ إِلَّا أَنْتَ سُبْحَانَكَ إِنِّي كُنْتُ مِنَ الظَّالِمِينَ

Tidak ada Ilah selain Engkau. Maha Suci Engkau, sesungguhnya aku adalah termasuk orang-orang yang zalim.” (QS. Al-Anbiya: 87)

Betapa dahsyatnya kekuatan tasbih, sampai-sampai Imam Asy-Syafi’i berkata,

لَمْ أَرَ أَنْفَعْ لِلْوَبَاءِ مِنَ التَّسْبِيْحِ

Tidak ada satu hal pun yang lebih bermanfaat untuk menolak wabah, melebihi tasbih. “

Demikian materi khutbah Idul Fithri tentang 5 Bekal Muslim untuk Menghadapi Krisis yang dapat kami sampaikan pada hari yang sangat bahagia ini. Semoga Allah subhanahu wata’ala memberi pertolongan kepada kita, segera mengangkat musibah dan wabah yang menimpa kita, dan mengentaskan kita dari berbagai krisis, kesulitan, dan keterpurukan.

أَقُوْلُ قَوْلِيْ هذا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ لِيْ وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِيْنَ مِنْ كُلِّ ذَنْبٍ، فَاسْتَغْفِرُوْهُ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ.

 

KHUTBAH KEDUA

اللهُ اَكْبَرْ كَبِيْرًا وَاْلحَمْدُ للهِ كَثِيْرًا وَسُبْحَانَ اللهِ بُكْرَةً وَأَصْيْلاً، لاَ اِلَهَ اِلاَّ اللهُ وَاللهُ اَكْبَرُ، اللهُ اَكْبَرُ وَللهِ اْلحَمْدُ. اْلحَمْدُ للهِ عَلىَ اِحْسَانِهِ وَالشُّكْرُ لَهُ عَلىَ تَوْفِيْقِهِ وَاِمْتِنَانِهِ.

وَاَشْهَدُ اَنْ لاَ اِلَهَ اِلاَّ اللهُ وَاللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ، لَهُ تَعْظِيْمًا لِشَأْنِهِ، وَاَشْهَدُ اَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الدَّاعِى اِلىَ رِضْوَانِهِ

اللهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى اَلِهِ وَاَصْحَابِهِ وَسَلِّمْ تَسْلِيْمًا كِثيْرًا.

اَمَّا بَعْدُ فَياَ اَيُّهَا النَّاسُ اِتَّقُوا اللهَ فِيْمَا اَمَرَ وَانْتَهُوْا عَمَّا نَهَى وَزَجَرَ. وَاعْلَمُوْا اَنَّ اللهّ اَمَرَكُمْ بِاَمْرٍ بَدَأَ فِيْهِ بِنَفْسِهِ وَثَـنَى بِمَلآئِكَتِهِ بِقُدْسِهِ وَقَالَ تَعاَلَى اِنَّ اللهَ وَمَلآئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلىَ النَّبِى يآ اَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا.

اللهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلِّمْ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ وَعَلَى اَنْبِيآئِكَ وَرُسُلِكَ وَمَلآئِكَةِ اْلمُقَرَّبِيْنَ

Di khutbah kedua ini, marilah kita menundukkan kepala, bermunajat kepada Yang Maha Kuasa dan Maha Mendengar semua-semua rintihan hamba-hamba-Nya, untuk kebaikan kita dan umat Islam di mana saja berada.

اللَّهُمَّ اهْدِنَا فِيْمَنْ هَدَيْتَ، وَعَافِنَا فِيْمَنْ عَافَيْتَ، وَتَوَلَّنَا فِيْمَنْ تَوَلَّيْتَ، وَبَارِكْ لَنَا فِيْمَا أَعْطَيْتَ، وَقِنَا شَرَّ مَا قَضَيْتَ، فَإِنَّكَ تَقْضِي وَلَا يُقْضَى عَلَيْكَ، فَإِنَّهُ لاَ يَذِلُّ مَنْ وَالَيْتَ، وَلَا يَعِزُّ مَنْ عَادَيْتَ، تَبَارَكْتَ رَبَّنَا وَتَعَالَيْتَ، نَسْتَغْفِرُكَ وَنَتُوْبُ إِلَيْكَ

اللَّهُمَّ إِنَّا نَسْتَعِيْنُكَ وَنَسْتَهْدِيْكَ وَنَسْتَغْفِرُكَ، وَنُؤْمِنُ بِكَ وَنَتَوَكَّلُ عَلَيْكَ وَنُثْنِي عَلَيْكَ الخَيْرَ كُلَّهُ، نَشْكُرُكَ وَلَا نَكْفُرُكَ، وَنَخْلَعُ وَنَتْرُكُ مَنْ يَفْجُرُكُ، اللّهُمَّ إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَلَكَ نُصَلَّي وَنَسْجُدُ، وَإِلَيْكَ نَسْعَى وَنَحْفِدُ، نَرْجُوْ رَحْمَتَكَ وَنَخْشَى عَذَابَكَ، إِنَّ عَذَابَكَ الجِدَّ بَالكُفَّارِ مُلْحَقٌ

اللَّهُمَّ ادْفَعْ عَنَّا اْلبَلاَءَ وَاْلوَبَاءَ وَالفَحْشَاءَ وَالشَّدَائِدَ وَالفِتَنَ وَالمِحَنَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ عَنْ بَلَدِنَا اِنْدُونِيْسِيَّا خآصَّةً وَسَائِرِ بُلْدَانِ الْمُسْلِمِيْنَ عَامَّةً، يَا رَبَّ العَالَمِيْنَ،

اللَّهُمَّ إِنَّا أَعُوذُ بِكَ مِنَ البَرَصِ، وَالْجُنُونِ، وَالْجُذَامِ، وَمِنْ سَيِّئِ الْأَسْقَامِ

اللَّهُمَّ إِنَّا نَعُوْذُ بِكَ مِنْ جَهْدِ الْبَلَاءِ وَدَرْكِ الشَّقَاءِ وَسُوْءِ الْقَضَاءِ وَشَمَاتَةِ الْأَعْدَاءِ

رَبَّنَا ظَلَمْنَا أَنْفُسَنَا وَإِنْ لَّمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُوْنَنَّ مِنَ الْخَاسِرِيْنَ

رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا وَلإِخْوَانِنَا الَّذِيْنَ سَبَقُوْنَا بِالإِيْمَانِ وَلاَ تَجْعَلْ فِيْ قُلُوْبِنَا غِلاًّ لِلَّذِيْنَ آمَنُوْا رَبَّنـَا إِنَّكَ رَؤُوْفٌ رَحِيْمٌ

رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ

سُبْحَانَ رَبِّكَ رَبِّ الْعِزَّةِ عَمَّا يَصِفُونَ وَسَلَامٌ عَلَى الْمُرْسَلِيْن وَاْلَحْمدُ للهِ رَبِّ العَالَمِيْنَ.

والسلام عليكم ورحمة الله وبركاته

Oleh: Ustadz Muhammad Faishal Fadhli

 

 

banner 468x60

Author: 

Related Posts

Tinggalkan Balasan