banner 468x60

Pandemi Masih Berlangsung, Prediksi Defisit Capai Rp 1.028,5 Triliun

 Ekonomi
banner 468x60
Pandemi Masih Berlangsung, Prediksi Defisit Capai Rp 1.028,5 Triliun

Klaten(arwiranews.com) Defisit Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara Tahun 2020 diperkirakan sebesar Rp 1.028,5 triliun atau 6,27 persen produk domestik bruto. Pelebaran defisit disebabkan oleh penurunan pendapatan dan peningkatan belanja yang lebih tinggi. Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati menyatakan, defisit APBN 2020 diperkirakan lebih tinggi dari yang ditetapkan dalam Perpres No 54/2020. Berdasarkan pemantauan kinerja APBN hingga April 2020, proyeksi defisit akan melebar dari Rp 852,9 triliun menjadi Rp 1.028,5 triliun. Pelebaran defisit disebabkan penurunan pendapatan dan peningkatan belanja yang lebih tinggi.

 

Pendapatan negara akan terkontraksi lebih dalam menjadi negatif 13,6 persen dari sebelumnya 10 persen. Proyeksi penerimaan perpajakan sampai akhir tahun sebesar Rp 1.404,5 triliun atau tumbuh negatif 9,2 persen, sementara penerimaan negara bukan pajak Rp 286,6 triliun atau tumbuh negatif 29,6 persen. Adapun proyeksi belanja negara tahun 2020 meningkat menjadi Rp 2.720,1 triliun. Peningkatan belanja, antara lain, untuk tambahan kompensasi bagi PT Perusahaan Listrik Negara (Persero) dan PT Pertamina (Persero), serta tambahan stimulus fiskal berupa subsidi bunga bagi usaha mikro kecil dan menengah (UMKM), bantuan sosial tunai dan sembako, serta diskon tarif listrik.

 

”Postur APBN 2020 akan berubah dari yang disampaikan dalam Perpres No 54/2020. Pemerintah akan melakukan revisi Perpres dan menyampaikan ke Badan Anggaran serta Komisi XI DPR,” kata Sri Mulyani dalam telekonferensi pers di Jakarta, awal pekan ini. Sri Mulyani mengatakan, pelebaran defisit diperlukan untuk menangani dan mendorong ekonomi agar bisa bertahan menghadapi pandemi Covid-19. Karena itu, pemerintah menganggarkan dana pemulihan ekonomi nasional senilai total Rp 641,17 triliun. Anggaran pemulihan ekonomi ini diharapkan dapat menekan dampak Covid-19 di triwulan II hingga IV-2020. Selain itu, pemerintah juga mengubah indikator asumsi dasar ekonomi makro tahun 2020 secara keseluruhan. Asumsi pertumbuhan ekonomi dipatok 2,3 persen hingga minus 0,4 persen, inflasi 2-4 persen, nilai tukar Rp 14.900-Rp 15.500 per dollar AS, dan harga minyak mentah 30-35 dollar AS per barel.

 

Sementara itu peneliti dari Eko Wiratno Research and Consulting(EWRC), Eko Wiratno mengemukakan untuk mendapat sumber pembiayaan atau hutang internasional juga tidak mudah karena mayoritas negara di dunia juga berlomba untuk mengajukan hutang. “Solusi aman adalah pemangkasan anggaran secara besar-besaran dan belanja harus disisir lagi untuk memperkecil kebutuhan pembiayaan”, ujar Eko Wiratno Rabu(20/05/2020)(Sumber Kompas Cetak 19/05/2020)

 

 

banner 468x60

Author: 

Related Posts

Tinggalkan Balasan